Al-Ghazali dan Soal Pembelaan terhadap Ideologi Negara

0
3709

BincangSyariah.Com – Al-Jabiri dalam Takwin al-Aql al-Arabi menyebut bahwa kritik al-Ghazali terhadap filsafat dan pandangan para filosof sebenarnya tidak ditujukan kepada filsafat itu sendiri. Kritik al-Ghazali lebih kepada hasrat ingin meruntuhkan basis ideologis-filosofis gerakan oposisi yang dipimpin oleh Hasan as-Sabbah. Gerakan oposisi ini menjadikan Syiah Ismailiyyah sebagai kendaraan politiknya.

al-Ghazali yang saat itu berposisi sebagai ulama pemerintah atau sebut saja ideolog negara Sunni, negara Seljuk yang saat itu dipimpin oleh seorang wazir bernama Nizham al-Mulk, ditugaskan untuk menghantam ideologi talimiyyah yang dianut oleh kelompok oposan.
Tugas al-Ghazali ini jelas untuk mengukuhkan negara pada tataran ideologi. Sedangkan pada tataran militer, Nizham al-Mulk memperkuat negara dengan penyebaran mata-mata di berbagai sudut wilayah pemerintahannya.

Pertanyaan yang muncul kemudian, apa hubungan Ibnu Sina dan al-Farabi – yang pandangan-pandangannya diruntuhkan oleh al-Ghazali dalam Tahafut al-Falasifah – dengan gerakan oposisi terhadap pemerintah? Apa pula motif yang mendorong al-Ghazali menulis karya yang menghancurkan filsafat Islam secara total dan membuat umat Islam membenci filsafat?

Jika kita merujuk ke masa al-Ghazali sendiri, tentu kita tidak akan menemukan sosok filosof yang pandangan-pandangannya berbahaya bagi fondasi keimanan. Hal ini tidak seperti yang dijelaskan al-Ghazali dalam Tahafut al-Falasifah. Di masa ini tidak ditemukan pula pandangan-pandangan filosof yang berbahaya dan mengancam negara Seljuk di masa itu.

Bahkan menariknya, di masa-masa al-Ghazali menulis karyanya yang terkenal ini tidak ditemukan satu tokoh filosof pun. Ibnu Sina misalnya wafat pada tahun 428 H. Ini artinya jarak wafatnya Ibnu Sina dengan penulisan kitab Tahafut al-Falasifah sekitar enam puluh tahun karena al-Ghazali sendiri menulis kitab ini pada tahun 488 H. Bahkan data-data kesejarahan menunjukkan bahwa di masa ini tidak ada tokoh filsafat sekaliber Ibnu Sina dan al-Farabi.

Pertanyaan yang muncul kemudian, apa motif di balik penulisan kitab Tahafut al-Falasifah? Tentu jawaban yang tepat motifnya tidak lain ialah meruntuhkan basis-basis filsafat Ismailiyyah, atau filsafat kebatinan.

Menariknya lagi, al-Ghazali menulis karya-karyanya seperti Maqasid al-Falasifah, Tahafut al-Falasifah, Fadaih al-Bathiniyyah, Hujatul Haq fi ar-Rad ala al-Bathiniyyah (karya-karya ini membahas bantahan terhadap aliran kebatinan), Mi’yar al-Ilm, Mahak an-Nazhar, Mizan al-Amal (karya-karya yang merupakan anjuran untuk mengadopsi logika Aristoteles) dalam satu kurun waktu yang sama, yakni yang mulai ditulis di tahun 477 H sampai 488 H.

Ini artinya penulisan karya-karya al-Ghazali yang terkenal tersebut dilakukan setelah dua tahun dari masa peristiwa pembunuhan Nizham al-Mulk. Pembunuhan Nizham al-Mulk sendiri dilakukan oleh beberapa gerilyawan dari gerakan aliran kebathinan Syiah.

Perlu dicatat pula bahwa karena al-Ghazali menulis karya-karyanya yang membantah pemikiran aliran kebathinan berdasarkan perintah dari sang khalifah Abbasiyah dan hal demikian seperti yang dijelaskannya dalam kitab Fadaih al-Bathiniyyah, dapat dipastikan bahwa perintah sang khalifah tersebut muncul setelah terjadinya peristiwa pembunuhan terhadap Nizham al-Mulk oleh kalangan penganut kebatinan.

Tak hanya sampai di sini. Kemungkinan dampak dari peristiwa pembunuhan tersebut yang menimbulkan kekacauan dan kecemasan di wilayah negara Seljuk saat itu. Terutama, di kalangan pembesar pemerintah, dan al-Ghazali masuk ke dalam jajaran mereka. Ini yang mendorong imam al-Ghazali sendiri untuk menulis kitab Tahafut al-Falasifah.

Menariknya lagi, yang dimaksud para filosof dalam Tahafut al-Falasifah ialah Ibnu Sina seorang. Sementara itu, filsafat Ibnu Sina memiliki keterkaitan yang organic dengan filsafat Isma’iliyyah seperti yang diungkap al-Jabiri dalam Nahnu wa at-Turath.

al-Ghazali dalam kitab Tahafut al-Falasifah tidak sekedar menjelaskan kerancuan dan kontradiksi kaum filosof yang disebabkan oleh keengganan mereka untuk menggunakan mekanisme penalaran yang benar dan tepat.

Tak hanya itu, al-Ghazali dalam kitab tersebut bahkan melayangkan fatwa fikih untuk pemikiran-pemikiran mereka. al-Ghazali seperti yang jamak diketahui mengkafirkan tiga persoalan dan membidahkan tujuh belas persoalan lainnya.

Kenyataan ini menunjukkan dengan jelas bahwa kitab Tahafut al-Falasifah dan kitab Fadaih al-Bathiniyyah kedua-duanya tidak lain adalah sejenis reaksi keras dari pihak al-Ghazali sebagai ulama yang mendukung pemerintah saat itu terhadap gerakan Syiah Ismailiyyah yang merongrong kekuasaan negara.

Dengan kata-kata lain, kitab Tahafut al-Falasifah dan kitab Fadaih al-Bathiniyyah merupakan reaksi al-Ghazali yang bersifat politis terhadap gerakan oposisi dari kalangan Syiah Ismailiyyah. Saat itu, gerakan ini sering melakukan perlawanan terhadap negara dan sering pula menimbulkan kekacauan di mana-mana.

Melalui banyaknya perlawanan yang didasarkan kepada pandangan kebathinan, terutama ideologi talimiyyah yang disebarkan oleh Hasan as-Sabbah, al-Ghazali ditugaskan oleh pemangku negara untuk menghantam basis-basis irasional yang menggerakan massa untuk memusuhi pemerintah. Atas dasar itu, amat wajar sekali negara melalui al-Ghazali bereaksi keras dengan usahanya untuk mengadopsi logika Aristoteles yang rasional untuk menghancurkan dan bahkan mematikan ideologi irasional gerakan oposisi.

Pertanyaan yang muncul kemudian kenapa di akhir kehidupannya, al-Ghazali malah mengadopsi ajaran neo-platonisme yang merupakan sumber inspirasi bagi Ibnu Sina dan gerakan Syiah Ismailiyyah? Kita dapat menangguhkan jawaban atas pertanyaan ini di tulisan selanjutnya tentang imam al-Ghazali.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here