al-Ghibtoh, Sikap Iri yang Direstui Agama

0
634

BincangSyariah.Com – Pada pembahasan sebelumnya kita berbicara tentang definisi hasad dan pengaruhnya terhadap kehidupan lahir-bathin kita. Nah, untuk kali ini kita akan mengaji dan mengkaji bersama tentang “al-ghibthoh” yang masih memiliki kekerabatan makna dengan sifat hasad (hakiki).

Al-ghibthoh berasal dari kata ghobitho yang memiliki arti cemburu atau iri. Menurut istilah ia berarti merasa iri terhadap kenikmatan yang dimiliki orang lain dan sangat berharap dapat meraihnya juga tanpa didasari kebencian dan tidak menaruh harap terhadap hilangnya kenikmatan tersebut. Yang lain mendefinisikannya sebagai,

عدم كراهية النعمة و ارادة زوالها ولكن يريد لنفسه مثلها

Tidak membenci nikmat (yang diterima orang lain) dan sampai berharap agar nikmat itu hilang, tetapi ia justru ingin agar ia mendapatkan kenikmatan yang

Sifat ini hampir sama pengertiannya dengan sifat hasad. Hanya saja jika hasad dibarengi dengan kebencian, maka dalam al-ghibthoh tidak mengenal kata benci. Jika dalam hasad sangat berharap hilangnya kenikmatan orang lain, maka al-ghibthoh tidak menghendaki hal tersebut melainkan hanya berharap mendapatkan kenikmatan yang sama.

Misal di dunia pendidikan, siswa A berharap menjadi siswa teladan sebagaimana siswa B. Guru A berharap dapat sertifikasi seperti halnya guru C. Atau di dunia pemerintahan, pejabat yang satunya berharap naik pangkat seperti pejabat yang lain, yang asalnya bupati ghibthoh pada temannya yang sudah jadi gubernur, dan lain sebagainya.

Atau ada tetangga yang beli motor keluaran terbaru, ia turut bersyukur atas kenikmatan tersebut dan berharap dapat memiliki motor baru. Harapan atau keinginan tersebut akan semakin memotivasi dirinya agar lebih giat lagi dalam mencari rezeki demi motor baru. Semua contoh tersebut tidaklah tercela. Jadi tidak salah ketika kita sebagai orang Islam selalu cemburu pada kenikmatan yang dimiliki orang lain guna menumbuhkan sifat tekun dan giat dalam berkarya. al-Imam Fudhail bin ‘Iyadh berkata,

Baca Juga :  Puasa Ramadan Meningkatkan Nilai Kebersamaan

المؤمن يغبط والمنافق يحسد

Orang beriman merasa termotivasi dan orang mu

Apakah sifat al-ghibthoh ini tidak bertentangan dengan firmah  Allah Swt dalam Alquran Surah An-Nisa’ [4]: 32 yang melarang mengarapkan keutamaan/kenikmatan yang telah diberikan kepada orang lain? Jawabannya “tidak”.

وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ لِلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبُوا وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبْنَ وَاسْأَلُوا اللَّهَ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا

Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain. (karena) bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi perempuan (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan. Mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya, Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

Ayat tersebut bukanlah melarang kita untuk mengharapkan  (berangan-angan) kenikmatan yang sama dari orang lain. Akan tetapi hal yang dilarang ketika kita berharap pindahnya nikmat dari orang lain kepada kita. Hanya saja menurut Imam Ar-Razi dalam tafsirnya jika yang kita harapkan adalah masalah keduniaan maka hal itu “terampuni” dan jika dalam masalah ukhrowi “al-ghibthoh” ini disunnahkan. Adapun asbabunnuzul dari ayat tersebut berkenaan dengan pertanyaan dan pernyataan Ummu Salamah tentang keutamaan laki-laki dalam berperang dan dalam masalah warisan yang menyiratkan keinginan untuk menjadi laki-laki (yang unggul dalam kualitas pahala dan kuantitas warisan).

al-Ghibtoh ini juga didukung dengan hadits Nabi Muhammad Saw,

لا حسد الا في اثنتين رجل اتاه الله مالا فسلط على هلكته في الحق، ورجل اتاه الله الحكمة فهو يقضي بها ويعلمها – الحديث

Tidak boleh hasad (ghibthoh) kecuali pada dua orang, yaitu orang yang telah Allah Anugerahkan padanya harta lalu ia infakkan pada jalan kebaikan dan orang yang Allah berikarunia ilmu (Alquran dan As-Sunnah), ia menunaikan dan mengajarkannya.

Tiada lain maksud hadits ini kecuali untuk memotivasi kita dalam berlomba-lomba menggapai kebaikan dan rahmat-Nya. Maka dari itu, tidaklah keliru berharap untuk memiliki istri yang cantik dan salehah, rumah mewah dan harta yang melimpah-berkah, dan atau berharap memiliki pengetahuan yang luas seperti halnya mereka para kekasih Allah yang mendapatkan karunia tersebut. Wallahu A’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here