Ali Syari’ati: Manusia Memiliki Dimensi Ganda

0
77

BincangSyariah.Com – Sebelum menuliskan tentang manusia, Ali Syari’ati terlebih dahulu memaparkan tentang penciptaan manusia yang ia rujuk dari Al-Qur’an.

Dalam pembahasan penciptaan manusia, Al-Qur’an menggunakan bahasa yang simbolis, bukan memakai bahasa yang jelas atau yang biasa disebut sebagai eksposisi.

Dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa manusia diciptakan dari bentuk yang paling rendah yaitu tanah, lalu ditiupkan ruh suci. Hal ini menunjukkan bahwa manusia adalah makhluk dua dimensi dengan dua arah dan dua kecenderungan. (Baca: Hadis tentang Tahapan Penciptaan Manusia dan Garis Takdirnya)

Dimensi pertama membawa manusia kepada hakikat yang rendah. Sementara dimensi lainnya terbuat dari ruh ilahiah yang mengajak manusia menuju ke puncak tertinggi. Proses tersebut bermakna simbolis yang berarti bahwa manusia memiliki dua dimensi.

Dua dimensi terebut adalah dimensi Ketuhanan dan dimensi kerendahan atau kehinaan. Sementara itu, makhluk selain manusia hanya memiliki satu dimensi saja.

Dalam buku Tugas Cendekiawan Muslim (1982), Ali Syari’ati menjelaskan bahwa  dimensi keilahian mengajak manusia cenderung untuk mendekatkan diri kepada-Nya agar mampu mencapai roh Tuhan.

Karena proses penciptaan manusia yang demikian, maka manusia pada suatu saat bisa mencapai derajat yang lebih tinggi. Tapi, di saat yang lain, manusia sangat bisa saja terjerumus ke dalam tempat yang hina dan rendah di mana terjadi pengingkaran atas dimensi ke-Tuhanannya.

Ali Syari’ati juga menegaskan bahwa keutamaan paling menonjol dari manusia yang menandai keunggulan manusia ketimbang makhluk lain adalah kekuatan iradahnya. Manusia adalah makhluk satu-satunya dalam penciptaan yang bisa bertindak melawan dorongan instingnya sendiri.

Hanya manusia saja yang bisa melawan dirinya sendiri, menentang hakikat dan memberontak terhadap kebutuhan fisik dan spritualnya. Dari kehendak bebas inilah manusia akan menemukan jati diri untuk mendapatkan kemuliaan dan kebahagiaan abadi bersama sang pencipta. Sebab, manusia diberi kebebasan untuk memilih yang tidak diberikan Tuhan kepada makhluk lainnya.

Baca Juga :  Membincang Hadis Minum Air Kencing Unta, Bagaimana Cara Memahaminya?

Selain itu, Ali Syari’ati juga menjelaskan bahwa manusia juga mempunyai kehendak dan pengetahuan, dan ia mungkin menempuh jalan ini atau tidak; maka jika ia menempuh, sesungguhnya ia menempuh dengan kehendaknya dan pilihannya sendiri, bukan dengan paksaan.

Karena itulah manusia mempunyai cri khas dan keutamaan yang tidak dimiliki oleh malaikat yang diciptakan oleh Allah Swt. dalam paksaan dan terus ditarik kearah kebaikan, bukan karena pilihan malaikat sendiri.

Ali Syari’ati juga memaparkan bahwa manusia itu universal, memiliki wujud alami, memiliki zat materi dengan arti seperti yang dijelaskan berulang-ulang dalam Al-Qur’an dan dikukuhkan dengan ungkapan yang berbeda-beda.

Manusia adalah kombinasi dua hal yang berlawanan, Ali Syari’ati menyebutnya sebagai fenomena dialektis yang terdiri dari oposisi “Allah – Syaitan” atau “roh lempung”.

Manusia adalah kehendak bebas yang bisa membentuk nasibnya sendiri dan bertanggung jawab, menerima amanah khusus dari Allah Swt., para malaikat bersujud kepadanya, khalifah Allah Swt. di bumi.

Tapi jangan lupa, manusia juga seseorang yang memberontak terhadap Allah Swt., memakan buah larangan, diusir dari surga dan dibuang ke alam tandus.

Manusia diperintahkan untuk mencipta surga manusia dalam alam, tempat pengasingannya.

Manusia senantiasa mengalami pertarungan dalam dirinya dan berjuang untuk bangkit dari lempung menuju Allah Swt., berusaha untuk naik meningkat, sehingga hewan yang berasal dari lumpur dan endapan itu bisa mendapatkan karakteristik Allah Swt.

Manusia memiliki dimensi ganda. Ia membutuhkan agama yang bisa menuntunnya untuk merealisasikan semua aspek-aspek kemanusiaan yang bersifat material dan spiritual.

Di sinilah letak keunggulan agama Islam, sebab manusia dalam ajaran Islam tidak dipandang tanpa daya dihadapan Tuhannya yakni Allah Swt.

Baca Juga :  Puasa Menurut Syekh Abdul Qadir al-Jilani

Sebagai makhluk berdimensi ganda yang dikaruniai misi ketuhanan, manusia perlu bimbingan agama agar bisa memelihara keseimbangan antara kutub keakhiratan dan kutub keduniawiannya.[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here