Alasan Mengapa Tidak Boleh Sembarangan Menuduh Anak Zina

0
19

BincangSyariah.Com – Seringkali kita temui di tengah masyarakat, keberadaan beberapa oknum yang suka sekali mengamati urusan orang lain atau dalam bahasa gaulnya kita kenal sebagai kepo. Salah satu topik persoalan yang seringkali menjadi incaran pengamatan oknum tersebut ialah terkait usia pernikahan dengan kelahiran seorang bayi.

Telah menjadi kelaziman bahwa biasanya seorang bayi akan baru lahir ketika usia kehamilan mencapai usia 9 bulan. Kelaziman semacam ini menjadikan beberapa pihak dipenuhi tanda tanya di benaknya apabila ada pasangan yang baru menikah kurang dari 9 bulan namun ternyata sang istri sudah melahirkan. Bagaimanakah fenomena ini ditinjau secara fikih?

Terkait persoalan usia kehamilan, sebenarnya para ulama sepakat bahwa usia minimal bayi di dalam kandungan adalah enam bulan. Batasan 6 bulan ini disandarkan kepada sebuah kisah di zaman sahabat, yakni ada seorang laki-laki yang menikah, lalu dalam kurun waktu enam bulan dari pernikahannya mereka sudah memperoleh anak. Melihat kenyataan seperti ini maka Utsman bin Affan ra. merasa kaget dan hampir menuduh bahwa pasangan tersebut berzina sebelum menikah. Untungnya, datang Ibnu Abbas ra. yang memberikan penjelasan. Penjelasan Ibnu Abbas dimulai dengan pembacaan potongan ayat QS. Al-Ahqaf [46]: 15 berikut,

وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلاَثُونَ شَهْرًا

Wa hamluhu wa fishaaluhu tsalaatsuuna syahran

“Ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan.”

Dilanjut dengan pembacaan ayat Lalu kemudian Ibnu Abbas melanjutkan penjelasannya dengan membaca ayat QS. Al-Baqarah [2]: 233,

وَالْوَالِدَاتُ يَرْضِعْنَ أَوْلاَدَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ

Walwaalidaatu yurdli’na awlaadahunna haulaini kaamilaini

“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh”

Ibn Abbas menjelaskan bahwa ayat yang pertama memberikan penjelasan kepada kita tentang rentang waktu kehamilan hingga menyapih anak dari susuan ibunya selama tiga puluh bulan, sedang ayat kedua tentang waktu menyusui yaitu selama dua tahun (atau sama dengan dua puluh empat bulan).

Baca Juga :  Mimpi Basah Di Siang Hari Ramadhan, Apakah Puasa Batal?

Jadi jika waktu hamil sampai menyapih (30 bulan) dikurangi waktu menyusui (24 bulan) maka hasilnya adalah enam bulan. Dan enam bulan itulah angka minimal usia kehamilan. Waktu tersebut dihitung dari adanya akad nikah dan adanya kemungkinan berkumpulnya suami dan istri, demikian menurut mayoritas ulama.

Sedangkan untuk umur kehamilan paling lama, Imam Syafi’i berpendapat yakni empat tahun. Hal ini didapat dari penggunaan dalil istiqra (observasi) dengan melihat data-data riwayat kehamilan yang didapat, baik melalui riwayat atau juga lewat data usia kehamilan yang ada pada masyarakat dimana mereka hidup. Dalam hal ini, riwayat mengatakan bahwa Imam Syafi’i adalah yang termasuk sebagai orang yang berada di dalam kandungan selama empat tahun. Penjelasan seputar hal ini bisa kita lihat diantaranya pada kitab Bidayah Al-Mujtahid (j. 2 h. 352)

Dengan pertimbangan bahwa usia kandungan minimal adalah enam bulan, maka bagi kita, haram hukumnya menyatakan seorang anak sebagai anak zina apabila dia lahir lebih dari 6 bulan sesudah akad nikah. Dalam literatur fikih bahkan dinyatakan bahwa pernyataan tersebut malah bisa dianggap sebagai tuduhan qadf atau tuduhan zina yang apabila dilaporkan oleh korban, bisa dijerat hukuman secara syariah karena masuk dalam ranah pencemaran nama baik.

Hal ini terlepas dari kenyataan sesungguhnya yang terjadi. Artinya, mungkin saja sebelum akad nikah pasangan tersebut pernah melakukan tindakan zina namun kemudian langsung menikah dan anaknya lahir melewati usia 6 bulan dari akad nikah. Tetapi tetap saja secara hukum, seorang anak yang lahir melewati 6 bulan dari akad nikah, statusnya tetap dianggap sebagai anak yang sah. Persoalan apakah sebelumnya pasangan tersebut berbuat apa, biarlah menjadi urusan antara mereka dengan Allah SWT.

Baca Juga :  Akhlak Menghadapi Kesenangan dan Kesulitan Menurut Ibnu Taimiyah

Perlu dijadikan catatan dalam hal ini bahwa penulis tidaklah berusaha memaklumi tindakan perzinahan. Sama sekali penulis tidak bermaksud demikian. Bagi penulis, zina tetaplah merupakan sebuah dosa besar yang harus dihindari oleh seluruh umat muslim. Apa yang menjadi titik fokus bagi penulis pada tulisan ini adalah terkait sikap yang mesti dikedepankan oleh masyarakat selain pasangan tersebut dalam menyikapi fenomena yang ada di sekelilingnya. Tidak boleh kita gegabah menuduh anak zina pada mereka yang  yang baru dilahirkan hanya karena ia lahir kurang dari 6 bulan sesudah akad nikah.

Demikian, semoga bisa menjadi pelajaran buat kita semua. Wallahu a’lam bi shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here