Antara Fitrah Manusia dan Jebakan-jebakan Iblis

0
1403

BincangSyariah.Com – Rasyid Ridha dalam tafsirnya yang terkenal, tafsir Al Manar, mengulas dengan sangat menarik kondisi fitrah manusia berangkat dari tafsirannya terhadap potongan ayat terakhir dari surat Al Baqarah; laha ma kasabat wa alaiha ma iktasabat, ‘ganjaran dari perbuatan baik yang telah dilakukannya [di dunia] dan balasan perbuatan buruk yang telah dilakukannya [di dunia].’ Dalam potongan ayat ini, ada dua kata kerja Arab aktif kasabat dan iktasabat yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi ‘telah dilakukannya’.

Melalui keterangan dalam ayat ini, Ridha mengulas lebih jauh bahwa dua kata kerja ini meski dari akar kata yang sama namun memiliki arti yang berbeda secara signifikan. Kata kerja kasabat, masih menurut Ridha, mengandung arti bahwa sebuah pekerjaan dilakukan dengan mudah dan tanpa hambatan sama sekali. Sementara itu, kata iktasabat mengandung arti bahwa sebuah pekerjaan dilakukan dengan susah dan teramat sulit. Melakukan perbuatan iktasabat ini harus dengan susah payah dan penuh dengan rintangan (bi-budzli al-juhdi wa al-wus’i).

Dengan kata-kata lain, dalam bahasa Indonesia, potongan ayat ini kira-kira dapat diterjemahkan demikian: ganjaran dari perbuatan baik yang telah dilakukannya  dengan mudah [di dunia] dan balasan untuk perbuatan buruk yang telah dilakukannya dengan susah payah [di dunia]. Menurut Rasyid Ridha, ayat ini berbicara tentang kondisi dasar manusia sebenarnya sangat mudah untuk melakukan kebaikan dan justru sebaliknya, teramat sulit untuk melakukan kejahatan. Manusia amat mudah melaksanakan perintah Allah dan teramat sulit untuk menuruti hawa nafsunya. Tetapi pertanyaannya, kenapa saat ini kondisinya terbalik, manusia amat mudah menuruti hawa nafsunya dan amat sulit untuk melakukan kebaikan-kebaikan?

Dikisahkan dari Alquran bahwa ketika dikeluarkan dari surga, iblis meminta kepada Allah agar dapat menggoda anak cucu Adam menjadi temannya di neraka kelak. Iblis berkata, “Aku sungguh-sungguh akan mendatangi (menggoda) mereka dari arah depan dan arah belakang mereka, arah kiri dan arah kanan mereka. Dan sungguh mereka tidak akan menjadi hamba-Mu yang bersyukur ”(QS 7:17). Redaksi ayat ini menggunakan nun taukid yang dalam bahasa Arab sering digunakan untuk mempertegas suatu pekerjaan, mempertegas bahwa suatu strategi akan dilakukan secara sungguh-sungguh tanpa main-main. Inilah keinganan iblis untuk menggoda manusia.

Al-Kattani menafsirkan bahwa ayat ini berbicara mengenai tahapan strategi iblis dalam menyesatkan manusia. Iblis menjebak manusia secara bertahap. Dimulai dari tawaran yang paling kasar dan sulit hingga ke tahapan yang paling halus dan mudah. Namun, justru di jebakan yang paling halus dan mudah inilah manusia banyak yang terperangkap.

Menurut al-Kattani “arah depan” ialah jebakan menyekutukan Allah dan  melakukan dosa-dosa besar. Ini adalah tawaran yang paling sulit untuk dituruti manusia. Pada tahapan ini, Iblis menawarkan kekufuran, mengajak orang untuk menolak agama, keberadaan Tuhan, risalah para rasul dan kebenaran kitab suci.

Ketika gagal,  godaan dari “arah belakang” pun disodorkan iblis, yaitu jebakan melakukan dosa-dosa kecil, lebih mudah untuk diikuti dari tawaran sebelumnya. Iblis merayu manusia bahwa berbuat dosa itu manusiawi dan lagi pula, kata dia, Allah itu Maha Pengampun dan Maha Penyayang. Karena itu, masih ada kompensasi bertobat. Untuk orang-orang yang rawan godaan iblis ini, Nabi SAW mewanti-wanti: “Jangan meremehkan dosa kecil, karena dosa-dosa kecil akan menjadi besar bila orang menghimpunnya.” Dalam suatu riwayat, Ali bin Abi Thalib berkata, “Dosa paling besar adalah dosa yang dianggap kecil oleh pelakunya.”

Jika gagal merayu manusia dari arah depan dan arah belakang, iblis mendisain godaan ketiga, jebakan dari “arah kanan”. Arah kanan, masih menurut al-Kattani, ialah tawaran untuk melakukan hal-hal yang mubah namun dapat melalaikan yang wajib. Olah raga pagi mubah namun jika dapat melalaikan kita dari masuk kantor tepat waktu, kita terjebak pada godaan ketiga iblis ini.

Jebakan yang terakhir datang dari arah kiri, ini tawaran yang paling halus. Iblis menawarkan kita dengan ibadah-ibadah yang utama, tetapi melalaikan kita dari hal-hal yang lebih utama. Berzikir itu utama. Bila kita sibuk berzikir, membersihkan diri atau tafakur di sudut rumah kita, lalu kita mengabaikan masalah-masalah sosial, maka kita melupakan hal yang lebih utama. Ketika kita meributkan perbedaan kecil dalam ibadah dan melupakan kualitas ekonomi kita, kita telah terjebak pada jebakan yang datang dari arah kiri ini. Jebakan-jebakan iblis inilah yang menjerumuskan umat manusia kepada kecenderungan memperturut hawa nafsunya.

Diriwayatkan ketika iblis mengatakan ucapannya tersebut, para malaikat menjadi kasihan kepada manusia, lalu mereka berkata: “Ya Allah, bagaimana mungkin manusia dapat terhindar dari jebakan iblis?” Allah menjawab masih tersisa dua arah: atas dan bawah, “jika manusia mengangkat kedua tangannnya dalam doa dengan penuh rendah hati atau bersujud dengan dahinya di atas tanah dengan penuh kekhusyukan, Aku akan mengampuni dosa-dosa mereka.” (HR Thabrani). Dengan kata-kata lain, hanya bertobatlah satu-satunya cara untuk kembali ke dalam kondisi fitrah manusia yang suci.

Allahu A’lam.

100%

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here