Antara Hak Allah dan Hak Makhluk, Mana yang Harus Didahulukan?

0
1733

BincangSyariah.Com – Pembaca yang dimuliakan Allah, sebagaimana kita tahu, bahwa syariat membagi hak menjadi dua macam, yakni hak Allah dan hak makhluk. Hak Allah biasanya terkait dengan peribadatan dan ketakwaan serta sanksi yang telah ditetapkan seperti keimanan, berbagai macam hadd, dan lainnya.

Sementara, hak makhluk khususnya manusia ialah hak yang terkait dengan kemaslahatan kehidupan antarsesama makhluk seperti hak kepemilikan, hak waris, dan lain sebagainya. Menarik untuk dibahas, apabila terjadi pertentangan, mana dulu yang lebih didahulukan, hak Allah atau hak makhluk?

Dilihat dari karakternya, hak Allah tidak bisa digagalkan atau dibatalkan oleh makhluk, dan hanya bisa digagalkan oleh oleh Allah. Sebaliknya, hak makhluk bisa dibatalkan dengan jalan perdamaian, perelaan, dan penggantian. Seperti misalkan seseorang yang punya piutang kepada orang lain, ia berhak merelakan piutang tersebut tidak perlu dilunasi jika memang ia menghendaki.

Antara kedua hak ini, apabila terjadi pertentangan, manakah yang lebih didahulukan? Imam al-Qarafi menyebutkan bahwa para ulama berselisih pendapat tentang hal tersebut:

اختلف العلماء عند تعارض حق الله وحق المخلوق: فمنهم من يقول: حق الله يقدم؛ لأن حق العبد يقبل الإسقاط بالمحاللة والمسامحة دون حق الله تعالى. ومنهم من يقول: حق العبد مقدم بدليل ترك الطهارات والعبادات إذا عارضها ضرر العبد .

Artinya: “Ulama berselisih pendapat mengenai perihal ketika antara hak Allah dan hak makhluk saling bertentangan. Sebagian ulama berpendapat bahwa hak Allah mesti didahulukan, karena hak hamba bisa menerima pembatalan dengan jalan saling menghalalkan atau saling memberikan kemurahan, beda dengan hak Allah Swt. Sebagian lagi ulama berpendapat bahwa hak hamba lebih didahulukan dengan dalil bahwasanya meninggalkan bersuci dan beribadah bisa diperbolehkan ketika hadir sesuatu yang membahayakan seorang hamba.”

Baca Juga :  Malaikat al-Hafazhah dalam Alquran

Pemaparan Imam al-Qarafi di atas memberikan kebabasan bagi kita bahwa jika terjadi pertentangan manakah yang lebih didahulukan, apakah hak Allah atau hak makhluk, kita bisa memilih pendapat yang lebih mendahulukan hak Allah mengingat bahwa jika kita berselisih mengenai hak dengan sesama manusia, kita bisa menggugurkannya dengan jalan saling berdamai atau saling menghalalkan, beda dengan hak Allah.

Kita pun bisa mengikuti pendapat yang menyatakan bahwa hak makhluk lebih didahulukan dengan argumen bahwa pada beberapa kondisi, hak Allah bisa menjadi gugur apabila terkait dengan kemaslahatan manusia yang khawatir akan sebuah bahaya.

Sebagai perbandingan terhadap pemilahan yang dilakukan oleh Imam al-Qarafi di atas, kita bisa menyimak salah satu kaidah fikih yang berbunyi:

إذا اجتمع حق الله وحق العبد قُدم حق العبد في غير العبادات المقدمة

Artinya: “Apabila berkumpul antara hak Allah dan hak hamba, maka hak hamba lebih didahulukan untuk selain ibadah yang didahulukan”.

Dari kaidah ini bisa kita ambil kesimpulan bahwa untuk persoalan ibadah yang mesti didahulukan, maka kita menangkan hak Allah, sementara untuk kondisi lainnya, kita menangkan hak hamba (makhluk).

Sebagai contoh, ketika kita salat berjamaah di masjid, kita melihat di saf depan ada ruang yang kosong, maka timbul permasalahan, apakah kita akan maju untuk mengisi ruang kosong tersebut (hak Allah), ataukah kita akan mengalah karena apabila kita maju berarti melangkahi orang lain, dan itu tidak sopan (hak makhluk). Jawaban dari persoalan ini ialah kita boleh melangkahi orang lain untuk mengisi ruang kosong di saf depan.

Contoh lain yang berkebalikan ialah ketika ada seorang mayit yang hanya meninggalkan sedikit harta sementara dia masih memiliki hutang, maka apa yang didahulukan? Mengkafaninya secara sempurna (hak Allah) atau membayar hutang (hak makhluk). Jawabannya adalah cukup mengkafani mayit tersebut sebatas aurat, dan selesaikan hutangnya. Kecuali apabila pihak penghutang merelakan. Demikian, semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bi shawab.

 



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here