Allah Menanggung Rezeki Hamba-Nya, Apakah Manusia Tidak Perlu Bekerja?

1
452

BincangSyariah.Com – Banyak manusia yang mati-matian bekerja mencari rezeki. Dalam sehari semalam, sebagian besar waktu dan pikiran manusia disibukkan oleh hal ini. Padahal al-Qur’an surat Hud ayat 6 dengan gamblang menjelaskan bahwa rezeki semua makhluk di muka bumi merupakan pemberian Allah Swt:

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِى الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللهِ رِزْقُهَا …

Dan tidak satupun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya…

Tafsir at-Thabari maupun Jalalain sepakat menafsiri ayat itu dengan menyatakan bahwa Allah Swt adalah mutakaffil alias Dzat yang menanggung rezeki daabbah sebagai wujud anugerah-Nya. Secara spesifik at-Thabari juga menyatakan bahwa manusia termasuk dalam golongan daabbah. Artinya rezeki manusia juga sudah ditanggung oleh Allah Swt.

Mayoritas orang terlanjur terjebak dalam pemahaman bahwa rezeki ditentukan oleh pekerjaan. Padahal urusan hasil merupakan hak prerogatif Allah Swt. Bekerja tidak lain sekadar bentuk ikhtiar yang sejatinya tidak dapat memastikan apapun. Allah Swt sah-sah saja memberikan rezeki kepada hamba-Nya yang tidak bekerja. Bukankah hewan-hewan yang tidak bekerja tetap diberi rezeki oleh Allah Swt? Di sisi lainnya, tentu juga sah bagi Allah Swt untuk tidak memberi rejeki kepada hamba-Nya meski ia bekerja mati-matian.

Pemahaman yang keliru tentang hal ini membuat kita sering tergelincir. Pada akhirnya yang kita andalkan bukan Allah Swt, namun justru pekerjaan kita sendiri. Efek sampingnya, ketika kita merasa telah bekerja secara maksimal namun hasil yang didapat tidak sesuai harapan, akan timbul rasa kecewa. Pun ketika kita tidak dapat bekerja maupun tidak memperoleh pekerjaan, akan timbul rasa putus asa sebab terlanjur menganggap rezeki kita terbelenggu. Lupa bahwa Allah Swt adalah sebaik-baik pemberi rezeki.

Baca Juga :  Hikmah Diciptakannya Mata

Pengertian yang kurang tepat juga menyasar perihal rezeki itu sendiri. Oleh kebanyakan dari kita, rezeki sering kali dianggap sebagai sebuah hal yang bersifat materi, lebih khusus lagi adalah uang. Seolah-olah selain uang bukan rezeki.

Kita alpa bahwa rezeki yang diberikan Allah Swt kepada kita amat luas cakupan dan bentuknya. Rezeki bukan melulu soal makanan dan minuman yang masuk ke mulut kita. Rezeki juga bukan hanya rumah, kendaraan dan pakaian yang kita kenakan.

Bukankah mulut kita bisa berbicara lancar adalah rezeki juga? Bukankah setiap tarik dan hembus napas kita adalah bentuk rezeki-Nya pula? Bahkan kita mampu bekerja, ngopi, dan beribadah juga merupakan bentuk rezeki dan anugerah Allah Swt.

Nahas, kesibukan kita memikirkan hal yang sudah pasti—dalam hal ini rezeki—justru membuat kita terlena dan lalai terhadap sesuatu yang belum pasti dan sangat substansial, yakni mengabdi kepada Allah Swt dengan melaksanakan segala perintahnya dan menjauhi larangannya. Kita terlena oleh iming-iming kekayaan duniawi hingga mata batin kita silau bahwa tujuan kita sebenarnya adalah kebahagiaan di akhirat. Padahal dalam surat Thaha’ ayat 132 Allah Swt telah mengabarkan bahwa akhir yang baik di akhirat nanti hanya dimiliki oleh orang-orang yang bertakwa:

… وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى

… Dan akibat (yang baik di akhirat) adalah bagi orang yang bertakwa.

Lebih lanjut, jauh-jauh hari Ibnu Athaillah dalam Al-Hikam sudah memperingatkan kita akan fenomena ini:

إجتهادك فيما ضمن لك وتقصيرك فيما طلب منك دليل على انطماس البصيرة منك

Usaha kerasmu dalam hal yang sudah dijamin untukmu dan kelalaianmu terhadap hal yang dituntut bagimu adalah pertanda terhapusnya mata hatimu.

Bekerja tidak dilarang, bahkan harus dilakukan sebagai bentuk ikhtiar. Namun jangan sampai keseriusan kita dalam bekerja justru membuat ibadah kepada Allah Swt yang merupakan kewajiban kita menjadi terabaikan. Semoga kita diberikan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Wallahu a’lam.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here