Alim yang Fasik atau Bodoh yang Taat?

0
2550

BincangSyariah.Com – Sayyid Ulamâ’i Ḥijâz Imam Muḥammad Nawawî al-Jâwî raḥmah allâh ‘alaih yang karyanya banyak mewarnai pemikiran dan perilaku masyarakat Nusantara—melalui madrasah dan pesantren—mengutip hadis Nabi Muhammad saw. dalam Murâqî al-‘Ubûdiyyah yang berbunyi, al-‘âlim ḥabîb allâh wa law kâna fâsiqan wa al-jâhil al-‘âbid ‘aduw allâh wa law kâna ‘âbidan (orang alim yang fasik merupakan kekasih Allah dan orang bodoh yang taat merupakan musuh Allah).

Beliau kemudian menyebutkan sebuah cerita tentang masyarakat yang memperdebatkan kemuliaan orang alim yang fasik dengan kemuliaan orang bodoh yang taat. Tidak mau larut dalam perdebatan yang tak kunjung menemukan jawaban memuaskan itu, maka salah seorang dari mereka pergi ke tempat peribadatan orang bodoh yang taat seraya berkata, “Wahai hamba-Ku, Aku telah menerima permintaanmu dan mengampuni dosa-dosamu. Oleh karena itu, tinggalkanlah ibadah dan bersenang-senanglah. Maka hamba yang bodoh itu menjawab, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku mengharapkan hal ini dari-Mu. Sungguh aku telah memuji, bersyukur dan menyembah-Mu dari waktu ke waktu sampai sekarang ini.” Sehingga dia terjerumus ke dalam kesalahan dan kekafiran karena kebodohannya.

Setelah berhasil menguji hamba yang bodoh, dia kemudian pergi ke rumah orang alim yang fasik dan kebetulan sedang mabuk seraya berkata, “Wahai hamba-Ku, takutlah kepada-Ku. Sesungguhnya Aku adalah Tuhanmu. Engkau telah menyembunyikan dosa-dosamu dan tidak merasa malu kepada-Ku. Oleh karena itu, Aku datang untuk membinasakanmu.”

Mendengar hal itu, orang alim yang fasik tersebut langsung menghunus pedangnya dan keluar dari rumahnya seraya berkata, “Wahai Mal’ûn (orang yang terlaknat), engkau tidak mengetahui Tuhanmu. Maka sekarang aku akan memperkenalkanmu dengan Tuhanmu.” Mendengar ancaman itu, dia lari ketakutan dan baru mengetahui kemuliaan ilmu dan ahlinya (orang alim).“

Namun demikian, bukan berarti orang-orang alim yang durhaka kepada Allah akan dibiarkan begitu saja. Bagaimana  pun manusia akan dibalas sesuai dengan perbuatannya apabila tidak bertobat. Imam al-Gazâlî menyebutkan dalam Bidâyah al-Hidâyah bahwa Rasulullah saw. ketika melakukan Mikraj bertemu dengan sekelompok orang yang menggunting bibirnya sendiri menggunakan gunting dari neraka.

Baca Juga :  Ini Penjelasan al-Ghazali Soal Tanda Takutnya Hamba Pada Allah

Beliau bertanya, “Siapakah gerangan kalian ini?” Mereka menjawab, “Kami adalah orang-orang yang menyuruh kebaikan, tetapi tidak pernah mengerjakannya dan mencegah keburukan, tetapi kami melakukannya. Waspadalah wahai orang yang lemah terhadap kebohongan setan dan tipu dayanya.” Dengan demikian, menurut Imam al-Gazâlî, kecelakaan bagi orang bodoh yang tidak pernah belajar dan kecelakaan besar bagi orang pandai (alim) yang tidak mengamalkan ilmunya.

Oleh karena itu, menurut Imam Nawawî dalam Murâqî al-‘Ubûdiyyah, bisa jadi orang berilmu yang tidak mengamalkan ilmunya akan disiksa lebih berat dari pada orang bodoh sebagaimana kebiasaan yang berlaku. Bisa jadi siksa yang dilakukan sekali lebih keras dan menyakitkan dari pada siksa yang dilakukan seribu kali karena lebih ringan.

Namun demikian, ketika orang-orang alim disiksa oleh Allah karena meninggalkan perbuatan wajib dan melakukan perbuatan haram, sejatinya siksaan tersebut untuk membersihkan dosa-dosanya. Mereka disiksa lebih dahulu (disegerakan) dari pada para penyembah berhala, karena orang alim yang fasik masih termasuk kekasih Allah dan orang bodoh yang taat adalah musuh Allah, sebagaimana disebutkan dalam hadis Nabi saw. di atas. Wa Allâh A’lam wa A’lâ wa Aḥkam…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here