Al-Albani dan Cara Menilai Hadis Palsu

1
266

BincangSyariah.Com – Al-Albani adalah seorang ulama yang mengawali pendidikan agamanya dengan belajar dari satu syekh ke syekh yang lainnya. Mulanya ia belajar kepada Ayahnya Nūḥ bin Adām, salah seorang ulama mazhab hanafi paling kesohor di Albania, sebuah negara di semenanjung Balkan. Karena alasan politik, Al-Albani kemudian belajar ke Syam. Al-Albani sendiri dilahirkan pada 1914 M dan wafat pada 1999 M di Yordania.

Al-Albani tidak mengeyam pendidikan hadis secara formal, ia hanya melakukannya secara otodidak dengan mengunjungi perpustakaan-perpustakaan Damaskus. Meski demikian ia meraih gelar profesor Hadis dari Universitas Islam Madinah.

Karir ilmiahnya dalam bidang hadis dimulai dengan menulis Silsilah al-Aḥādīts al-Ḍa’īfah wa al-Mauḍū’āt wa Atsaruhā fī al-Sayyi’ al-Ummah. Kitab ini berisi kumpulan hadis-hadis dhaif dan hadis maudhu’ atau palsu. Ia menghimpun hadis-hadis tersebut tidak sembarangan, namun dengan membaca semua literatur-literatur yang ada di perpustakaan, seperti dalam kutubus sittah dan kitab-kitab lainnya. Dalam memberikan komentarnya terhadap hadis-hadis tersebut ia juga merujuk kepada kitab-kitab ulama seperti al-Mauḍū’āt karya Ibn al-Jauzi, al-Mauḍū’āt karya al-Shagānī, Dzail al-Aḥādīts al-Mauḍū’ah karya al-Suyūṭī, dan lain sebagainya. di samping itu, Al-Albani juga sering memasukkan pendapat-pendapatnya sendiri di dalam memberikan penilaiannya terhadap suatu hadis.

Ada banyak kajian yang pernah ditulis oleh akademisi untuk mengungkap sosok al-Albani, utamanya terkait kontroversinya dalam menilai hadis. Salah satu kajian yang membahas sosok al-Albani tersebut adalah karya tesis  yang berjudul Metodologi Al-Albani dalam Menetapkan Hadis Mauḍū’ yang ditulis oleh Umaiyatus Syarifah.

Hadis maudhu’ atau palsu secara sederhana diartikan sebagai hadis yang dibuat-buat dan didustakan atas nama Nabi Muhammad Saw. Salah satunya disebabkan karena terdapat seorang rawi (pembawa berita) yang terbukti sebagai seorang pendusta. Dalam khazanah keIslaman terdapat beberapa kitab hadis yang berbicara tentang hadis-hadis palsu ini, di antaranya adalah al-Mauḍū’āt karya Ibn al-Jauzī (w. 597 H), Tadzkirah al-Mauḍū’āt karya al-Maqdisī (w. 507 H), Silsilah al-Aḥādīts al-Ḍa’īfah wa al-Mauḍū’āt wa Atsaruhā fī al-Sayyi’ al-Ummah karya Al-Albani(w. 1998 M), dan banyak lagi yang lainnya.

Baca Juga :  Empat Amalan untuk Melancarkan Rezeki

Menurut sebagian kalangan, al-Albani adalah sosok yang kontroversial karena seringkali menilai palsu hadis-hadis yang oleh mayoritas ulama hadis sebagai hadis yang tidak bermasalah. Al-Albani adalah salah satu tokoh kontemporer yang telah banyak melakukan upaya  dalam mengembangkan kajian hadis, ia tidak hanya melakukan takhrīj, namun juga taṣḥīḥ, dan taḍ’īf maupun taḥqīq. Upayanya ini menuai pro kontra, beberapa ulama yang memuji usahanya adalah Syekh Muḥammad al-Utsmānī, Syekh Muḥammad al-Sirqriṭī, Syekh ‘Abd al-Azīz bin Bāz dan lain sebagainya. Adapun yang kontra di antaranya adalah ahli hadis Indonesia, ‘Ali Mustafa Yaqub, al-Harārī, al-Adāmī, al-Ghumāri, Abū Ghuddah dan lain sebagainya. Mereka melontarkan kritiknya terhadap al-Albani dalam karya mereka masing-masing.

