Apa Perbedaan Akad Salam dengan Akad Istishna’?

2
641

BincangSyariah.Com – Seringkali para pelaku bisnis tidak memahami perbedaan antara akad salam dengan akad istishna’, karena memang keduanya berangkat dari problem yang sama, yakni jual beli sesuatu yang belum ada.

Secara definitif, Wahbah al-Zuhaili dalam Al-Mu’amalat al-Maliyah al-Mu’ashirah (j. 1 h. 195) menyatakan bahwa akad salam dapat diartikan sebagai akad jual beli barang yang telah disebutkan spesifikasinya meskipun belum wujud, namun telah disanggupi pengadaannya. Sementara akad istishna’ ialah akad terhadap seorang pembuat atau produsen untuk mengerjakan atau membuat suatu barang yang tertentu yang ditangguhkan.

Dalam sebuah sesi perkuliahan, Sekretaris Komisi Fatwa Dewan Syariah Nasional MUI, Hasanuddin A.F. memberikan penjelasan bahwa dalam akad salam, barang yang dipesan adalah barang mitsli, yang ada padanan atau contoh sebelumnya. Sementara dalam akad istishna’, barang yang dipesan bersifat qiimi, yang belum ada padanan sebelumnya, dan masih berada dalam bentuk gambaran. Contoh paling mudah dipahami untuk jenis barang yang diakadi dengan akad istishna’ ialah pemesanan pembuatan baju pada seorang designer atau perancang busana.

Setelah kita memahami definisi dari kedua akad diatas, dalam kelanjutan penjelasannya, Wahbah al-Zuhaili menyebutkan bahwa kesamaan antara akad salam dengan akad istishna’ ialah hukumnya sama-sama halal dan penerimaan barangnya sama-sama ditangguhkan karena memang belum wujud pada saat akad diberlangsungkan.

Sedangkan perbedaannya ialah dari segi barang, dalam akad salam, barang tidak mesti harus dibuat atau mengalami proses terlebih dahulu sementara pada akad istishna’, barang mesti dibuat terlebih dahulu. Dari segi status akad, akad salam bersifat lazim atau mengikat. Artinya tidak bisa serta merta dibatalkan oleh salah satu pihak. Sementara akad istishna’, menurut Syekh Abu Yusuf, salah satu penguikut Madzhab Hanafi, akadnya tidak mengikat, kecuali jika barang sudah dibuat, maka boleh ada pilihan untuk membatalkan akad.

Baca Juga :  Kondisi Orang Beriman dan Tidak Beriman saat Sakaratul Maut

Berikutnya, dari segi pembayaran, akad salam mensyaratkan adanya ra’sul mal dalam majlis akad, berbeda dengan akad istishna. Dalam akad istishna’, pembayaran boleh diserahkan secara tunai semuanya di awal, dicicil, dihutang, atau dilunasi di akhir akad.

Sebagai contoh penerapan akad salam ialah pemesanan buah mangga Indramayu sebanyak 10 kg untuk acara seminggu ke depan. Barang yang dipesan tentu saja merupakan barang yang ada padanannya (mitsli) dan tidak perlu ada proses pembuatan, hanya proses pengkolektifan belaka. Penyediaan barang bisa dipetik dari kebun dia sendiri atau dari membeli pada pihak ketiga. Pada saat akad tersebut dilakukan, ra’sul mal harus diberikan.

Adapun contoh akad istishna’ ialah saat kita memesan lemari kepada pengrajin lemari sesuai dengan spesifikasi yang kita inginkan. Barangnya perlu dibuatkan terlebih dahulu, dan pembayarannya tidak mesti harus ada ra’sul mal di awal akad.

Hal yang mesti diperhatikan dalam akad salam dan istishna’ ialah karena keduanya merupakan akad jual beli yang penyerahan barangnya ditangguhkan, maka spesifikasi barang harus diperjelas sehingga jika ada ketidaksesuaian, pihak pembeli atau pemesan bisa melakukan khiyar dengan membatalkan, mengembalikan barang, meminta pengembalian dana, atau pertanggungjawaban.

Upaya memperjelas spesifikasi barang pesanan ini sesuai dengan hadits Nabi berikut:

قَدِمَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- الْمَدِينَةَ وَهُمْ يُسْلِفُونَ فِى الثِّمَارِ السَّنَةَ وَالسَّنَتَيْنِ فَقَالَ مَنْ أَسْلَفَ فِى تَمْرٍ فَلْيُسْلِفْ فِى كَيْلٍ مَعْلُومٍ وَوَزْنٍ مَعْلُومٍ إِلَى أَجَلٍ مَعْلُومٍ

Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di kota Madinah, sedangkan penduduk Madinah telah biasa memesan buah kurma dalam tempo waktu dua tahun dan tiga tahun, maka beliau bersabda, ‘Barang siapa yang memesan sesuatu maka hendaknya ia memesan dalam jumlah takaran yang telah diketahui (oleh kedua belah pihak) dan dalam timbangan yang telah diketahui (oleh kedua belah pihak), serta hingga tempo yang telah diketahui (oleh kedua belah pihak) pula.” (HR Bukhari & Muslim)

2 KOMENTAR

  1. Jika saya mempunyai usaha makanan hendak di daftarkan ke gojek /gopay . bagaimana dengan akadnya? Apakah dalam sistem gojek di perbolehkan? Syukron jazakallohukhoiro

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here