Alfatihah sebagai Refleksi Hidup dalam Harmoni

0
496

BincangSyariah.Com– Al-Quran sebagai wahyu yang telah diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw mengandung banyak pelajaran. Mulai dari pelajaran hidup hingga mati dan dihidupkan kembali. Bahtera kehidupan yang dijalani manusia tak lepas dari tuntunan al-Quran. Bahkan, dalam hal rumah tangga pun seseorang harus kembali mempelajari kitab suci sebagai langkah yang harus ditempuh untuk mengantarkan kepada keberhasilan. Keberhasilan dalam membina rumah tangga adalah dambaan setiap orang, terlebih kesuksesan anak-anaknya adalah dambaan orang tua pada umumnya, dan ibu utamanya.

Sebagaimana yang kita ketahui sebatas pengetahuan kita, bahwa sesungguhnya semua kandungan al-Quran terdapat dalam al-Fatihah. Bahkan menurut hadis yang diriwaytkan oleh Ahmad, ketika Rasulullah bersabda, “Wahai Abdullah bin Jabir, maukah kukabarkan kepadamu tentang sebaik-baik surah di dalam al-Quran? Aku katakan, “Mau ya Rasulallah”. Beliau bersabda, “Bacalah surah Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin (Surah al-Fatihah) sampai engkau menyelesaikannya”.

Begitu istimewanya surah al-Fatihah, sehingga ia memiliki beberapa nama yang eksotis. Di antaranya adalah Ummul Qur’an (induk al-Quran), Ummul Kitab (induk Kitab), As-Shalat (karena tidak sah salat kecuali dengan membacanya), Sab’ul Matsani (tujuh ayat yang diulang-ulang), As-Syifa (obat), dan seterusnya.

Al-Fatihah mengandung banyak pesan penting dan sangat berharga bagi manusia. Ia mengajarkan tentang keimanan. Pelajaran ini tercermin dari pernyataan rasa syukur seorang hamba pada Allah Sang Pencipta. Di dalamnya juga ada kalimat iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in (hanya kepada-Mu lah kami menyembah dan hanya kepada-Mu lah kami meminta pertolongan). Ayat ini adalah refleksi dari pelajaran keimanan yang ada dalam al-Fatihah.

Tak hanya keimanan, hukum-hukum Allah yaitu ketetapan dan posisi Allah di hadapan hamba-Nya juga tercermin dalam al-Fatihah. Bagaimana Allah menetapkan bahwa diri-Nya adalah penguasa atau pemilik hari pembalasan. Sedang manusia hanyalah orang-orang yang ada dalam kepemilikan-Nya. Selain itu, al-Fatihah juga berisi kisah. Tercermin dari ayat terakhir, yaitu kisah para Nabi, sahabat dan orang-orang yang beriman dan mendapatkan hidayah serta kisah orang-orang terdahulu yang menentang (bersikap zalim).

Baca Juga :  Nikmat yang Harus Disyukuri Melebihi Nikmat Duniawi

Al-Fatihah dengan ketujuh ayatnya, masing-maisng memiliki pesan penting bagi kehidupan rumah tangga, terutama dalam kajiannya cara mendidik seorang Ibu terhadap anak-anaknya. Penulis buku ini mencoba untuk mengambil sari pesan dari al-Fatihah dan dibawa kepada konteks pendidikan dan pengasuhan anak.

Dalam rumah tangga tentu sangat diidam-idamkan adanya keberkahan, maka trik memperoleh keberkahan itu sangatlah sederhana. “Cukup dengan membaca basmalah ketika hendak mengerjakan pekerjaan, insya Allah keberkahan akan senantiasa diberikan oleh Allah Swt. Seorang suami membaca basmalah ketika hendak bekerja, seorang istri membaca basmalah ketika akan mengerjakan pekerjaan rumah. Dalam mendidik anak pun, senantiasa menghadirkan basmalah dengan membiasakan membacanya dalam setiap kegiatan rumah tangga sehingga Allah akan senantiasa memberikan kasih sayang kepada mereka” (hlm. 62)

Ayat ketiga surah al-Fatihah mengajarkan kepada orang tua bagaimana berbelas kasih kepada anaknya, bagaimana kasih sayang yang harus dicurahkan kepada mereka. Orang tua tidak boleh pilih kasih kepada anak-anaknya. Ketika dikaruniai anak lebih dari satu, kemungkinan mereka memiliki potensi dan kepribadian yang berbeda-beda. Sedapat mungkin orang tua harus berusaha untuk bisa mengasihi mereka apapun keadaannya. Sifat rahman Allah yang diberikan kepada seluruh makhluk-Nya tanpa terkecuali dan sifat rahim-Nya yang diberikan kepada orang-orang yang berimana ketika di akhirat nanti adalah tolak ukur bagaimana orang tua menerapkan sifat kasih sayangnya kepada anak-anaknya.

Kita bisa melihat fakta-fakat yang ada. Karena kurangnya kasih sayang atau diperlakukan dengan pilih kasih, maka tak sedikit anak-anak yang memilih hidup di jalanan. Terkadang mereka hidup seperti itu bukan karena kurangnya materi, namun kurangnya kasih sayang dan perhatian orang tuanya.

Keharmonisan dalam keluarga dan rumah tangga harus diciptakan sedini mungkin. Keharmonisan itu akan tercipta ketika manusia mampu menjadi sosok yang pengasih dan penyayang sebagai implementasi dari sifat-sifat yang melekat pada diri Tuhan. Dengan terbiasa mengucapkan dan bertindak penuh kasih sayang akan membentuk tradisi dan energi positif dalam keluarga. Inilah sebagian pesan al-Fatihah dalam mewujudkan rumah tangga bahagia penuh dengan keberkahan-Nya.

Baca Juga :  Ini Dua Keutamaan Dimakamkan di Tanah Suci

Judul Buku      : Menjadi Ibu Hebat Sesuai Pesan Ummul Kitab

Penulis            : Isna Laila Nur

Penerbit           : Araska, Yogyakarta

Tahun Terbit   : Cetakan I, Juli 2019

Halaman         : 14 x 20.5 cm, 228 hlm

ISBN               : 978-623-7145-42-4

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here