Al-Ghazali, Neo-Platonisme dan Hierarki Wujud

0
973

BincangSyariah.Com – al-Ghazali seperti yang sering dikemukakan oleh para ahli banyak mengadopsi pandangan-pandangan Neo-Platonisme dan filsafat Hermes. Sebut saja pengaruh filsafat irasional terhadap pemikiran al-Ghazali sangatlah besar.

Cara pandang yang ditimba inspirasinya dari filsafat Hermes dan Neo-Platonisme ini menjadikan al-Ghazali memiliki model pembacaan yang unik terhadap ajaran-ajaran Islam, terutama ajaran yang berkenaan dengan aspek esoterik, atau sisi batin agama.

al-Ghazali menggunakan kerangka pandang Hermes dalam menjelaskan hierarki wujud atau hierarki kosmos.  Ini seperti yang sering dikemukakannya dalam berbagai karya-karyanya. Dalam Ma’arij al-Quds fi Madarij an-Nafs misalnya, al-Ghazali membagi wujud berdasarkan kepada kerangka pandang filsafat kebatinan Hermes.

Hal demikian seperti yang dapat kita baca pada kutipan berikut:

فأشرف المبدعات هو العقل (=الكلي) أبدعه (=الله) بـ”أمر” من غير سبق مادة أو زمان وما هو إلا مسبووق بــ”الأمر” فقط ولا يقال في “الأمر” أنه مسبوق بالباري تعالى….وما دون العقل هو النفس وهو مسبوق بالعقل، والعقل متقدم عليه بالذات لا بالزمان…والنفس سابقة على الزمان والزمانيات ولا يعتورها الزمان، بل الزمان والدهر يبتدئ منها، أعني من شوقها إلى كمال العقل.

“Ciptaan yang paling mulia ialah akal (=universal) yang diciptakan Allah melalui “perintah/amar” tanpa ada materi atau zaman yang mendahului. Akal universal hanya didahului oleh “perintah/amar”. Kendati “perintah/amar” mendahului akal, tak berarti bahwa ia didahului oleh Allah Swt…Ciptaan setelah akal ialah jiwa. Jiwa didahului oleh akal dan akal sebenarnya lebih dulu ada dari jiwa jika dilihat dari aspek substansi dan bukan dari segi zaman…jiwa ada lebih dulu daripada zaman dan tidak diliputi olehnya, bahkan zaman sebenarnya berasal dari jiwa. Maksudnya, zaman itu tercipta karena kerinduan jiwa kepada akal. ”

Baca Juga :  Mengkaji Hadis Keharusan Mengangkat Seorang Khalifah

Tak hanya kutipan di atas yang mencerminkan warna kebatinan Hermes dalam pemikirannya, al-Ghazali bahkan secara terang-terangan mengatakan bahwa akal (=universal):

تزوج – بالنفس الكلية – فأنتج الهيولي من مباشرة العقل والنفس وتمت الكثرة بالثلاث.

“bercampur dengan jiwa universal sehingga memproduksi hayuli akibat dari bergabungnya akal dan jiwa dalam satu gerakan. Sampai di sini, terciptalah tiga komponen wujud: akal, jiwa dan hayuli.”

Kemudian komponen wujud, kata al-Ghazali dalam kitab al-Ma’arif al-Aqliyyah, terdiri dari sepuluh komponen yang meliputi:

فالواحد الكلمة والثاني العقل والثالث النفس والرابع الهيولي والخامس الطبيعة والسادس الجسم والسابع الأفلاك والثامن الأركان الأربعة والتاسع المولدات والعاشر الإنسان

“pertama, kata; kedua, akal; ketiga, jiwa; keempat, materi; kelima, alam; keenam, jisim; ketujuh, benda-benda langit; kedelapan, empat elemen (tanah, api, air dan udara); kesembilan, al-muwalladat dan; kesepuluh, manusia.”

Berdasarkan kepada penjelasan mengenai sepuluh komponen dalam hierarki wujud ini, sejatinya al-Ghazali sudah tidak lagi konsisten dengan pandangan sebelumnya. Pandangan ini mencerminkan bahwa al-Ghazali secara tak sadar mempercayai keabadian alam semesta yang dulu pernah dianggapnya kafir dan berbahaya untuk diyakini bagi orang beriman.

Tidak hanya itu, istilah yang digunakan al-Ghazali seperti kata al-amr ‘perintah’ atau al-kalimah ‘kata’ pada kutipan di atas serta istilah al-mutha’ ‘yang ditaati’ pada karyanya yang lain tidak lain  sama persis makna dan fungsinya dengan yang diistilahkan oleh Numenius sebagai Tuhan Pencipta.

Istilah Tuhan Pencipta ini merupakan istilah-istilah yang khas dalam filsafat Neo-Platonisme dan filsafat keagamaan Hermes yang biasanya disandingkan dengan istilah Tuhan Transendental.

Berangkat dari penggunaan kata-kata Islami untuk merujuk kepada konsep asing non-islami ini, al-Ghazali dinilai Ibnu Taymiyyah sebagai intelektual Islam:

Baca Juga :  Etika Setelah Berbuka Puasa Menurut Imam Ghazali

يميل إلى الفلسفة لكنه أظهرها في قالب التصوف والعبارات الإسلامية

“yang cenderung kepada filsafat (kebatinan). Namun menariknya, istilah-istilah kebatinan tersebut diganti dengan istilah-istilah yang lebih islami.”

al-Ghazali memang seperti yang banyak dinilai para pakar sangat lihai dalam memberikan baju islami bagi konsep-konsep asing yang dianggap tidak islami, terutama konsep-konsep logika dan konsep-konsep filsafat kebatinan. Allahu A’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here