Apa Maksud “Allah Memiliki Tangan” ? Kajian Hakikat dan Majas dalam Al-Quran

1
940

BincangSyariah.Com – Di dalam Alquran, terdapat sebuah ayat yang pemahamannya terbilang agak susah, khususnya bagi kita kaum awam. Ayat tersebut tertera dalam QS. Al-Fath: 10, yakni,

إِنَّ ٱلَّذِينَ يُبَايِعُونَكَ إِنَّمَا يُبَايِعُونَ ٱللَّهَ يَدُ ٱللَّهِ فَوْقَ أَيْدِيهِمْ

Innallażīna yubāyi’ụnaka innamā yubāyi’ụnallāh, yadullāhi fauqa aidīhim

“Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah. Yadd Allah di atas tangan mereka.

Pada ayat diatas, terdapat kata yadd Allah. Secara bahasa, yadd dimaknai sebagai “tangan”. Yang musykil, tangan adalah bagian dari anggota tubuh, dimana manusia pun memilikinya, sebagaimana beberapa hewan lainnya. Di sisi lain, Allah, merupakan Dzat Yang Maha Suci yang tidak bisa diserupakan dengan makhluk. Maka apakah kata yadd tersebut layak kita maknai Allah memiliki tangan?

Untuk menjawab persoalan tersebut, itu mengapa dalam ushul fikih ada kajian tentang hakikat dan majas dalam Al-Quran dan Hadis.

Sebagaimana dijelaskan oleh Khudlori Bik, hakikat (arab: al-haqiqah) ialah lafaz yang digunakan untuk menunjukkan makna asalnya. Contohnya, lafaz harimau digunakan untuk menunjukkan makna hewan buas berkaki empat dan bertaring tajam sebagaimana yang sudah kita ketahui bersama. Sementara majas (arab: al-majaaz) ialah lafaz digunakan untuk menunjukkan makna bukan aslinya. Misalkan kata harimau diasosiasikan kepada makna lelaki pemberani, dan lain sebagainya.

Permasalahannya kemudian, apakah di dalam Al-Quran terdapat pemaknaan kata secara  majaz? Ternyata, ulama berbeda pendapat. Sebagian ulama menyatakan bahwa di dalam Al-Quran, banyak terdapat makna majaz. Contohnya ialah pada QS. Asy-Syura [42]: 11, Allah berfirman:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءُ

Laisa ka mitslihi syaiun

“Tidak ada sesuatupun yang menyerupai Allah.”

Jika hendak memaknai ayat diatas secara tekstual, maka maknanya, “tidak ada sesuatupun yang seperti menyerupai Allah.” Alih-alih konsisten dengan makna tekstual, dampaknya justru bisa berbahaya karena menandaskan ada sesuatu yang memiliki keserupaan bagi Allah. Pasalnya huruf kaf bermakna “serupa”, dan kata mitsl pun bermakna serupa. Akan timbul makna akibat pemahaman tekstual “tidak ada sesuatupun yang serupa serupa Allah.” Maka bisa timbul pemaknaan ada yang serupa bagi Allah. Sedangkan tujuan ayat ini turun adalah untuk membersihkan keserupaan pada Allah SWT. Oleh karena itu, ayat ini harus kita maknai secara majas, bukan hakikat.

Baca Juga :  Mengapa Kampus Umum Lebih Rentan Disusupi Radikalisme?

Di sisi lain, ada pula yang berpendapat bahwa tidak ada majas dalam Alquran, semua pemaknaan ayat Alquran harus dikembalikan pada makna hakikatnya. Karenanya memahami Alquran secara majazi berarti memahami atau menafsiri Alquran menggunakan akal (ta’wil bi al-ra’yi), dimana hal tersebut terlarang menurut beberapa ahli Tafsir.

Kembali kepada persoalan “tangan” yang juga disebutkan dalam Surah Al-Fath: 10. Maka terjadi perbedaan pendapat diantara para ulama. Mazhab teologi Asy’ariyyah berpendapat bahwa dalam menafsirkan ayat Alquran, kita harus menjunjung tinggi prinsip pensucian Alquran. Artinya pemahaman kita terhadap Alquran harus bertumpu pada usaha untuk membersihkan Dzat Allah dari sifat-sifat yang tercela. Salah satu diantaranya ialah menisbatkan “tangan” pada Dzat Allah. Sehingga mazhab Asy’ariyyah berupaya mentakwil ayat tersebut, tidak dimaknai secara harfiah sebagai “tangan” namun dimaknai sebagai “kekuasaan”. Kekuasaan Allah diatas kekuasaan mereka.

Sedangkan ulama yang lain tetap bersikukuh bahwa tidak ada majaz dalam Alquran. Diantara yang menganut pemahaman semacam ini ialah Syekh Ibnu Taimiyyah sebagaimana diriwayatkan oleh Syekh Utsaimin dalam kitab beliau, al-Ushul min Ilm al-Ushul. Mereka tetap berkeyakinan bahwa upaya mentakwil ayat-ayat tersebut merupakan bagian dari takwil bi al-ra’yi yang jelas hukumnya ialah haram. Maka kelompok ulama ini tetap memaknai kata yadd diatas sebagai tangan.

Apakah dengan demikian berarti kelompok yang menolak majaz dalam Alquran berarti menisbahkan “tangan” pada Dzat Allah yang berarti bahwa mereka menyerupakan Allah dengan makhluk? Dimana hal tersebut amat sangat diharamkan dalam syariah?.\ Abdul Hakim bin Amir Abdat, seorang da’i salafi-wahabi yang menganut pemahaman Ibn Taimiyyah diatas, dalam bukunya Ar-Risalah, menjelaskan bahwa kata yadd diatas tetap dimaknai sebagai tangan. Namun menurut beliau, “tangan” dalam hal ini ialah “tangan yang Agung” yang berbeda dengan tangan manusia dan diluar pemahaman manusia tentang tangan itu sendiri.

Baca Juga :  Tidak Membaca Takbir Zawaid, Apakah Salat Id Tetap Sah?

Sehingga, sebenarnya perbedaan diatas tetap berada dalam satu muara, yakni sama-sama tidak setuju apabila Allah SWT diserupakan dengan makhluk. Maka bagi anda yang pernah membayangkan Allah memiliki tangan, buang jauh-jauh bayangan tersebut karena Maha Suci Allah dari hal-hal yang menyerupai makhluk.

Demikian, semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bi shawab.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here