BincangSyariah.Com – Manusia merupakan makhluk hidup yang memiliki pelbagai macam kebutuhan. Maslow, seorang pakar psikologi, mengatakan bahwa terdapat lima kebutuhan dasar manusia di antaranya kebutuhan fisiologis, kebutuhan keselamatan dan keamanan, kebutuhan akan cinta dan memiliki, kebutuhan untuk harga diri dan kebutuhan untuk mengaktualisasikan diri.

Berkenaan dengan kebutuhan keselamatan dan keamanan, Islam mengajarkan kepada umatnya untuk saling menjaga keselamatan dan keamanan muslim lainnya. Karena itu bagi orang Islam, persoalan darah kaum muslimin bukanlah perkara remeh. Ada banyak ancaman yang difirmankan oleh Allah Swt. di dalam al-Qur’an maupun yang disabdakan oleh Nabi Saw. di dalam hadisnya bagi orang yang menghilangkan nyawa orang islam dengan tanpa alasan yang dibenarkan oleh syariat. Sehingga nyawa kaum muslimin memiliki nilai yang cukup tinggi. Bahkan hancurnya dunia sekalipun, itu masih lebih ringan dibandingkan dengan hilangnya nyawa seorang muslim. Sebagaimana hadis Rasulullah Saw:  “Hancurnya dunia lebih ringan di sisi Allah dibandingkan terbunuhnya seorang muslim” (HR. An-Nasa’i).

Lebih tegas lagi Rasulullah Saw. bersabda: “Membunuh seorang muslim adalah kekufuran, dan mencelanya adalah kefasikan” (HR. al-Nasai).

Imam al-Baghawi dalam kitab syarh al-Sunnah mengatakan bahwa ciri dari keimanan seseorang adalah dengan tidak membunuh sesama muslim lainnya, oleh karena itu dalam hadis tersebut Rasulullah Saw. menyerupakan orang yang membunuh orang muslim tak ayal seperti orang kafir. Sedangkan di dalam Faidul Qadir, Syekh al-Munawi menjelaskan bahwa maksud kufur di sini adalah makna secara bahasa, yaitu menutupi. Jadi orang yang membunuh muslim lainnya sama halnya menutup hak saudara sesama muslim untuk saling menolong, bukan malah sebaliknya.

Bahkan di dalam hadis lain Rasulullah saw. mengategorikannya kepada salah satu dosa besar. “Paling besarnya dosa besar adalah menyekutukan Allah, membunuh jiwa, durhaka kepada orang tua, dan sumpah palsu atau kesaksian palsu” (HR. al-Bukhari).

Baca Juga :  Hukum Puasa Bagi Pekerja Berat

Tak hanya itu, hadis lain menyebutkan bahwa di hari kiamat kelak, hal yang pertama kali dihisab dari seorang hamba adalah salat, dan hal pertama yang dimintai pertanggungjawaban antara hak manusia adalah dalam urusan darah. (HR. al-Nasai)

Rasulullah saw. tidak hanya melarang membunuh satu orang muslim saja sebagaimana tersirat di dalam hadis-hadis di atas, bahkan lebih dari itu, Rasulullah juga mengancam seorang teroris yang mengangkat senjata untuk membunuh orang-orang muslim. Sebagaimana hadis “Barang siapa yang mengangkat pedang kepada kita, maka dia bukanlah termasuk bagian dari golongan kita” (HR. al-Nasa’i).

Hadis tersebut menegaskan bahwa memerangi kaum muslimin dengan tanpa alasan yang benar adalah haram, karena hal itu bukanlah ciri akhlak orang muslim yang seharusnya saling menguatkan dan menolong satu dengan yang lainnya. Inilah rahasia yang dimaksud dalam firman Allah ta’ala:“Dan barang siapa membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya.” (An-Nisâ’: 93).

Dari ayat tersebut dapat disimpulkan bahwa ada lima ancaman atau bentuk hukuman yang Allah siapkan bagi siapa saja yang membunuh seorang mukmin tanpa berdosa:1). Ditempatkan di dalam neraka Jahannam selama-lamanya. 2). Allah memurkainya.. 3). Allah melaknatnya. dan 4) dipersiapkan siksa yang pedih bagi orang yang sengaja membunuh orang beriman, karena dia telah menumpahkan darah yang haram.

Ancaman yang Allah sebutkan dalam ayat di atas tentu tidak lain karena besarnya nilai nyawa kaum muslimin di sisi Allah ta’ala. Sehingga bentuk hukuman pun akan diberikan sesuai dengan perbuatan yang ia lakukan. Bahkan sebagian ulama ada yang menyatakan bahwa taubat seorang pembunuh tidak akan diterima oleh Allah ta’ala. Sebab, dosa tersebut berkaitan erat dengan hak orang yang dibunuh. Artinya, dosanya tidak akan gugur hanya dengan memohon ampun di hadapan Allah Ta’ala. Akan tetapi ia juga harus meminta kerelaan kepada orang yang dibunuhnya dan itu sesuatu yang tidak mungkin. Oleh sebab itu, pembunuhnya harus mendapatkan balasan pada hari kiamat. Wallahu a’lam bis shawab

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here