Kontroversi al-Albani dapat dilihat dalam kitabnya, Silsilah al-Aḥādīts al-Ḍa’īfah wa al-Mauḍū’āt wa Atsaruhā fī al-Sayyi’. Alasan disusunnya kitab tersebut adalah untuk memurnikan akidah dan pemikiran umat Islam. Menurutnya cara yang ia lakukan dalam menilai hadis-hadis palsu telah sesuai dengan kaidah-kaidah umum dalam ilmu hadis.

Al-Albani berpendapat bahwa hadis dikatakan palsu setelah melalui proses pemerikasaan sanad dan matan hadis. Dari sisi sanad hal ini dapat diketahui melalui; pengakuan pemalsu hadis; qarinah yang menyerupai pengakuan; perawi dikenal sebagai pendusta di kalangan ulama hadis; diriwayatkan secara mauquf; perawinya majhul (tidak diketahui identitasnya).

Dari sisi matan hal ini bisa diketahui melalui; redaksi yang buruk; maknanya yang rusak; bertentangan dengan dalil-dalil syar’i; berkenaan dengan keutamaan akal; bertentangan dengan realitas; bertentangan dengan akal; mengandung kekejian; tidak terdapat dalam kitab induk; mengandung israiliyyat dan bid’ah; dan melebih-lebihkan pahala dan sikasaan atas amal yang sepele.

Dalam 27 palsu hadis yang ada dalam kitab Silsilah al-Aḥādīts al-Ḍa’īfah wa al-Mauḍū’āt wa Atsaruhā fī al-Sayyi’. Salah satunya disebutkan oleh al-Albani sebagaimana berikut.

Baca Juga :  Darus-Sunnah Kembali Lahirkan Calon-calon Ahli Hadis Indonesia

من حدث حديثا فعطس عنده فهو حق

“Barang siapa tengah berbicara kemudian bersin, maka pembicaraan itu benar.”

Menurut al-Albani hadis ini batil meskipun telah diriwayatkan dalam beberapa kitab hadis seperti al-Fawāid karya Ibn Qayyim. Alasannya karena terdapat seorang perawi bernama Buqayyah bin Wālid dipermasalahkan. Ia menolak anggapan al-Nawawi yang mengatakan hadis ini baik-baik saja dengan mengutip Yaḥya bin Ma’in dan Abū Ḥātim.

Al-Albani dinilai sebagai ahli hadis yang sangat mudah menilai sebuah hadis sebagai lemah dan palsu. Atau ketat dalam pengertian menyeleksi pendapat-pendapat yang lebih kepada mengatakan sebuah hadis itu lemah atau palsu. Ia tidak memilih pendapat-pendapat yang justru menguatkan meskipun dalam kaidah ilmu hadis itu dapat diterima, seperti adanya mutabi’ atau jalur periwayatan lain.

Kesimpulan tesis tersebut menjelaskan beberapa hal. Di antaranya adalah uraian dalam kitab silsilah hampir seluruh hadis ditulis dengan menggunakan matan yang lengkap tanpa sanad; dasar penilaian adalah merujuk kitab-kitab ulama, namun kadang al-Albani tidak memberik keterangan apapun; kriteria hadis palsu tidak jauh beda dengan ulama lain; aplikasi penentuan hadis palsu juga tidak jauh berbeda, hanya saja ia memasukkan kriteria majhul dan mauquf sebagai indikator hadis palsu padahal dalam ilmu hadis tidak; dan yang terakhir al-Albānī adalah orang yang terlalu mudah memvonis hadis palsu.

Demikian beberapa hal dari penelitian tesis Umayyah Syarifah yang cukup panjang. Semoga bermanfaat.



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here