Al-Ghazali dan Kitab “Jawahir al-Qur’an”

0
1155

BincangSyariah.Com – Kitab Jawahir al-Quran merupakan salah satu karya al-Ghazali yang mencerminkan pembacaan ilmu-ilmu keislaman dalam bingkai filsafat Hermes. Dalam kitab ini, al-Ghazali memulai pembahasan dengan membagi ayat-ayat dan surat-surat al-Quran menjadi dua bagian:

Pertama, ayat-ayat dan surat-surat yang disebutnya sebagai  as-sawabiq wal usul al-muhimmah atau mungkin tepatnya kita terjemahkan sebagai ‘pondasi keyakinan dan kesahihan ritual’. Ayat dan surat sebagai ‘pondasi keyakinan dan kesahihan ritual’ ini menurut al-Ghazali terbagi lagi menjadi tiga sub-bahasan; pertama, bahasan tentang pengenalan terhadap Tuhan (Allah= zat, sifat dan af’al); kedua, bahasan tentang tata cara mendekati Tuhan (= ibadah); ketiga, bahasan tentang kondisi dan keadaan ketika sudah sampai kepada Tuhan (= surga dan neraka).

Kedua, ayat-ayat dan surat-surat yang disebut al-Ghazali sebagai ar-rawadif wa at-tawabi’ al-mughanniyah al-mutammimah ‘pelengkap dan penambah keterangan’. Ayat-ayat dan surat-surat seperti ini terbagi menjadi tiga sub-bahasan; pertama, bahasan mengenai orang-orang salih yang menempuh jalan kepada Tuhannya dari kalangan Nabi, wali serta bahasan mengenai orang-orang yang melenceng dari jalannya seperti Fir’aun (sebut saja kisah-kisah para nabi melawan kaum kafir); kedua, bahasan mengenai bantahan al-Quran; ketiga, bahasan mengenai cara-cara pembangunan masyarakat (=hudud=hukum=syariat).

Berdasarkan kepada klasifikasi ini, al-Ghazali kemudian mengibaratkan al-Qur’an sebagai kerang (shadafah) yang di dalamnya terdapat intan permata (jawahir). Berdasarkan ibarat ini pula, al-Ghazali mengurutkan ilmu-ilmu bahasa dan ilmu-ilmu keagamaan layaknya bagian  kerang yang dimulai dari bagian lahir/permukaan (al-Qisyrah) sampai ke bagian dalam (al-lubab);

Pertama, ilmu lahir, yakni ilmu yang dimulai dari bentuk lahir kerang sampai ke bagian dalamnya yang mendekati inti dari kedalaman kerang. Ilmu pada tahap permukaan ini menurut al-Ghazali terbagi lagi menjadi beberapa tingkatan: Pertama, ada ilmu fonologi dan ilmu mengenai tempat artikulasi bunyi atau sebut saja ilmu tajwid atau ilmu baca al-Quran. Ilmu ini dapat dikategorikan sebagai ilmu paling luar (al-qisyr al-barani); Kedua, ilmu bahasa al-Quran, misalnya, ilmu yang mengkaji kata-kata gharib dalam al-Quran; Ketiga, ilmu I’rab al-Quran misalnya ilmu nahwu dan ilmu sharaf; Keempat, ilmu Qira’at (=Qiraat Sab’ah); Kelima, ilmu tafsir yang bersifat menekankan aspek lahir ayat al-Quran (ilmu ini bisa dikategorikan sebagai ilmu pada tingkatan yang sudah sedikit ke ranah batin).

Baca Juga :  Al-Ghazali dan Redupnya Semangat Nasionalisme

Kedua, ada ilmu batin al-Quran atau dalam bahasa al-Ghazali disebut sebagai ulum al-Lubab. Ilmu ini terbagi menjadi dua tingkatan.

Tingkatan pertama meliputi; 1. Ilmu kisah-kisah al-Quran, 2. Ilmu yang digunakan untuk mendebat orang-orang kafir atau ilmu kalam, 3. Ilmu pidana dan ilmu hukum atau sebut saja ilmu fikih. al-Ghazali mengibaratkan ilmu fikih sebagai orang yang membangun gedung untuk peristirahatan orang-orang yang hendak beribadah haji sedangkan ilmu kalam diibaratkan sebagai bodyguard yang menjaga orang yang pergi haji.

