Apa Hukumnya Dokter Memvonis Harapan Hidup Seseorang ?

0
21

BincangSyariah.Com – Seringkali kita temui hampir semua dokter di rumah sakit setelah melakukan diagnosa terhadap pasien, ia memvonis harapan hidup seseorang berdasarkan diagnosa kalau sakit sang pasien sudah tidak bisa disembuhkan akibat penyakit yang sudah sangat kronis misalnya. Namun dari perspektif fikih, sebenarnya apa hukumnya dokter memvonis harapan hidup seseorang ?

Dalam khazanah fikih, sebenarnya ada juga kondisi yang mirip dengan kondisi sakit yang sangat parah sehingga membuat dokter (dahulu istilahnya, thobiib = tabib) memvonis sisa hidupnya. Istilah yang digunakan adalah sakit yang dikhawatirkan mati (maradl makhuf). Sebagaimana disebutkan oleh Syekh Sulaiman al-Jamal dalam karya fikihnya, Hasyiyatu al-Jamal ‘ala Syarh al-Manhaj,

قوله لو تبرع في مرض مخوف قيل هو كل ما يستعد بسببه للموت بالإقبال على العمل الصالح

“Segala sesuatu yang menjadi sebab seseorang siap sedia untuk mati.”

Namun, tidak semua sebab itu bisa diketahui oleh dokter. Hanya tanda-tanda zahir saja yang bisa dijangkau olehnya sehingga perkataan dokter tersebut bisa dijadikan pedoman untuk . Hal ini dijelaskan di dalam kitab Mughni al-Muhtaj,

ولو قال الطبيبان هذا المرض سبب ظاهر يتولد منه مخوف فمخوف أو يفضى إلى مخوف نادرا فلا

“Seandainya dua dokter berkata ‘sakit ini menjadi sebab nyata yang akan mengakibatkan seseorang meninggal dunia (makhuf)’ maka perkataan ini dibenarkan. Namun, jika dokter itu berkata “sakit ini mungkin saja akan mengantarkan pada kematian” maka pasien tidak usah khawatir (sebab dianggap belum pasti menjadi penyakit makhuf).”

Lantas, apakah dokter yang bisa dijadikan pedoman itu harus dua orang sebagaimana ungkapan di atas? Syekh Muhammad Nawawi bin Umar al-Jawi mengatakan di dalam kitab Kasyifah al-saja

للمريض أن يعتمد في ذلك قول الطبيب العدل في الرواية ويعمل بمعرفة نفسه حيث كان عالماً بالطب

“Pasien boleh berpedoman terhadap perkataan dokter yang adil dalam periwatannya, dan mengamalkan berdasarkan pengetahuannya bila ia mengetahui sendiri dokter itu (berkompeten).”

Pada intinya, dokter diperbolehkan memvonis harapan hidup seseorang berdasarkan pengetahuan dan pertimbangan medis. Meskipun, bagi dokter hendaknya bijak di dalam mengatakan hal tersebut kepada pasien, supaya tidak menambah beban mental. Wallahu A’lam bil-Shawab

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here