Allah Tidak Butuh Disembah Manusia, Manusia yang Membutuhkan Allah

0
1463

BincangSyariah.Com – Kita kerap berpikir bahwa ibadah yang kita lakukan semata-mata adalah karena perintah Allah Swt. dan dimaksudkan hanya untuk menyembah-Nya. Tapi, benarkah bahwa Allah Swt. butuh disembah manusia?

Banyak penafsiran dari firman-firman Allah Swt. yang secara literal kurang lebih mengungkapkan bahwa ibadah adalah bukti kita  Namun, problematika ini menjadi bagian penting dari terbentuknya nalar-keimanan kita sebagai umat Islam yang terkadang membingungkan.

Ibadah yang selama ini kita lakukan seperti puasa, salat, zakat, haji, masih dimengerti dalam pengertian bahwa itu semua dilakukan karena perintah Allah Swt. dengan tujuan untuk menyembah-Nya.

Mungkin belum pernah terpikir dalam nalar-keimanan kita bahwa Allah Swt. sebagai Zat yang Maha Kuasa sebenarnya tidak membutuhkan ibadah dan sesembahan apa pun yang ditunjukkan kepada-Nya. Mengapa bisa demikian? Kita bisa menjawabnya dengan pertanyaan: bagaimana mungkin Zat yang Maha Kuasa meminta sesuatu dari ciptaan-Nya sendiri? Itu adalah hal yang mustahil.

Sekian filosof, misalnya Mohammed Arkoun, seorang filsuf Islam modern dari Aljazair berpendapat dalam bukunya Nalar Islami Nalar Modern (1994) bahwa berkebalikan dari keyakinan ibadah kita untuk menyembah Allah Swt., justru banyak sinyalemen yang memberi pertanda bahwa semua ibadah dalam doktrin Islam berdimensi kemanusiaan atau antroposentrisme, bukan berdimensi ketuhanan atau teosentrisme.

Menurut Arkoun, peribadatan dalam Islam tidak ditujukan untuk menciptakan Muslim yang saleh secara ritual dan saleh terhadap Allah Swt semata. Baginya, peribadatan seharusnya dilakukan seorang untuk menghasilkan kesalehan privat dan sosial, karena demikian itulah substansi peribadatan yang dimaksudkan dan diperintahkan Allah Swt.

Selanjutnya, ia menyatakan bahwa peribadatan yang berdimensi antroposentris mempunyai arti bahwa semua peribadatan tidak satupun dimaksudkan untuk menyembah Allah Swt., apalagi dengan pemahaman bahwa Allah mempunyai kepentingan terhadap ibadah tersebut.

Baca Juga :  Tradisi Barzanji dalam Merayakan Maulid Nabi: Perspektif Al-Quran terhadap Tradisi

Dalam dimensi antroposentrisme ibadah, ibadah yang dilaksanakan hanya dimaksudkan untuk kepentingan umat manusia semata, agar mereka mendapat ketenangan setelah keruhnya kehidupan dunia. Pelaksanaan ibadah yang terbaik juga harus berpengaruh untuk dimensi sosial yang lain.

Jadi, pelaksanaan ibadah dalam Islam bukan hanya dilaksanakan untuk kepentingan privat-antroposentris, tapi juga untuk kepentingan sosial-antroposentris. Lantas, mengapa dalam nalar-keimanan kita terpatri pemahaman bahwa praktik-praktik ibadah dilakukan karena perintah Allah dan dimaksudkan untuk menyembah-Nya?

Menurut Arkoun, hal tersebut terjadi lantaran ada mispersepsi terhadap firman-firman Allah Swt. yang secara literal mengungkapkan hal demikian. Sehingga, tidak bisa dipungkiri bahwa problematika mispersepsi yang terjadi akan selalu menjadi bagian integral dari terbentuknya nalar-keimanan yang rancu.

Banyak sekali firman-firman Allah Swt. yang dimispersepsi sehingga dampaknya tidak dirasakan secara substansial dalam dimensi antroposentris. Misalnya firman-firman Allah Swt. sebagai berikut: “tidak Ku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk menyembah-Ku” (Q.S. adz-Dzariyat (51):56) atau atau “manusia harus menyembah Allah Swt. yang telah menciptakannya dan manusia-manusia sebelumnya supaya is bertakwa.” (Q.S. al-Baqarah (2):21), atau “sembahlah Allah, sekali-kali tak ada tuhan selain-Nya.” (Q.S. al-A’raaf (7):59).