Adapun tingkatan kedua meliputi: 1. Ilmu suluk (= ilmu sufi, ilmu ini telah dijelaskan al-Ghazali  dalam kitab Ihya Ulumuddin); 2. Ilmu ma’ad – ilmu yang membahas tentang tempat kembalinya jiwa-jiwa, 3. Ilmu asyraf, ilmu ini berkenaan dengan bagaimana kita dapat mengenal Allah melalui penghayatan akan kehadiran-Nya dari af’al sampai ke sifat dan dari sifat ke zat-Nya.

al-Ghazali dalam kitab Jawahir al-Quran menjelaskan bahwa beliau sendiri sudah pernah menyinggung ilmu asyraf ini dalam beberapa karyanya yang diperuntukkan bagi orang khawas. Gagasan-gagasan al-Ghazali tentang akal, jiwa, materi, orbit, malaikat, terlebih teorinya tentang al-mutha’ (Tuhan Pencipta dan Tuhan Transenden), fana dan paham wahdatul wujud adalah pemikiran yang diperuntukkan bagi orang khawas atau khowasul khowas dan tidak ditujukan bagi kalangan awam.

Ilmu qisyrah atau ilmu lahir, kata al-Ghazali, diperuntukkan bagi kalangan awam atau orang biasa sedangkan ilmu lubab diperuntukkan bagi kalangan khawas atau khawas al-khawash.

Kalau kita gunakan tipologi epistemiknya al-Jabiri, ilmu Bayan diperuntukkan bagi masyarakat awam sedangkan ilmu irfan diperuntukkan bagi kalangan khawas.

Kendati demikian, al-Ghazali tidak memberikan garis demarkasi secara jelas antara kalangan awam dan kalangan khawas. Atau secara lebih ringkasnya, al-Ghazali tidak memberikan garis demarkasi yang jelas antara ilmu bayan dan ilmu irfan. Bahkan al-Ghazali menjadikan ilmu bayan sebagai jembatan bagi ilmu irfan. Ini sama persis dengan bagaimana kalangan awam diposisikan sebagai jembatan menuju ke kalangan khawas.

Melalui penjelasan dalam perspektif al-Jabiri ini, kita dapat melihat bahwa al-Ghazali mengambil substansi (madhmun) dari ilmu bayan dan mengambil bentuknya (syakl) dari ilmu burhan lalu ia katakan bahwa ilmu ini diperuntukkan bagi kalangan awam. Lebih dari itu, al-Ghazali juga mengambil bentuk dari ilmu bayan dan mengambil substansi dari ilmu irfan lalu ia katakan bahwa ilmu ini diperuntukan bagi kalangan khawash.

Sampai di sini, kita melihat bahwa yang diabaikan al-Ghazali dalam penjelasan ini ialah substansi ilmu burhan, yakni hukum kausalitas, atau dengan kata-kata lain, al-Ghazali sangat menolak ilmu-ilmu matematika dan fisika yang bersifat rasional dan empiris. Ilmu pengetahuan ini sangat didasarkan kepada penerimaan terhadap hukum kausalitas.

Baca Juga :  Mandi Junub setelah Subuh, Apakah Puasa Sah?

al-Ghazali tidak hanya mengabaikan ilmu-ilmu ini secara epistemologis namun juga secara sosio-historis.

Kita lihat bagaimana pandangan al-Ghazali setelah mengemukakan ulum al-qisyrah (ilmu lahir) dan ulum lubab (ilmu batin) al-Quran dalam kutipan berikut ini:

ولعلك تقول إن العلوم وراء هذه كثيرة كعلم الطب والنجوم وهيئة العالم وهيئة بدن الإنسان وتشريح أعضائه…وغير ذلك، فاعلم أنا إنما أشرنا إلى العلوم الدينية التي لا بد من وجود أصلها في العالم حتى يتيسر سلوك طريق الله تعالى والسفر إليه. أما هذه العلوم التي أشرت إليها فهي علوم، ولكن يتوقف على معرفتها صلاح المعاش والمعاد ولذلك لم نذكرها.

“Barangkali melalui klasifikasi pengetahuan menjadi lahir dan batin ini dalam kitab ini kita bertanya-tanya mengapa tidak disebutkan ilmu pengetahuan seperti kedokteran, astronomi, fisika, biologi dan lain-lain. Memang dalam kitab ini kami cukupkan klasifikasinya pada ilmu-ilmu agama karena ilmu ini diharuskan ada agar dapat mempermudah perjalanan kita kepada Allah Swt. Adapun ilmu-ilmu selain agama seperti yang telah disebut di atas, kami anggap tidak ada manfaatnya bagi kehidupan dunia dan akhirat dan karenanya kami tidak menyebutkannya dalam kitab ini.”

Melalui kutipan ini, kita dapat melihat bahwa dalam tataran pengetahuan, irasionalisme telah mengalahkan nalar fikih dan nalar kalam al-Ghazali yang rasional.

Dengan kata-kata lain, filsafat Hermes yang didasarkan kepada pesimisme dalam melihat dunia telah mempengaruhi seorang ahli fikih dan ahli kalam yang sepanjang hidupnya penuh ambisi untuk memperjuangkan agama dan dunia sekaligus. Allahu A’lam.



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here