Al-Patekah dan Cara Kita Meresapi Agama

0
1258

BincangSyariah.com – Ketika Presiden Republik Indonesia dalam sambutannya di pembukaan MTQ Nasional di Medan mengajak hadirin membaca al-Fatihah, ia melafalkannya dengan al-Fatekah. Peristiwa yang terekam dalam video kamera handphone tersebut, memuat seruan sebagian hadirin yang sedikit banyak tertawa dan berseru “al-Fatihah pak !”.

Saat video tersebut sudah masuk dunia digital, semisal youtube, komentar netizen sudah niscaya. Dan, hasilnya menunjukkan hal-hal yang lebih parah dari sekadar tertawa. Komentar netizen ada yang menghina, menganggap ini sudah kesekian kalinya Presiden menunjukkan ketidakfasihan membaca Alquran, sampai ungkapan bukan pemimpin yang baik karena itu #2019gantipresiden.

Mau bagaimana lagi. Keberadaan dunia digital beserta keramaian itu adalah bagian dari konsekuensi kita menerima sikap demokrasi meski nada “menghina” bukanlah bentuk demokrasi yang sehat. Tapi saya mau mencoba berpikir lebih luas, seberapa fasihkah kita semua dalam berdoa ? Dan, apakah Allah Swt. tidak menerima doa orang yang tidak fasih.

Yang kira-kira ulasannya mirip dengan permasalahan yang kita bicarakan saat ini adalah, pertanyaan tentang hukum membaca Alquran dengan bahasa lain bagi mereka yang tidak bisa berbahasa. Meski kata al-Fatihah itu bukan bagian dari lafaz yang terdapat dalam Alquran, namun ketika membacanya kurang tepat maka kemungkinan membaca Alquran juga kurang tepat.

Umumnya, ulama tidak membolehkan membaca Alquran kecuali dengan bahasa arab. Menurut Ibn Qudamah dalam kitab al-Mughni, lebih baik membaca Alquran dengan bahasa Arab meskipun tidak fasih. Abu Hanifah diriwayatkan pernah membolehkan membaca Alquran dengan bahasa Persia bagi mereka yang tidak mampu. Namun, ulama mazhab Hanafi berpendapat bahwa ada riwayat lain yang menunjukkan kalau beliau menarik pendapatnya itu. Penjelasan tersebut diantaranya didapatkan dalam kitab Hasyiyah Ibn ‘Aabidin.

Dari Belum Sampai Merubah Bahasa Arab sampai Cara Kita Meresapi Agama

Baca Juga :  Doa Khataman Al-Qur'an Versi Imam Nawawi

Al-Fatihah kemudian dibaca menjadi al-Patekah memang belum sampai merubah bahasa Arab. Setidaknya, apa yang beliau ucapkan bukan bacaan shalat sehingga tidak berkaitan langsung dengan persoalan sah tidaknya ibadah. Sehingga itu tidak mengenai persoalan perdebatan hukum antara pakar mazhab yang disebut diatas.

Persoalan cara melafalkannya tidak tepat harus kita sadari ternyata figur-figur pemimpin kita seringkali bukan dari mereka yang terdidik secara teratur belajar agama (layaknya mereka yang berasal dari pesantren). Penulis mencoba flashback ke pengalaman pribadi. Sejak masih usia belasan, penulis seringkali mendengar jika pejabat pemerintah melafalkan salam atau ungkapan dalam bahasa Arab, ada saja kekeliruan cara melafalkannya. Waktu itu, kami juga cuma berbisik dan sedikit menahan tertawa saja. Kebetulan tidak berani juga teriak, “Salah Pak bacanya !”

Era media sosial seperti ini memang sering membuat kita tidak bisa menjawab persoalan dengan menyeluruh dan konstruktif. Tapi lebih cenderung kepada partisan dan melemahkan secara personal seperti lewat komentar-komentar atau meme bernada cacian di media sosial. Bukankah, itu tidak membuat Pak Jokowi berubah logat pelafalannya itu ?

Saya tidak sedang berusaha apologis membela sesuatu yang keliru. Tapi kita harus berpikir melampaui sekadar salah baca al-Fatihah tadi. Yaitu, ajakan tulus pemimpin negara yang sah secara hukum dihadapan segenap peserta lomba MTQ, untuk mendoakan saudara yang tertimpa bencana di Donggala dan Palu. Bisakah kita melonggarkan sedikit egoisme keilmuan kita untuk bersimpati kepada siapapun yang bertujuan baik ? Mudah-mudahan demikian, karena bangsa Indonesia sekian lama dikenal sebagai bangsa yang ramah dan santun.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here