Al-Fatékah Jokowi dalam Ilmu Fikih, Fonologi, dan Tasawuf

0
2442

BincangSyariah.Com – Membaca Alfatihah dalam kitab fikih mazhab Syafii dikategorikan sebagai rukun atau kewajiban yang sifatnya dilafalkan (rukun kauli), baik shalat sunah maupun salat wajib. Hal ini sebagaimana keterangan yang disampaikan oleh Al-Malibari dalam kitab Fathul Muin berikut:

و رابعها: (قراءة فاتحة كل ركعة) في قيامها، لخبر الشيخين: لا صلاة لمن لم يقرأ بفاتحة الكتاب، أي في كل ركعة

“(rukun salat yang keempat): membaca surah Alfatihah pada setiap rakaat salat dalam keadaan berdiri, karena terdapat hadis dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim yang menyatakan demikian, “Tidak sah salat orang yang tidak membaca Alfatihah,” yang dibaca pada setiap rakaat.”

Menurut Syekh Abu Bakar Syatha dalam ‘Ianah al-Thalibin kewajiban baca Alfatihah itu berlaku dalam salat fardu, sunah, orang yang salat sendiri atau berjemaah, salat jahriah (Magrib, Isya, Subuh) maupun salat siriah (Asar dan Zuhur), dengan cara dihafal, dituntun bacaannya oleh orang lain, atau dengan cara melihat mushaf. Artinya, membaca Alfatihah perlu diusahakan semaksimal mungkin agar dibaca dalam kondisi salat apa pun.

Dari keterangan tersebut, kita dapat berkesimpulan bahwa dalam mazhab Syafii itu membaca Al-Fatihah sangat penting dan mengikat kesahan salat. Namun bagaimana dengan orang yang kesulitan melafalkan huruf-huruf tertentu dalam Al-Fatihah sesuai artikulasi atau makhrajnya?

Ulama tidak satu pendapat mengenai permasalahan tersebut. Imam al-Nawawi dalam Syarah al-Muhadzab menerangkan demikian:

وَلَوْ أَبْدَلَ الضَّادَ بِالظَّاءِ فَفِي صِحَّةِ قِرَاءَتِهِ وَصَلَاتِهِ وَجْهَانِ لِلشَّيْخِ أَبِي مُحَمَّدٍ الْجُوَيْنِيِّ قَالَ إمَامُ الْحَرَمَيْنِ وَالْغَزَالِيُّ فِي الْبَسِيطِ وَالرَّافِعِيُّ وَغَيْرُهُمْ (أَصَحُّهُمَا) لَا تَصِحُّ وَبِهِ قَطَعَ الْقَاضِي أَبُو الطَّيِّبِ قَالَ الشَّيْخُ أَبُو حَامِدٍ كَمَا لَوْ أَبْدَلَ غَيْرَهُ (وَالثَّانِي) تَصِحُّ لِعُسْرِ إدْرَاكِ مَخْرَجِهِمَا عَلَى العوام وشبههم

Baca Juga :  Konsep Amar Makruf Nahi Mungkar Menurut Ibnu ‘Asyur

“Jika seseorang (yang sedang salat membaca Alfatihah) itu mengganti pelafalan fonem dhad dengan zha, maka terkait kesahan bacaan Alfatihah dan salatnya itu terdapat dua pendapat menurut Syekh Abu Muhammad Al-Juwaini. Imam Al-Haramain, Al-Ghazali dalam al-Basith, Al-Rafi’i dan ulama lainnya berpendapat bahwa pendapat yang paling sahih itu mengatakan tidak sah. Inilah pendapat yang diyakini Kadi Abu Al-Thayyib. Menurut Abu Hamid (Al-Ghazali), ini juga berlaku saat mengganti satu huruf dengan huruf lainnya. Pendapat yang kedua menganggap sah (bacaan Alfatihah dan salatnya) karena sulit menyempurkan kedua artikulasi dua fonem di atas bagi orang awam dan semisalnya.”

Dari keterangan di atas Imam al-Nawawi hanya menerangkan pelafalan fonem dhad yang tertukar pelafalannya dengan zha. Artikulasi dua fonem tersebut secara fonolgis berbeda. Bila zha daerah artikulasinya itu ujung lisan yang bertemu dengan dua gigi seri atas. Sementara, dhad daerah artikulasinya itu tepi lisan bertemu dengan gigi geraham atas, boleh kanan atau kiri. Walaupun sama-sama berartikulasi pada bagian lidah, namun sebagian orang Arab pada masa waktu itu sulit melafalkan kedua fonem tersebut dengan benar.

