Apa Hukum Orang yang Keceplosan Mengucap Talak?

3
1636

BincangSyariah.Com – Sabqul Lisan yang dalam bahasa Indonesia yaitu salah ucap atau keceplosan. Awalnya ia mau mengucapkan A namun karena lidahnya keseleo yang keluar adalah B, dan ini terjadi bukan disengaja, tanpa niat untuk menyelewengkan kata-kata.

Dalam hubungan rumah tangga kerapkali tidak semulus yang diikhtiarkan manusia, perceraian atau talak kadangan menimpa hubungan suami istri, tentunya kita selalu meminta perlindungan dari perbuatan yang hukumnya mubah namun makruh di sisi Allah Swt tersebut.

Kebanyakan talak terjadi melalui lisan atau perkataan. Redaksi talak kadangan bersifat jelas dan kadangan bersifat kinayah, atau memerlukan penjelasan.

Kata-kata cerai yang bersifat jelas, langsung dapat dipahami, meski dalam kondisi bercanda maka akan tetap jatuh talak. Oleh karena itu kita dilarang bercanda dengan kata-kata cerai.

Namun terdapat permasalahan bagaimana jika sewaktu-waktu seseorang mengucap sesuatu kepada istrinya, awalnya tidak bermaksud mengucapkan kata-kata cerai, namun karena salah ucap akhirnya kata talak atau cerailah yang keluar dari lisannya.

Orang yang Sabqul lisan dijelaskan dalam kitab Muhadharat fî al-Ahwâl asy-Syakhsiyyah yang disusun oleh Prof. Dr. Faraj Ali as-Sayyid ‘Anbar,

هو الذي يريد التلفظ بكلمة فيسبق لسانه إلى الطلاق ولم يقصد التلفظ بها كأن يقول لزوجته: يا طاهر أو يا طالبة، فإذا به يقول لها خطأ: يا طالق وهو غير الهازل، لأنّ الهازل قاصد للفظ الطلاق إلا أنه غير قاصد للفرقة

Yaitu orang yang hendak melafalkan suatu kata, lalu lisannya terpleset ke lafaz talak, sedang ia tidak bermaksud melafazkannya. Misalnya ia bermaksud berkata kepada istrinya, “Yâ Thâhir” (hai orang yang suci) atau “Yâ Thâlibah” (hai orang yang dipinta), mendadak ia mengucapkan kata yang salah, “Yâ Thâliq” (hai orang yang ditalak) sedang ketika mengucapkannya ia tidak sedang bersenda gurau, sebab orang yang senda gurau mengucap lafaz cerai dengan niat, hanya saja tanpa bermaksud untuk pisah. (Prof. Dr. Faraj Ali as-Sayyid ‘Anbar, Muhadharat fî al-Ahwâl asy-Syakhsiyyah, Jâmi’ah al-Azhar, 1438 H/ 2008 M, hal 174)

Baca Juga :  Terkait Viral Wanita Bawa Anjing Masuk Masjid, Bagaimana Hukumnya?

Dalam penjelasan diatas, dapat dibedakan antara orang yang salah ucap dengan orang yang bercanda mengucapkan talak. Perbedaannya dari segi niatnya. Lantas bagaimana pendapat ulama mengenai hukum ucapan talak yang demikian? Prof. Dr. Faraj Ali as-Sayyid ‘Anbar menyebutkan,

وقد اختلف العلماء في حكم طلاق المخطئ: فذهب جمهور الفقهاء إلى عدم وقوع طلاق المخطئ قضاء وديانة إذا ثبت خطؤه بقرائن الأحوال، فإذا لم يثبت خطؤه وقع الطلاق قضاء ولم يقع ديانة

Ulama berbeda pendapat dalam hukum talak orang yang salah ucap. Jumhur Ulama berpendapat tidak jatuhnya hukum talak orang yang salah ucap, secara keputusan qadhi maupun agama apabila kesalahan ucapannya terbukti dari situasi dan kondisi terkait, maka apabila tidak terbukti, jatuhlah talak secara keputusan qadhi dan tidak jatuh talak secara hukum agama. (Prof. Dr. Faraj Ali as-Sayyid ‘Anbar, Muhadharat fî al-Ahwâl asy-Syakhsiyyah, Jâmi’ah al-Azhar, 1438 H/ 2008 M, hal 174)

Dari penjelasan diatas, kita harus mengetahui terlebih dahulu, bahwa qadhi itu menghukumkan dan menetapkan sesuatu berdasarkan zahirnya saja, tidak menelisik lebih jauh kepada konteks yang melatarbelakangi kasus tersebut. Sebagaimana aforisme yang sering kita dengar, nahnu nahkumu bidzzowâhir wallahu yahkumu bis sarâir (kami menetapkan perkara lahiriyyah, sedang Allah menghukumi perkara batin). Wallahu a’lam

3 KOMENTAR

  1. Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh
    Kalau menurut imam hanafi berlaku secara keputusan qodhi tapi tidak berlaku keputusan agama maksudnya apa ya ?
    Apakah ketika kasus tersebut dibawa ke pengadilan saja, sedangkan kalau tidak berlaku keputusan agama
    Apakah begitu pengertiannya ustad ?

    Wassalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh

  2. Assalamu’alaikum
    Pak ustad menurut imam hanafi talak salah ucap berlaku secara qadhi tapi tidak berlaku secara agama, maksudnya apa ya ?
    Apa ketika di ajukan ke pengadilan maka berlaku keputusan hakim ?
    Dan kalau tidak diajukan berlaku hukum agama ?
    Apa begitu ustadz
    Wa’alaikumsalam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here