Andai Saja Rasulullah Saw. Masih Hidup Melihat Negeri Ini

1
386

BincangSyariah.Com – Hatib bin Abi Balta’ah merupakan salah satu sahabat Nabi yang ikut berkontribusi dan menjadi bagian kemenangan perang Badar. Allah Swt. memberikan apresiasi kepada Nabi dan para sahabat yang ikut serta dalam perang tersebut dengan sebuah kemenangan sebagaimana disebutkan dalam surah Ali Imran ayat 123. Hal itu di antaranya disebabkan oleh keadaan umat Muslim yang pasrah dan berserah diri kepada Allah Swt.

Namun siapa yang dapat menyangka bahwa Hatib bin Abi Balta’ah ternyata pernah berkhianat pada Nabi dan para sahabat lainnya. Saat itu, Hatib membocorkan rahasia umat Islam yang ingin melakukan pembebasan Mekah dari kezaliman kaum kafir Quraisy. Sebelum berangkat melakukan pembebasan Mekah, Nabi diberitahu oleh Jibril bahwa Hatib melakukan pengkhianatan. Tentu Nabi Saw. dan para sahabat lainnya geram. Namun Nabi Saw. bisa menahan emosinya dan mencoba klarifikasi terlebih dulu pada Hatib. Hal ini berbeda dengan Umar yang tidak sanggup menahan amarahnya, dan sudah siap mengangkat pedang untuk menebas kepala Hatib. Jiwa besar Nabi menenangkan Umar untuk tidak melakukan tindakan gegabah itu.

Akhirnya Hatib pun mengakui perbuatannya dan merasa menyesal telah melakukan hal itu. Namun ada alasan mendasar mengapa Hatib membocorkan berita penting itu kepada musuh. Saat itu, Hatib diancam kafir Quraisy yang akan menyakiti para keluarganya yang masih tinggal di Mekah, tidak melakukan hijrah ke Madinah. Diancam demikian, Hatib pun merasa takut akan keselamatan keluarganya, dan terpaksan melakukan pengkhianatan. Hebatnya, Nabi Saw. langsung memaafkan begitu saja perbuatan Hatib setelah mendengar permohonan maaf dan klarifikasi yang dilakukan Hatib. Toh akhirnya pembebasan Mekah berakhir manis dan umat Islam mengalahkan kezaliman yang dilakukan kafir Quraisy.

Baca Juga :  Hukum Bersalaman dengan Mencium Tangan

Kita tentu rindu sosok seperti Nabi Saw. yang berjiwa besar dan mudah memaafkan di tengah konflik yang terjadi di negara-negara yang penduduk mayoritas Muslim, termasuk di Indonesia. Umat Islam juga rindu sosok para pemimpin yang memang benar-benar menegakkan keadilan atas dasar persamaan di mata hukum. Saya pun yakin umat agama lain merasakan hal yang sama. Karenanya, para pemimpin, pejabat dan pertinggi negeri ini harus sadar mengapa umat Islam mulai merasakan ketidakpercayaan kepada para penagak hukum. Ini merupakan akumulasi ketidakadilan yang dilakukan para oknum pejabat. Keadilan merupakan pondasi utama dalam bernegara dan beragama.

Andai Rasulullah Saw. masih hidup, apa petuah beliau pada para pemimpin negeri ini? Mungkin Rasulullah Saw. akan memberikan nasihat ini pada mereka: ma min ‘abdin yastar’ihillahu ra’iyyatan yamutu yauma yamutu wahuwa ghasyin li ra’iyyatihi illa harramallahu ‘alaihil jannah (Hei para pemimpin dan pejabat negara! Jujurlah pada rakyatmu yang sudah mempercayakan jabatan yang kalian ampu. Haram surga bagi kalian penipu rakyat!)

Andai Rasulullah Saw. masih hidup, apa yang akan beliau katakan pada para umat Islam yang mudah naik pitam seperti Umar? Mungkin Rasulullah Saw. akan memberikan wejangan ini pada mereka: la taghdhab la taghdhab fa innal ghadhab minas syaithan (Berhentilah membenci, benci itu strategi setan untuk memecah belah bangsa!).

Andai Rasulullah Saw. masih hidup, apa yang akan beliau nasihati kepada para provokator yang menulis di facebook, dan di-like dan share oleh banyak pengikutnya? Mungkin Rasulullah Saw. akan mengatakan ini pada mereka: Qul khairan au liyashmut, Uktub khairan fil facebook wa la takun mustirah (Berkatalah yang baik. Kalau tidak bisa berkata baik, diamlah. Menulis di facebook yang baik-baik saja, jangan jadi provokator!)

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.