Bagaimana dengan fonem ha kecil dan kaf yang akhir-akhir ini diributkan sebab Pak Jokowi membaca fonem ha kecil pada lafal Al-Fatihah terucap menjadi fonem kaf, yaitu Al-Faté”k”ah. Dan, vokal i terucap é? Artikulasi fonem ha kecil itu berada di daerah pangkal tenggorokan. Sementara itu, fonem kaf berartikulasi pada daerah pangkal lidah bagian bawah. Yang satu bertempat di daerah tenggorokan, dan yang satu terakhir bertempat di daerah lidah. Sebagian orang Jawa yang belum terlatih sulit melafalkan ha kecil dengan benar. Sementara itu, vokal é dalam bahasa Arab standar itu tidak dikenal.

Baca Juga :  Hukum Membunuh Semut

Terkait permasalahan tersebut, Syekh Zakaria Al-Anshari dalam Syarah Muqaddimah Al-Jazariyah mengutip pendapat berikut:

وروي عن محمد بن سلمة لا تفسد لأن العجم لا يميزون بين هذه الأحرف وكان القاضي الإمام الشهيد يقول الأحسن فيه أن يُقال إن جرى على لسانه ولم يكن مميزاً وكان في زعمه أنه أدى الكلمة على وجهها لا تفسد صلاته، وكذا روي عن محمد بن مقاتل وعن الشيخ الإمام إسماعيل الزاهد، قال الشارح وهذا معنى ما ذكر في فتاوى الحجة أنه يُفتي في حق الفقهاء بإعادة الصلاة، وفي حق العوام بالجواز، أقول هذا تفصيل حسن في هذا الباب والله أعلم بالصواب

“Diriwayatkan dari Muhammad bin Salamah, hal tersebut tidak membatalkan salat, karena yang bukan orang Arab itu tidak dapat membedakan dengan baik di antara beberapa huruf ini. Kadi Imam al-Syahid mengatakan, sebakinya pendapat itu dirinci, yaitu apabila hal tersebut sudah terbiasa dilafalkan demikian oleh orang tersebut dan ia tidak dapat membedakan (huruf-huruf tersebut), namun ia menduga bahwa ia sudah benar melafalkan kata yang diucapkan sesuai artikulasinya maka salatnya tidak batal. Selain itu, diriwayatkan dari Muhammad bin Muqatil dan Syekh Imam Ismail yang zuhud. Pensyarah (Zakaria Al-Anshari) mengatakan bahwa pendapat ini sama seperti yang terdapat dalam Fatawa al-Hujjah yang mana difatwakan bahwa untuk para fukaha harus mengulang salatnya, namun bagi orang awam itu tidak perlu. Inilah perincian yang baik dalam permasalahan ini.”

Jalan tengah yang diberikan oleh ulama fikih itu apabila terjadi masyakah yang begitu berat saat melafalkan fonem-fonem tertentu dalam surah Alfatihah, sementara ia sudah belajar tajwid dengan usaha maksimal, maka bacaan Alfatihah orang tersebut tetap sah. Hal ini juga bisa berlaku pada orang-orang yang sudah lanjut usia yang misalnya karena faktor gigi yang sudah agak ompong jadi tidak terlalu fasih membaca Alquran.

Baca Juga :  Apakah Semuanya Wajib Menyampaikan Apa yang Didengarnya?

Dr. Moch Syarif Hidayatullah dalam situs Datdut.com pernah menceritakan bahwa guru kami, Prof. Dr. K.H. Ali Mustafa Yaqub lebih menerapkan fikih dakwah terkait bermakmum pada orang yang tidak fasih bacaan Alfatihahnya.

“Diterima dan tidaknya salat seseorang tidak hanya terkait dengan bacaannya fasih atau tidak. Hati yang ikhlas dan khusyu, juga keistikamahan dalam ibadah, justru menjadi hal yang harus lebih dipertimbangkan. Mungkin secara fikih tidak sah, tapi bisa jadi Allah Swt. menerima salatnya atas pertimbangan keikhlasan dan keistikamahannya,” jelas Dr. Moch Syarif Hidayatullah menjelaskan fatwa Prof. Dr. K.H. Ali Mustafa Yaqub.



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here