Anjuran Nabi untuk Tidak Mengganggu Tetangga

0
110

BincangSyariah.Com – Nabi Muhammad dikenal dengan sosok penuh cinta. Bagaimana tidak, berkali-kali beliau terekam jelas senantiasa menumbuhkan benih-benih cinta di antara manusia. Tidak hanya pada keluarga, pada tetangga pun kita  juga perlu menanam benih cinta. Banyak panduan Islam menggambarkan bagaimana sesorang muslim harus berbuat daan menjalin hubungan bak dengan tetangganya.

Dalam buku Manajemen Cinta Sang Nabi disebutkan bahwa begitu tinggi kedudukan tetangga di hadapan Nabi Muhammad, sehingga beliau senantiasa menjaga dan memberikan hak-hak untuk para tetangga. Lebih jauh lagi, mereka sudah dianggap seperti sandara terdekatnya. Dengan begitu, tak heran jika para tetangganya diperlakukan dengan kasih sayang. Dalam Riwayat Bukhari, Rasulullah saw. bersabda:

وَاللَّه لَا يُؤْمِنُ وَاللَّهِ لَا يُؤْمِنُ وَاللَّهِ لَا يُؤْمِنُ قِيلَ وَمَنْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الَّذِي لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَايِقَهُ

Demi Allah, tidak (sempurna) imannya. Demi Allah, tidak (sempurna) imannya. Demi Allah, tidak (sempurna) imannya.” Sahabat bertanya, “Siapa wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Yang tetangganya tidak aman dari kezalimannya.” (HR.Bukhari 6016)

Mungkin Sebagian dari kita ada yang diserang rasa penasaran, mengapa Rasulullah menyatakan sebuah pernyataan di atas hinga tiga kali? Belum ada jawaban yang pasti, namun yang bisa kita lihat bersama adalah Rasulullah mengajak kita untuk senantiasa berbuat baik dan menghormatinya, bukan sebaliknya. Dengan demikian, suasana kekeluargaan akan tercipta dengan indahnya. Bukan suasana yang tidak nyaman dan tidak aman.

Dalam kitab Huquq al-Jar, al-Hafidh Abu Abdullah Muhammad bin Ahmad bin Ahmad bin Utsman adz-Dzahabi atau masyhur disapa adz-Dzhabi, hendak menekankan tentang larangan berbuat jelek terhadap tetangga. Jangan sampai kita membuatnya muntah, prasangka buruk, atau bahkan merasa tidak nyaman dan terganggu dengan keberadaan kita. Senada dengan pernyataan Rasulullah yang telah disebutkan di atas.

Baca Juga :  Lima Macam Hukum Talak

Sayyidah Aisyah juga pernah mendengar Nabi Muhammad menceritakan mengenai Jibril yang tak henti-hentinya berwasiat kepadanya tentang tetangga. Beliau berlaku baik terhadap tetangganya dengan menyampaikan salam, bertegur sapa, serta menanyakan kabar mereka.

Dengan perantara salam, benih cinta akan hadir di antara banyak orang, bisa mencairkan kekakuan dan juga bisa menghapus jejak prasangka buruk yang mungkin sebelumnya telah ada dalam hati.

Tidak hanya dengan salam, Rasulullah juga mencontohkan cara memuliakan dan berbuat baik kepada tetangga. Yang demikian tentu merupakan syiar Islam yang terselip dalam sikapnya yang diliputi cinta.  Tak heran jika Nabi Muhammad menyebut seseorang dengan sebutan tidak sempurna iman seseorang jika tetangganya masih belum merasa aman dengan sikap yang diperbuat. Dengan kata lain, seseorang tersebut belum bisa menekuni apa yang telah diajarkan dan dicontohkan langsung oleh Nabi Muhammad.

Dalam kesempatan lain, melalui hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari Muslim,  dari Abu Hurairah disebutkan bahwa Nabi Muahmmad bersabda:

 وَمَنْ كَانَ يُؤمِنُ بِاللهِ وَاْليَومِ الآخِرِ فَلاَ يُؤْذِ جَارَهُ،

Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah menyakiti tetangganya” (HR. Bukhari Muslim)

Yang menjadi titik berat pada tulisan ini adalah senantiasa menjaga kenyamanan antar tetangga itu adalah ajaran Nabi Muhammad. Sebisa mungkin kita menimalisir kegaduhan dan sikap yang bisa mengganggu dan membuatnya tidak nyaman. Karena jika tidak, masuk dalam kategori orang belum sempurna imannya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here