Alasan Allah Menjadikan Manusia sebagai Pemimpin

1
113

BincangSyariah.Com – Agama Islam dianut oleh ratusan juta kaum Muslimin di seluruh dunia dan dijadikan sebagai way of life yang menjamin kebahagiaan hidup pemeluknya di dunia dan di akhirat kelak.

Islam memiliki satu sendi utama yang berfungsi memberi petunjuk ke jalan yang sebaik-baiknya. Sendi tersebut adalah Al-Qur’an sebagai kitab suci agama Islam. Salah satu pembahasan dalam Al-Qur’an yang sangat penting adalah tentang keberadaan manusia.

Keberadaan manusia sebagai salah satu mahkluk ciptaan Tuhan di muka bumi ini mempunyai peran penting dalam menjalankan fungsinya sebagai khalifah di muka bumi ini. Allah Swt. tidak hanya mengatur tentang kehidupan yang berkaitan dengan ibadah kepada Tuhan, tetapi Allah juga mengatur bagaimana manusia menjalankan perannya diatas muka bumi ini sebagai khalifah yang bertujuan untuk dapat keselamatan dunia dan akhirat.

Muhammad Baqir al-Sadar sebagaimana yang dikutip oleh Quraish Shihab dalam buku Membumikan Al-Qur’an (2013) mengemukakan bahawa kekhalifahan yang terkandung dalam ayat diatas mempunyai tiga unsur yang saing terkait ditambahkan unsur keempat yang berada di luar, namun dapat menentukan arti kekhalifahan dalam pandangan Al-Qur’an. Ketiga unsur tersebut yakni sebagai berikut:

Pertama, manusia, yang dalam hal ini dinamai khalifah. Kedua, alam raya, yang ditunjuk oleh ayat Al-Baqarah sebagai ardh. Ketiga, hubungan antara manusia dan alam dan segala isinya termasuk manusia yang berada diluar digambarkan dengan kata khalifat, yaitu yang memberi penugasan, yakni Allah Swt.

Manusia adalah mahkluk sentral di planet bumi. Selain penciptaannya yang paling sempurna dan seimbang, banyak makhluk lain yang ada seperti hewan dan tumbuh-tumbuhan diciptakan untuk kepentingannya, baik secara langsung maupun tidak langsung. Hak pemakmuran dan pengelolaan bumi beserta isinya diberikan kepada manusia sebagai konsekuensi logis atas kesediaannya memangku amanah Allah Swt.

Baca Juga :  Belajar Tauhid; Cara Meyakini bahwa Zat Allah Berbeda dengan MakhlukNya

Al-Qur’an mengungkapkan dengan sederhana namun tegas, menekankan individualitas dan uniknya manusia, dan mempunyai pandangan yang pasti tentang peran dan nasib manusia sebagai suatu kesatuan hidup. Adalah akibat dari pandangan bahwa manusia adalah suatu individualitas

yang unik yang menjadikan mustahil bagi indvidu itu untuk menangung beban orang lain, dan ia hanya berhak menerima buah atau akibat dari perbuatannya sendiri.

Imam Jalal al-Din al-Mahali dan Imam Jalal al-Din As-Suyuti dalam Tafsir Jalalain Jilid I dan M.Quraish Shibab dalam Tafsir Al-Misbah Vol 1 mengungkapkan bahwa ada empat sifat manusia yang diterangkan dalam Al-Qur’an:

Pertama, bahwa manusia itu adalah mahkluk yang dipilih oleh tuhan. Dalam surat Tahaa ayat 122 disebutkan bahwa “Kemudian Tuhannya memilih dia maka Dia menerima taubatnya dan

memberinya petunjuk.”

Kedua, manusia dengan segala kelalaiannya diharapkan supaya menjadi wakil tuhan di bumi (khalifah). Hal ini tercantum dalam surat Al-Baqarah ayat 30. “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

Dalam Tafsir al- Misbah dijelaskan bahwa kata Khalifah pada mulanya berarti yang menggantikan atau yang datang sesudah siapa yang datang sebelumnya. Atas dasar ini, ada yang memahami kata khalifah disini dalam arti yang menggantikan Allah dalam menegakkan kehendak-Nya dan menerapkan ketetapan-ketetapan-Nya.

Bukan karena Allah Swt. tidak mampu atau menjadikan manusia berkedudukan sebagai Tuhan, tapi karena Allah Swt. bermaksud menguji manusia dan memberinya penghormatan. Ayat ini menunjukkan bahwa kekhalifahan terdiri dari wewenang yang dianugerahkan Allah Swt., makhluk yang diserahi tugas yakni Adam AS dan anak cucunya.

Baca Juga :  Hadis tentang Tahapan Penciptaan Manusia dan Garis Takdirnya

Serta wilayah tempat bertugas, yakni bumi yang terhampar ini. Jika demikian, kekhalifahan mengharuskan mahkluk yang diserahi tugas itu melaksanakan tugasnya sesuai dengan petunjuk Allah Swt. yang memberinya tugas dan wewenang. Kebijaksanaan yang tidak sesuai dengan kehendak-Nya adalah pelanggaran terhadap makna dan tugas kekhalifahan.

Dalam surat al-An’am ayat 165: “Dan Dia lah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Ketiga, bahwa manusia sebagai kepercayaan Tuhan, sekalipun risikonya besar. Hal ini berdasarkan surat al-Ahzab ayat 72: “Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.”

Keempat, untuk itu semua, manusia kemudian diberi kemampuan untuk mengetahui semua nama dan konsep benda yang malaikat sendiri tidak mampu. Karena itu malaikat sujud dan hormat kepadanya. Hal ini tercantum dalam surat Al-Baqarah ayat 31.

Demikian empat alasan tentang alasan Allah Swt. menjadikan manusia sebagai khalifah. Semoga bermanfaat. Wallahu A’lam.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here