Amalan Supaya Diberikan Keramat dan Panjang Umur

2
1133

BincangSyariah.Com – Keramat berasal dari bahasa Arab karomah, artinya kemuliaan. Keramat biasanya dihubungkan dengan kemampuan tak biasa yang dimiliki oleh wali-wali Allah.  Meskipun, sebenarnya keramat tidak identik dengan kejadian-kejadian luar biasa, contohnya seperti istiqomah yang oleh ulama dianggap sebagai salah satu bentuk kekeramatan. Tapi, dalam perkembangannya istilah keramat mengalami pergeseran makna yang cukup jauh dari konteks aslinya. Hampir pasti, ketika disebut kata keramat maka yang terbayang adalah kejadian-kejadian luar biasa (khoriqun lil ‘adah). Bahkan, pergeseran itu tidak saja terjadi pada tataran makna, tetapi pada subjek atau ‘pelaku’ keramat.

Di Indonesia misalnya, orang dengan sangat mudah mengatakan bahwa seseorang itu keramat ketika memiliki kemampuan yang tidak lazim seperti doa yang cepat terkabul, bisa menyembuhkan berbagai penyakit, kebal, ‘bisa’ menggandakan uang dan lain sebagainya. Ada pula kekeramatan yang disematkan kepada tokoh yang memiliki pengaruh di masyarakat. Setelah itu zaman berubah, kekeramatan kemudian identik dengan hidup yang penuh kemudahan dan bergelimang harta. Orang-orang menyematkan sebutan keramat sudah tidak lagi memperhatikan aspek kepatuhan seseorang kepada Tuhan.

Sebenarnya, siapa sih di dunia ini yang tidak mendambakan hidup yang penuh dengan kekeramatan dan berumur panjang? Keduanya, tentu dalam konteks yang sesuai dengan perubahan zaman,  adalah dambaan setiap muslim di dunia ini. Apalagi kalau kekeramatan yang kita miliki itu bermanfaat bagi orang banyak, dan umur panjang kita diisi dengan hal-hal bermanfaat untuk diri kita dan orang lain.

Sekelumit kisah kekeramatan kiai jaman dulu akan saya ceritakan di bawah ini dalam bahasa arab yang sudah saya terjemahkan. Berikut amalan-amalan yang mengantarkan kiai tersebut sehingga Allah mengaruniai kekeramatan kepadanya. Kisah ini saya dengar secara langsung dari putri dan keponakan (paman saya) kiai tersebut. Khusus, amalan-amalan yang ada dalam kisah ini, saya ijazahkan kepada setiap pembaca yang membaca tulisan ini. Berikut kisahnya :

Baca Juga :  Islam Menolak Nepotisme

أما بعد : فإن لي جد إسمه عبد العزيز و له أخ إسمه تائب المشهور بلقب الجاوي ماتيجا عسى الله ان ينفعنا بهما في الدارين آمين

ولد تائب بالأرض المدورية ثم هجر الى مالع في قرية دامفيت وليس شيخا عالما  معلما بل هو من عامة الناس أكرمه الله باالإستجابة في الدعاء و طول العمر. حكي ان في حياته كثير من الناس جاؤا أفواجا الى بيته طالبون بركة دعائه لحاجات متعددة دنيوية كانت او أخروية فأجاب الله حاجاتهم ببركة دعائه حتى جاء بعضهم  الى قبر تائب وهو قد مات.

فهذه الكرامة قد أعجبت عمي فلما لقيه في بيته سأله عن أسرارها فقال له يا غلام إن تسر ان يرزقك الله الفضيلة التي أنا فيها فأكثر السهر في الليالي وأقلل أكل ميچين عنى جنس التوابل و أكثر بذكر لا اله إلا الله الملك الحق المبين محمد رسول الله صادق الوعد الأمين

ومتى وصلت الرحيم في بيت إبنته في قرية دامفيت قريبا سألها عن عمره فقالت عمره مأئة وستين سنة فعجبت عجبا شديدا فسألها عن سرها قالت مازال ذاكرا الى الله. والله أعلم

Ammah ba’du, saya memiliki seorang kakek bernama Kiai Abdul Aziz dan beliau memiliki saudara laki-laki bernama Kiai Ta’ib yang di Jawa lebih dikenal dengan nama Kiai Matijo. Semoga Allah memberi manfaat kepada kita sebab keduanya di dunia dan akhirat, amin.

Kiai Tai’ib lahir di Madura kemudian berpindah ke Kabupaten Malang, tepatnya di Kecamatan Dampit. Sebenarnya, Kiai Ta’ib bukan seorang Kiai yang alim dan bukan pula pengajar, Kiai Ta’ib adalah masyarakat biasa yang Allah telah memuliakannya dengan istijabah dalam setiap doa-doanya. Selain itu, Allah memberikannya kemuliaan berupa umur yang sangat panjang.

Baca Juga :  Menjauhi Hal-hal Terlarang Dalam Rebo Wekasan

Diceritakan bahwa semasa hidupnya, banyak orang berbondong-bondong mendatangi rumah Kiai Ta’ib untuk mendapatkan berkah doa beliau untuk keperluan dunia dan akhirat. Maka, Allah mengabulkan hajat orang-orang yang meminta doa kepada Kiai Ta’ib. Bahkan, diceritakan suatu saat  ada orang yang datang ke rumah Kiai Ta’ib untuk meminta doa bagi kesembuhan penyakitnya. Namun, sesampainya di rumah, ternyata Kiai Ta’ib sudah meninggal beberapa hari yang lalu. Oleh keluarga Kiai Ta’ib orang tersebut diantar ke kuburan agar bertawassul kepada Allah dengan Kiai Ta’ib, dan ternyata setelah itu penyakitnya sembuh.

Cerita tentang kekeramatan Kiai Ta’ib membuat paman saya yang merupakan keponakan Kiai Ta’ib yang tinggal di Madura takjub. Maka saat bersilaturrahmi ke rumah Kiai Ta’ib di Dampit, paman saya bertanya tentang rahasia kekeramatan yang Kiai Ta’ib dapatkan. Kiai Ta’ib berkata, “Hai keponakanku, jika kamu ingin mendapatkan keutamaan sebagaimana yang Allah telah berikan kepada saya sekarang ini, perbanyaklah terjaga di waktu malam (untuk beribadah), jangan suka makan masakan yang mengandung micin yakni sejenis penyedap, dan perbanyaklah berzikir :

 لا اله إلا الله الملك الحق المبين محمد رسول الله صادق الوعد الأمين

La Ilaha Illallah Al Malikul Haqqul Mubiin, Muhammadur Rasulullah, Shodiqul wa’dil amiin

Tiada Tuhan selain Allah Yang Maha Menjadi Raja, Maha Benar, Maha Menjelaskan. Nabi Muhammad utusan Allah Yang benar, menepati janji dan terpercaya.”

Ketika saya bersilaturrahmi ke kediaman putri Kiai Ta’ib belum lama ini di Kecamatan Dampit, saya bertanya berapa umur Kiai Ta’ib. Beliau menjawab bahwa umur Kiai Ta’ib 160 tahun. Maka saya sangat takjub luar biasa, lalu saya bertanya, apa kiranya rahasia amalan Kiai Ta’ib sehinggal Allah mengaruniai kekeramatan dan umur yang sangat panjang. Beliau menjawab “Kiai Ta’ib tidak pernah berhenti berzikir kepada Allah”.  Wallohu a’lam bisshowab

Baca Juga :  Menikahi Saudara Kandung dalam Undang-undang Perkawinan di Indonesia

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here