Al-Ma’ruf Sebagai Orientasi Memahami Pancasila

0
603

BincangSyariah.com- Merujuk pada pemaknaan kata ‘urf atau ma’ruf dalam artikel sebelumnya, maka dapat ditarik sebuah penegasan bahwa ma’ruf adalah segala bentuk nilai kebaikan yang berkesesuaian dengan syariat dalam konteks wahyu maupun akal manusia. Al Qur’an memberikan ruang bagi sebuah kebaikan serta kemaslahatan yang tercipta dari akal manusia selama tidak bertentangan dengan nilai-nilai islam.

Dalam hal ini, Pancasila harus kita representasikan bersama menjadi sebuah produk pemikiran manusia yang bertujuan untuk menciptakan kemaslahatan. Tentu sebuah kemaslahatan diusung dari nilai-nilai yang baik, terbukti dengan poin-poin dari tiap sila yang ada, mengandung inti sari nilai keislaman. Nilai inilah yang selanjutnya, diwariskan secara turun temurun hingga menjadi sebuah budaya/adat tradisi berupa konsep berpikir atau berideologi dengan Pancasila.

Kaitannya dengan ushul fiqh, tradisi atau budaya yang sudah mengakar pada elemen masyarakat, mempunyai kesempatan menjadi sebuah pijakan dalam berpedoman (hukum). Hal ini berbanding lurus dengan kaidah ushul fiqh yang berbunyi,

العادة محكمة

Tradisi (dapat dijadikan) sumber hukum

Rasulullah SAW. Pelopor Konsep Ma’ruf

Dalam banyak literatur sejarah islam, Rasulullah SAW. berhasil membangun sebuah peradaban yang berdasar atas ragam kebangsaan dan pluralitas agama. Nabi Muhammad SAW. dinilai sebagai sosok paling berpengaruh dalam suksesi pembentukan masyarakat Madinah.

Praktik yang direalisasikan Rasulullah SAW. adalah penyesuaian nilai-nilai kemaslahatan atas dasar konsensus. Beliau berhasil memadukan ragam corak kemasyarakatan dalam satu lingkup kehidupan bersama. Produk yang paling nyata dari bukti ini adalah nomenklatur Piagam Madinah (Mitsaq al Madinah; The Medinan Charter).

Keragaman penduduk yang berasal dari beberapa pemeluk agama seperti Islam, Yahudi, Nasrani, dan Majusi bersepakat untuk hidup dalam satu pemerintahan. Rasulullah SAW. sebagai seorang pemimpin negara dianggap menjadi salah seorang republikan yang sudah menerapkan nilai-nilai demokrasi atas dasar pluralitas berabad-abad tahun yang lalu.

Baca Juga :  Etika Saat Makan Menurut Imam al-Ghazali

Dalam hal ini, Rasulullah SAW. menempati pribadi yang menjadi panutan seluruh umat manusia, khususnya pemeluk agama islam. Tentu kita mengetahui bahwa Rasulullah SAW. adalah sumber khazanah keilmuan islam yang berasal dari wahyu maupun ketetapan-ketetapan Beliau sendiri. Pernyataan ini mengarahkan kita pada sebuah konklusi bahwa Rasulullah SAW. meneladankan kepada umat manusia untuk bisa menerima nilai-nilai kebaikan yang bertujuan untuk menciptakan kemaslahatan yang lebih luas.

Rasulullah SAW. pun memberikan putusan bahwa suatu kebolehan untuk mereduksi nilai-nilai yang sudah menjadi kebiasaan atau adat/ tradisi ke dalam sebuah perjanjian. Hal ini berdasar atas hadis riwayat Muslim (no. 4595) yang berbunyi,

عَنْ جُبَيْرِ بْنِ مُطْعِمٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا حِلْفَ فِي الْإِسْلَامِ وَأَيُّمَا حِلْفٍ كَانَ فِي الْجَاهِلِيَّةِ لَمْ يَزِدْهُ الْإِسْلَامُ إِلَّا شِدَّةً

dari Jubair bin Muth’im dia berkata; Rasulullah ﷺ  bersabda, “Tidak ada perjanjian persahabatan (persekutuan) -yang melanggar syari’at- di dalam Islam. karena, tidaklah persahabatan dan persekutuan manapun yang telah ada pada masa Jahiliah (dalam kebaikan), kecuali semakin diperkokoh oleh Islam”.

Jadi, pada kesimpulannya, Islam mengapresiasi sekaligus menghargai sebuah komitmen yang dibentuk atas kesepakatan bersama, selama masih dalam koridor ketentuan syar’i. Hal ini tercermin pada nilai-nilai Pancasila yang sudah mendarah daging menjadi sebuah kebiasaan dan tradisi berpikir bagi seluruh masyarakat Indonesia. Tentu kenyataan ini sesuai dengan konsep ma’ruf yang bermakna sebuah produk yang baik dan dikenal oleh kebanyakan orang.

Wallahu A’lam bi as Showaab

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here