Antara Takdir dan Ikhtiar

0
883

BincangSyariah.ComJika kita ditakdirkan fakir oleh Allah, apakah kita wajib menerimanya bulat-bulat tanpa boleh mengajukan permohonan (ikhtiar)?

Pertanyaan Rahayu, Jakarta

Jawaban:

Bapak/ibu/saudara, Islam adalah agama yang mengajarkan dan menganjurkan umatnya untuk selalu progresif dalam segala hal yang baik, tanpa terkecuali dalam masalah ekonomi.

Hal ini juga bisa kita lihat dengan adanya Hadis yang secara tegas Rasulullah Saw. mengizinkan umatnya untuk iri dalam dua hal. Iri kepada orang berilmu yang mengamalkan ilmunya, dan iri kepada orang yang memiliki kelebihan harta dan dia mendistribusikan hartanya di jalan Allah.

Kalau iri kepada orang yang punya banyak harta dan menyalurkan hartanya di jalan Allah saja boleh, tentunya menjadi orang yang punya banyak harta dan menyalurkannya di jalan yang baik juga sudah barang tentu boleh, bahkan mulia.

Mengenai ikhtiar, Allah Swt. telah memotivasi kita untuk senantiasa berusaha jika ingin mengubah keadaan. Sebagaimana firman-Nya dalam Alquran:

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

“Sesungguhnya Allah tidak mengubah Keadaan (nasib) sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan (perilaku) yang ada pada diri mereka sendiri” (QS. al-Ra’d: 11)

Saking pentingnya ikhtiar, sampai-sampai Rasulullah Saw menyindir umatnya agar senantiasa mencari penghidupan sekecil apa pun dibandingkan meminta. Dalam hadis riwayat Abu Hurairah Ra, Rasulullah Saw bersabda:

لَأَنْ يَحْتَطِبَ أَحَدُكُمْ حُزْمَةً عَلَى ظَهْرِهِ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَسْأَلَ أَحَدًا فَيُعْطِيَهُ أَوْ يَمْنَعَهُ

“Sungguh, seorang dari kalian yang memanggul kayu bakar dan dibawa dengan punggungnya lebih baik baginya daripada dia meminta kepada orang lain, baik orang lain itu memberinya atau menolaknya” (HR. Bukhari)

Menjalankan ikhtiar bagi seorang Muslim adalah ibadah. Sebaliknya, meniadakan ikhtiar sama halnya dengan meniadakan syariat yang notabenenya adalah sunnatullah. Ikhtiar sendiri setidaknya terbagi menjadi dua bagian, yakni ikhtiar lahir dan ikhtiar batin.

Baca Juga :  Salat yang Bukan Salat

Ikhtiar lahir adalah ikhtiar dengan melalui usaha-usaha secara fisik semisal bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup, sementara ikhtiar batin secara garis besar terbagi menjadi dua bagian, yaitu berdoa dan tawakal.

Ketiga unsur (ikhtiar, doa dan tawakal) ini merupakan satu kesatuan yang seyogianya tidak dipisahkan antara satu dengan yang lainnya.

Mengenai berdoa yang isinya adalah permohonan, Islam tidak hanya mengizinkan atau memperbolehkannya, namun secara tegas Alquran menganjurkan kita untuk memanjatkan doa.

Sebagaimana firman-Nya:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ

“Dan berfirman Tuhanmu “Memohonlah (mendoalah) kepada-Ku, Aku pasti perkenankan permohonan (doa) mu itu” (QS. Ghafir:60)

Dalam ayat lain Allah juga berfirman :

وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا

“Dan Allah mempunyai nama-nama yang indah, maka berdoalah dengan nama-nama itu” (QS. al- A’raf: 180)

قُلِ ادْعُوا اللَّهَ أَوِ ادْعُوا الرَّحْمَنَ

“Katakanlah olehmu hai Muhammad: berdoalah (pujilah) akan Allah atau berdoalah (pujilah), akan Ar-Rahmân (Maha penyayang)” (QS. al-Isra:110)

Dan masih banyak lagi ayat yang menganjurkan kita untuk senantiasa memohon kepada Allah Swt. Seiring dengan itu, Rasulullah Saw juga memotivasi kita untuk senantiasa berdoa kepada Allah melalui beberapa sabda beliau. Antara lain:

الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ

“Do’a itu adalah ibadah” (HR. Abu Dawud)

مَا عَلَى الْأَرْضِ مُسْلِمٌ يَدْعُو اللَّهَ بِدَعْوَةٍ إِلَّا  آتَاهُ اللَّهُ إِيَّاهَا أَوْ صَرَفَ عَنْهُ مِنْ السُّوءِ مِثْلَهَا مَا لَمْ يَدْعُ بِإِثْمٍ أَوْ قَطِيعَةِ رَحِمٍ فَقَالَ رَجُلٌ مِنْ الْقَوْمِ إِذًا نُكْثِرُ قَالَ اللَّهُ أَكْثَرُ

“Tiap Muslim di muka bumi yang memohonkan suatu permohonan kepada Allah, pastilah permohonannya itu dikabulkan Allah, atau dijauhkan Allah daripadanya sesuatu kejahatan, selama ia mendoakan sesuatu yang tidak membawa kepada dosa atau memutuskan kasih sayang” (HR. al-Tirmidzi)

Baca Juga :  Defia Rosminar, Sang "Qurrata A'yun" Peraih Medali Emas Taekwondo

Dari keterangan di atas, jelaslah Allah Swt dan Rasul-Nya memotivasi kita sebagai manusia untuk selalu memanjatkan permohonan kepada-Nya untuk kebaikan kita.

Di dalam Islam memang dikenal konsep qonaah yang diartikan sebagai ridha dengan pemberian Tuhan meskipun sedikit. Namun konsep ini tidak berarti bahwa kita harus berpangku tangan tanpa melakukan progres apapun untuk perbaikan kehidupan kita.

Selama kepemilikan harta di dunia ini didistribusikan untuk kebaikan, maka tidak ada larangan sedikit pun untuk seseorang agar dirinya memiliki kelebihan harta. Karena kelebihan tersebut bisa dijadikan salah satu wasilah (perantara) untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah Swt. dengan cara membantu sesama yang membutuhkan, membangun fasilitas-fasilitas ibadah, dan banyak hal positif lain yang dapat dilakukan oleh orang yang memiliki kelebihan material.

Wallahu A’lam.

Artikel tanya jawab ini pernah dipublikasikan di Majalah Nabawi. Jawaban ini merupakan jawaban dari almarhum Prof. K.H. Ali Mustafa Yaqub

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.