Aneka Definisi Maslahat (Mashlahah) Menurut Ulama

0
156

BincangSyariah.Com – Istilah maslahat (mashlahah)begitu lekat dan kerap dibahas bersamaan dengan maqashid syari’ah. Sebab, mashlahah termasuk faktor esensial dalam proses istinbat (penetapan hukum Islam). Aspek mashlahah dalam setiap hukum Islam tidak boleh tidak diperhatikan. Seperti yang telah dikatakan oleh al-Syathibi di dalam kitab al-Muwafaqat; siapa saja yang memutuskan hukum Islam yang tidak sesuai dengan tujuannya (maqashid syari’ah), maka dia telah menyalahi syariat itu sendiri.

Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam kitabnya, I’lam al-Muwaqqi’in ‘an Rabb al-‘Alamin, juga berpendapat bahwa fondasi dan dasar syariat/hukum Islam adalah hikmah dan mashlahah bagi hamba-Nya, entah itu mashlahah di dunia maupun di akhirat. Sehingga, terdapat hubungan timbal balik yang kuat antara hukum Islam dengan mashlahah. Karena itu, penting bagi kita umat Islam untuk memahami mashlahah. Sekurang-kurangnya kita mafhum akan definisinya, baik secara etimologis (bahasa) maupun terminologis (istilah).

Adapun jika ditinjau dari aspek kebahasaan, mashlahah dapat kita pahami sebagai segala sesuatu yang bermanfaat bagi diri kita sendiri ataupun orang lain. Pengertian mashlahah secara etimologis ini disampaikan oleh Ahmad al-Zawi dalam Tartib al-Qamus al-Muhit ‘ala Thariqah al-Mishbah al-Munir wa Asas al-Balaghah.

Sementara itu, di kalangan ulama yang pakar di bidang usul fikih, ada banyak ragam definisi mashlahah. Berikut ini akan mengemukakan definisi terminologisnya menurut Imam al-Ghazali, Sa’id Ramadhan al-Buthi, al-Khawarizmi, Najmuddin al-Thufi al-Hanbali, Ibnu ‘Asyur, dan Musthafa Sanu.

Abu Hamid al-Ghazali

Sebagaimana termaktub dalam al-Mustashfa min ‘Ilm al-Ushul, al-Ghazali memahami mashlahah sebagai segala bentuk upaya yang dilakukan dalam rangka memelihara tujuan-tujuan syariat. Adapun tujuan-tujuan syariat yang dimaksud ada lima hal, meliputi: (1) hifzh al-din atau memelihara agama, (2) hifzh al-nafs atau memelihara jiwa, (3) hifzh al-‘aql atau memelihara akal, (4) hifzh al-nasl atau memelihara keturunan, dan (5) hifzh al-mal atau memelihara harta benda.

Sedangkan kebalikan dari mashlahah berarti mafsadah, yakni segala apa yang dapat menggugurkan kelima tujuan syariat tadi. Dari itu, tindakan menghalau mafsadah juga dapat dikatakan sebagai sebuah mashlahah. Begitulah interpretasi Imam al-Ghazali terhadap mashlahah.

Sa’id Ramadhan al-Buthi (Ulama Besar Suriah)

Menurut Syekh Sa’id Ramadhan al-Buthi, mashlahah merupakan manfaat yang hendak diwujudkan oleh syariat kepada umat manusia dalam bentuk proteksi terhadap agama (hifzh al-din), kewarasan akal (hifzh al-‘aql), keberlangsungan hidup (hifzh al-nafs), beranak pinak (hifzh al-nasl), dan aset kekayaan (hifzh al-mal). Proteksi ini dilakukan sesuai dengan jenjang tingkatan kelima hal tersebut. Pendapat Syekh al-Buthi ini dapat ditelaah lebih lanjut dalam kitabnya yang berjudul Dhawabith al-Mashlahah.

al-Khawarizmi dan Najmuddin al-Thufi

Musthafa Syalabi dalam Ta’lil al-Ahkam menguraikan definisi mashlahah dalam pandangan al-Khawarizmi dan Najmuddin al-Thufi al-Hanbali. Adapun definisi mashlahah menurut al-Khawarizmi adalah menjaga maksud syariat dengan menjauhkan mafsadah dari makhluk. Sementara itu, al-Thufi berpandangan bahwa mashlahah adalah sebab yang menghantarkan ketercapaian maksud syariat, baik sebab itu berbentuk ibadah ataupun berupa tradisi di tengah-tengah masyarakat.

Thahir bin ‘Asyur (Pakar Maqashid as-Syari’ah Abad ke-20 Tunisia)

Di dalam kitab ‘Unwan al-Ta’rif, Thahir bin ‘Asyur merumuskan definisi mashlahah dengan mengutip pendapat al-Syathibi. Bahwa mashlahah merupakan suatu perbuatan yang berdampak baik terhadap masyarakat secara umum atau individu-individu secara khusus, dan perbuatan itu sesuai dengan hati nurani.

Musthafa Sanu

Terakhir, definisi mashlahah yang terdapat dalam Mu’jam Mushthalahat Ushul Fiqh (Ensiklopedia Usul Fikih) karya Mushthafa Sanu. Adalah menjaga maksud syariat (yang mencakup hifzh al-din, hifzh al-nafs, hifzh al-‘aql, hifzh al-nasl, dan hifzh al-mal) yang terejawantahkan ke dalam tindakan menghimpun segala yang mashlahah dan menghalau setiap mafsadah.

Kalau disimak, beragam definisi tentang mashlahah di atas sesungguhnya mempunyai satu benang merah, yaitu sama-sama memaknai mashlahah sebagai upaya menegakkan tujuan dan maksud syariat. Seperti dinyatakan ‘Iyad al-Salami, pengarang buku usul fikih kontemporer berjudul Ushul Fiqh alladzi Laa Yasa’u al-Faqih Jahlahu. Beliau menyebut bahwasanya ulama telah sepakat mengenai motif kehadiran syariat Islam. Pada dasarnya syariat hadir dalam rangka memelihara mashlahah dan menyempurnakannya, serta mencegah mafsadah dan meminimalisirnya.

Dalam pada itu, pahamlah kita bahwa syariat Islam tidak datang mempersulit ataupun menyiksa manusia, tetapi justru menjadi rahmat bagi semesta. Bukankah Allah swt telah menegaskan hal ini di dalam Q.S. al-Anbiya [21]: 107,

وَمَآ أَرْسَلْنٰكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعٰلَمِينَ

Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.

Wallahu a’lam bi-shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here