Ancaman Islam bagi Perusak Lingkungan

1
142

BincangSyariah.Com –  Sebagai agama yang bersifat universal, Islam mengatur seluruh aspek kehidupan manusia, termasuk bagaimana beretika terhadap alam dan lingkungan hidup sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari hidup manusia. Seluruh kebutuhan manusia semua berasal dan terpenuhi dari alam sekitarnya baik tumbuh-tumbuhan dan hewan. (Baca: Mengenal Tuan Guru Hasanain, Kyai Sekaligus Aktivis Lingkungan Hidup)

Islam berpesan melalui Al-Qur’an bahwa manusia harus melestarikan alam sekitarnya agar keberlangsungan hidupnya tidak terganggu oleh ulah sekelompok manusia yang tidak mau melestarikan alam. (Baca: Hadis-Hadis Menjaga Kebersihan Diri dan Lingkungan)

Dalam ajaran Islam, ada rambu-rambu untuk manusia agar beretika terhadap lingkungan. Salah satunya adalah bagaimana manusia membangun sikap proporsional saat berhadapan dengan lingkungan. Sikap proposional akan membuat lingkungan terpelihara dan terjaga kelestariannya. (Baca: Rasulullah Saw. adalah Rahmat Bagi Semesta, Termasuk Lingkungan Hidup)

Sayangnya, realitas tidak seindah harapan. Bencana alam yang mengancam kehidupan manusia datang silih berganti. Eksploitasi hutan dan rimba oleh manusia membuat ekosistem hutan kehilangan daya dukungnya bagi konservasi air dan tanah.

Jika hal ini didiamkan, maka kita sebenarnya telah merelakan kerusakan tersebut tanpa bisa berbuat apa pun untuk menghentikannya. Padahal, lingkungan adalah bagian tak terpisahkan dari keberlangsungan hidup manusia itu sendiri, baik di masa sekarang dan di masa yang akan datang.

Allah Swt. telah tahu perangai manusia tersebut. Oleh sebab itu, manusia telah diingatkan. Dewasa ini, manusia lupa bersyukur atas segala nikmat indahnya alam yang diciptakan Allah Swt. Manusia kurang bersahabat dengan alam dan lingkungan.

Al-Quran menyebutkan bahwa kerusakan di alam akibat ulah kejahatan manusia. Sehingga berbagai akibat dari perusakan itu ditanggung oleh manusia juga. Hal ini tampak jelas dalam firman Allah Swt. dalam Quran Surat ar-Rum Ayat 41-42:

Baca Juga :  Menulis Al-Quran dengan Selain Bahasa Arab, Apakah Boleh?

ظَهَرَ ٱلْفَسَادُ فِى ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِى ٱلنَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ ٱلَّذِى عَمِلُوا۟ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

ẓaharal-fasādu fil-barri wal-baḥri bimā kasabat aidin-nāsi liyużīqahum ba’ḍallażī ‘amilụ la’allahum yarji’ụn

Artinya: “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (Q.S. Ar-Rum: 41)

Ayat diatas menjelaskan bahwa kerusakan yang umat manusia rasakan saat ini baik di darat dan di laut adalah akibat dari kegiatan, aktivitas atau kebijakan manusia yang tidak mengindahkan pada keberlangsungan kehidupan.

Nabi Muhammad Saw. mengingatkan umat manusia tentang perilaku menjaga lingkungan. Beliau bersabda: “Dari Muadz berkata, saya mendengar Rosulallah bersabda: takutlah kalian pada tiga perbuatan yang dilaknat. Pertama, buang air besar di jalan, kedua, di sumber air dan ketiga di tempat berteduh.” (H.R. Ibnu Majah).

Rasulullah Saw. pun melarang buang air besar di lubang binatang dan di bawah pohon berbuah. Apresiasi Nabi terhadap kelestarian lingkungan sudah sangat jelas. Sebagai umat Islam, kita wajib meneladani beliau.

Sisi gelap manusia terhadap alam seharusnya bisa membangun kesadaran manusia akan kekhilafannya. Jangankan merusak lingkungan seperti menebang pohon, mengganggu atau mencemari alam sekitar saja tidak dibenarkan oleh ajaran Islam.[]

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here