Satu lagi yakni hadis qudsi yang mengungkapkan tujuan diciptakan manusia adalah untuk mengonfirmasi eksistensi Allah Swt. pun turut serta mengesankan seakan-akan Allah Swt. memang ingin disembah. Ini seperti disebutkan dalam satu riwayat hadis, “Aku ini dulunya sebagai suatu harta simpanan yang tak diketahui, kemudian Aku ingin agar dikenal.”

Marcel A. Boisard di bukunya Humanisme dalam Islam (1980) menyatakan bahwa maksud dari hadis tersebut adalah bahwa Allah Swt. menciptakan manusia, maka manusia mengetahui-Nya. Sesungguhnya teks-teks itu tidak problematis. Problematika terjadi akibat mispersepsi terhadap teks-teks tersbeut. Lalu, apa sebenarnya dampak mispersepsi dan teks-teks tersebut?

Baca Juga :  Hukum Mencium Jenazah yang Baru Meninggal

Pertama, salah satu hal yang bisa kita rasakan secara langsung adalah ada anggapan bahwa ibadah dilakukan karena perintah Allah Swt. dan untuk menyembah-Nya. Padahal dalam dataran itulah, ibadah hanya berdimensi teosentrisme. Padahal, tujuan fundamental ibadah supaya manusia mendapat ketentraman bagi dirinya (privat-antroposentris) dan bagi orang lain di sekelilingnya (sosial-antroposentris), seperti apa yang dikemukakan oleh Arkoun.

Kedua, dibalik perintah Allah Swt. agar manusia beribadah untuk menyembah-Nya, sebenarnya menekanan bahwa ibadah sesungguhnya adalah untuk umat manusia itu sendiri. Firman-firman Allah Swt. yang memerintahkan agar kaum Muslimin beribadah adalah firman yang berfungsi sebagai konfirmasi bahwa kaum muslim sesungguhnya membutuhkan dimensi spiritualitas dan religiositas dalam kehidupan.

Ketiga, spiritualitas dan religiositas hanya akan ditemukan dengan cara menyembah Allah Swt. sebagai harapan kehidupan yang lebih baik di dunia atau setelah dunia. Jadi, kata perintah (amar) yang menyatakan bahwa Allah Swt. meminta kaum Muslimin menyembah-Nya, tidak berarti Allah Swt. memerintahkan Ia agar disembah, tapi untuk mengonfirmasi bahwa kesadaran untuk menyembah Allah Swt. akan menguntungkan.

Pemahaman ini diambil dari pendapat Abdurrahman Wahid atau Gus Dur bahwa sesungguhnya sangat merugilah mereka yang tidak menyembah Allah Swt. Menyembah Allah Swt. tidak berarti sesembahan itu untuk Allah Swt., tapi demi kepentingan kaum umat manusia sendiri.

Keempat, ada tujuan dasar ibadah dalam ajaran agama Islam bahwa keadilan Allah Swt. justru terletak pada saat Allah Swt. sama sekali tidak membutuhkan ibadah dari ciptaan-Nya. Cukup bagi Allah Swt. bahwa setiap perintah ibadah adalah ditujukan untuk kepentingan umat Islam sendiri. Maka, kesadaran untuk beribadah seharusnya bukan lagi karena “paksaan” perintah Allah Swt. tapi datang dari dorongan internal manusia sendiri.

Baca Juga :  Hukum Zikir dengan Suara Keras

Pemahaman bahwa ibadah untuk umat manusia itu sendirilah yang akan menimbulkan semangat dan rangsangan untuk lebih banyak lagi beribadah. Umat Islam diharapkan akan menemukan kedamaian privat dan memiliki etos transformasi sosial.

Kelima, tersirat pesan bahwa kaum Muslimin tidak bisa hanya berharap dari kerja-keras dan penalaran kita saja agar hidup ini lebih tentram. Kesadaran beribadah sesungguhnya terletak pengandaian bahwa setiap manusia membutuhkan harapan-harapan dan kedamaian dengan menyembah Allah Swt., bukan karena “terpaksa menyembahnya.”

Dari pendapat-pendapat di atas kita bisa menyimpulkan bahwa Allah tidak butuh disembah, tapi kita sendirilah yang sesungguhnya butuh menyembah-Nya. Wallahu A’lam Bissawab.[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here