BincangSyariah.Com – Sewaktu saya sekolah dulu, ulama adalah derajat paling tinggi, di bawahnya buya dan dibawahnya lagi ustadz atau ustadzah. Sepanjang yang saya tau, diantara ketiga orang pintar tersebut yang berfatwa biasanya hanya ulama. Kalau ustadz atau ustadzah nyampein aja. Sepemahaman aku, ulama adalah orang yang memahami agama secara menyeluruh. Jago bahasa Arab, mulai dari nahwu sampai sharafnya, pintar hadis, faham ushul fikih dan kaidah fikih, hafal al-Qur’an, minimalnya tahu dalil-dalil dalam al-Qur’an dan ngelotok ilmu tafsirnya.

Dulu ulama berfatwa karena ada yang bertanya, orang yang bertanya disebut mustafti. Tapi sejak saya kuliah dan kenal media sosial, ternyata ulama cukup bisa ceramah. Haram dan bid’ah adalah dua istilah untuk setiap kesimpulan istinbath. Istilah bid’ah istilah masih baru dalam literatur bacaanku. Selama ini aku hanya kenal wajib, haram, sunnah, makruh dan mubah yang ku kenal. Tapi dari ulama medosos ilmu ku bertambah, masih ada  satu hukum lagi, ‘bid’ah’.

Sampai sekarang, aku bolak-balik lagi buku-buku ushul fikih yang aku punya, apa itu bid’ah dan apakah ia sama dengan haram? Sampai sekarang tak ketemu juga. Ya, Mungkin bacaanku yang tidak sampai ke sana. Bid’ah yang kutemukan hanya bilang kalau itu adalah hal yang baru. Belum aku temukan kalau semua bid’ah pasti haram, apalagi, kalau bid’ah pasti sesat.

Kalau setiap bid’ah sesat dan haram, mungkin Umar bin Khatthab salah seorang yang menikmati dosa itu (ih… seram juga ya), soalnya pernah beliau berkata berkaitan shalat tarawih berjama’ah, “inilah bid’ah yang paling nikmat” . Bid’ah kata ulama sosmed apapun yang tidak pernah dilakukan Nabi saw., setiap yang bid’ah adalah  sesat, dan setiap yang sesat di neraka. Kullu bid’atin dhalalah, wa kullu dhalalatin fin nar, ini hadis yang berulang-ulang dikatakan ustaz sosmed. Katanya ini hadis, tapi setelah dicari-cari emang ada sih, tapi gak ada lanjutan wa kullu dhalatin fin nar. Apa ini tambahan atau penafsiran, wallahu a’lam, hanya Allah dan ulama itu yang tau. Kalau dalam imu hadis ini disebut mudraj.

Sering kali dalil yang digunakan untuk mengatakan tawassulan, maulidan, tahlilan, ziarah kubur, tabarrukan, tidak boleh zikir berjama’ah, dan lain sebagainya adalah bid’ah, karna tidak pernah dilakukan Nabi.

Baca Juga :  Berdosakah Terlanjur Foto Tanpa Hijab di Media Sosial?

Saya pernah baca beberapa bait kasidah karya Syaikh al-‘Allamah as-Sayyid Abdullah bin ash-Shiddiq al-Ghumari, beliau menulis seperti ini:

‘tidak dilakukan’ bukan landasan hukum dalam agama kita dan tidak menimbulkan larangan atau perintah

Barangsiapa mencari larangan dari ‘tidak dilakukan’ Nabi kita dan menganggapnya sebagai ketentuan yang jujur dan benar, ia telah tersesat dari jalan segala dalil

Bahkan, menyalahi hukum sahih dan dia pun gagal

Tidak ada larangan, kecuali ketika (pembuat hukum) melarang, dia mengancam orang yang melanggarnya dengan siksa,

Atau celaan terhadap perbuatan yang mengisyaratkan adanya siksa atau lafal tahrim, pengharaman yang disertai azab.

Kalau seandainya benar apa yang tidak pernah dilakukan Nabi saw adalah bid’ah, maka akan banyak ibadah yang haram, seperti nama shalat dhuha, shalat sunnah setelah wudhu’, baca doa rabbana lakal hamdu hamdan katsiran, tarawih berjama’ah, mungkin masih banyak yang lain. Jadi takut ah, banyak banget yang bid’ah.

Imam Syafi’i, al-Nawawi, al-Ghazali, ibnu Rajab al-Hanbali, Izzuddin Ibnu ‘Abdul Salam, Ibnu al-Atsir, semua mengatakan bid’ah itu adalah apa yang tidak pernah di zaman Nabi. Namun tidak sampai di situ, bid’ah yang sesat (sebagaimana dalam hadis) adalah yang tidak memiliki dukungan dari  al-Qur’an dan hadisnya. Dalam bahasa Ali Jum’ah,  yang tidak memiliki dasar dalam syariat.

Kok malah lebih banyak bahas bid’ah? Kan judulnya bukan itu. Ya gak papa lah berbagi. Kita anggap sebagai contoh cara berfatwa ulama medsos. Bicara tetang fatwa, biasanya nih, bicara tetang pertanyaan atas sebuah permasalahan keagamaan. Itu makanya dalam setiap fatwa biasanya ada orang yang bertanya dan ulama yang menjawab. Dalam al-Qur’an dikatakan,  yastaftu naka, (mereka meminta fatwa kepada mu), ada kata meminta di sana. Kalau menurut ilmu sharaf ada tambahan alif, sin dan ta’ di awal, faidahnya littholab (meminta). Ulama yang jawab pun biasanya mikir-mikir panjang, kadang harus shalat dulu (bah… solat apa pulak itu [batak], bid’ah, hehe).

Anehnya, sekarang di medsos tidak ada angin ataupun hujan, fatwa pun bertebaran, ibarat dedaunan di musim semi, bukan musim cheri.

Baca Juga :  Kajian Hadis Kebolehan Perempuan Menjadi Imam Shalat

Memang pintu ijtihad tidak tertutup, karena memang dia tidak punya pintu. Tapi bukan berarti masuk pekarangan orang lain sembarangan diperbolehkan. Berfatwa kudu punya ilmu-nye, ibarat kata orang betawi. Nabi saw pernah bersabda, “ajraukum ‘ala fatya, ajraukum ‘alan nar (yang paling berani berfatwa adalah orang yang paling siap masuk neraka).” Semoga kita selamat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here