Aktivis HTI Tuding Nasionalisme Sebagai Pemecah Belah, TGB Zainul Majdi: Nasionalisme di Indonesia Justru Jadi Pemersatu

1
545

BincangSyariah.Com – Film Jejak Khilafah di Nusantara masih ramai diperbincangkan. Pada 2019, dalam diskusi rutin Membumikan Al-Qur’an, Tuan Guru Bajang (TGB) Zainul Majdi sempat membahas soal ide kekhilafahan.

TGB menjelaskan bahwa dalam konteks negara-bangsa Indonesia, bentuk nasionalismenya berbeda dengan negara-negara lain di seluruh dunia. Hal ini terlihat dari segi proses dan substansinya. Kemerdekaan Indonesia diraih dengan persatuan, menyatukan banyak sekali perbedaan.

Lalu yang menjadi pertanyaan adalah kenapa kemudian muncul banyak kelompok termasuk Hizbut Tahrir Indonesia (HTI)?

Banyak orang beranggapan bahwa negara-bangsa yang hadir adalah bentuk dari pemecahan kekuatan umat Islam yang semula ada pada masa kekhalifahan Utsmaniyah.

Di negara-negara Timur Tengah, kemunculan gerakan kembali pada kekhalifahan adalah bentuk protes kepada negara-bangsa yang memecah belah kekuatan Islam. Kejadian tersebut memang lahir dari skenario pasca perang dunia pertama.

Berbeda dengan di Timur Tengah, negara-bangsa yang lahir di Indonesia justru menyatukan kekuatan. Sebelum ada negara-bangsa yang bernama Indonesia, wilayah yang kerap disebut sebagai nusantara berasal dari kerjaan dan kesultanan. Banyak kekuatan yang bersatu.

“Mari kita cermati konteks tumbuhnya negara bangsa, lahirnya nasionalisme.” Lanjutnya.

TGB memaparkan bahwa nasionalisme khilafah adalah nasionalisme artifisial sedangkan nasionalisme Indonesia adalah nasionalisme perjuangan yakni membebaskan diri dari penjajah. Kekuatan Islam berperan dalam resolusi jihad dan membentuk negara Indonesia.

Di tengah diskusi, ia berpesan, “Jangan membaca karangan dengan konteks yang berbeda lalu diterapkan di konteks lain. Karangan tentang negara-bangsa yang memecah belah kekuatan Islam ditulis di Timur Tengah dalam suasana ketidakberdayaan melihat runtuhnya persatuan lalu kita baca kita adopsi di Indonesia.”

Kelahiran negara-bangsa di Timur tengah dan Indonesia berbeda. Di Timur Tengah, negara bangsa lahir karena perpecahan, di Indonesia negara bangsa justru lahir karena persatuan. Peristiwa yang tidak terjadi di Indonesia tapi tiba-tiba diterapkan dalam kehidupan bernegara di Indonesia, mestinya tidak dilakukan sebab hal terebut lepas dari konteksnya.

Baca Juga :  Siapakah Ahlul Bait yang Mesti Diteladani?

TGB menambahkan, membantu saudara di belahan dunia yang lain tidak mesti harus berada dalam satu pemerintahan umat Islam atau khalifah tunggal. Dengan negara bangsa, seorang Muslim di Indonesia bisa menolong sesama umat Islam di seluruh dunia.

Persoalannya bukan terletak di bagaimana seorang Muslim membantu Muslim lainnya dalam satu pucuk kepemimpinan, tapi bagaimana membangun kesadaran. Membangun kesadaran itu penting dan bisa dilakukan dalam semua sistem pemerintahan.

Kesadaran berislam di Indonesia juga tidak harus dikolerasikan dengan ikhtiar-ikhtiar yang dilakukan oleh pemerintah. Berislam mestinya lepas dari kepentingan pemerintah dan jika sejalan maka bisa saling membantu satu sama lain.

“Di Gaza ada rumah sakit dan sekolah Indonesia. Nama Indonesia harum di Palestina. Begitu juga di beberapa tempat yang lain. Tidak sesederhana itu.” Tegasnya.

Sebagai penutup, ia menyatakan bahwa teman-teman yang mengusung ide kekhalifahan ketika sampai pada tataran praksis, konkret, dan bagaimana mengimplementasikannya tidak serta merta tepat dengan teori-teori yang disampaikan selama ini.[]

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here