Merenungi Aksi Bela Tauhid, Benarkah Membela Agama?

7
938

BincangSyariah.com – Kanal ini sudah menulis artikel lebih dari 5 kali untuk membicarakan dan menjelaskan hal yang temanya sama yaitu bendera/panji hitam bertuliskan kalimat tauhid. Artikel-artikel yang ada seluruhnya menggunakan sudut pandang fikih dan kajian hadis. Dari perspektif kajian hadis misalnya, pada intinya hadis-hadis yang berbicara soal bendera berlafalkan kalimat tauhid sebagai bendera Rasulullah saw. itu bermasalah dari segi kajian sanad. Untuk melihat ulasannya dapat dilihat ulasan M. Khoirul Huda dan Khalimi berikut. Sebagai penjelasan singkat, sebuah hadis yang secara sanad maupun matan tidak sahih tidak bisa dijadikan pijakan akidah (keimanan). Artinya, justru keliru jika kita sampai beriman mutlak kalau itu adalah bendera Rasul.

Tapi, mau bagaimana lagi. Nasi sudah menjadi bubur. Masih ada sekelompok masyarakat saudara-saudara kita yang bersikukuh mengatakan kalau bendera berwarna hitam itu adalah bendera Rasulullah. Banyak orang yang hari ini (2/11/18) melakukan demonstrasi setelah salat Jumat bersama di Masjid Istiqlal mengatakan, kalau pembakaran bendera oleh beberapa anggota Banser di acara Hari Santri Nasional (22/11) lalu adalah pelecehan terhadap kalimat tauhid yang tertulis di dalamnya. Seminggu sebelumnya, seorang tokoh berpengaruh dari ormas Front Pembela Islam (FPI) dengan keras berorasi bahwa siapapun yang mencoba melecehkan kalimat tauhid maka ia siap mati menghadapinya.

Baik, katakanlah beberapa pemuda Banser yang melakukan pembakaran bendera ini keliru atau tidak etis. Tapi, pantaskah demonstrasi ini dilakukan ketika dari segi persoalan hukum baik pembawa, pembakar, dan akan menyusul pengunggah videonya sedang diamankan oleh penyelidik kepolisian? Bukankah tindakan yang dilakukan oleh saudara-saudara sesama muslim ini justru merupakan kegiatan yang mubazir? Dan, tidak menghasilkan apapun selain gertakan atau unjuk kekuatan belaka? Ini belum kenyataan kalau dalam demonstrasi tersebut tidak terkendalikan juga apa konten yang dibicarakan karena beberapa fakta menunjukkan kegiatan ini bercampur dengan jejak-jejak yang mengarah pada kampanye calon politik tertentu.

Baca Juga :  Benarkah Menaati Pemerintah Indonesia Menjadi Kafir?

Ini juga jarang diketahui. Ini sebenarnya juga sudah dijabarkan di tulisan M. Khoirul Huda yang saya beri tautannya. Bahwa bendera hitam bertuliskan kalimat tauhid pernah digunakan oleh beberapa pendiri Dinasti ‘Abbasiyyah, dalam rangka menarik simpati keturunan Ahl al-Bayt untuk mendemo/memberontak Dinasti Umayyah. Kisah ini bisa ditelusuri dalam kitab-kitab sejarah. Contoh kecil ini menunjukkan bahwa memang penggunaan simbol agama-pun juga ada yang ditujukan untuk kepentingan perebutan kekuasaan. Artinya, meski bertuliskan kalimat tauhid, tanpa sadar sekelompok muslimin yang hari ini sering menjadikannya sebagai simbol gerakannya sebenarnya sedang menjadikan kalimat tauhid menjadi urusan profan, yaitu politik. Sementara esensi dari kalimat tauhid itu transenden, ilahiyah, bersifat relasi antara hamba dan Tuhannya. Mengapa itu dijadikan alat untuk bersaing sesama hamba untuk urusan duniawi.

Akhiran, semoga kita terus diberikan keberkahan iman dan islam kata, dengan semakin dalam memaknai kalimat tauhid, Laa Ilaaha Illa Allah sebagai akidah yang tertanam di hati dan pandangan hidup kita bahwa tidak ada Yang Paling Berkuasa, Berkehendak, dan Berkasih Sayang kecuali Allah Swt. Inilah diantara intisari beragama.

7 KOMENTAR

  1. Selama DEMO unjuk rasa kpd pemerintah thd pelecehan dg pembakaran bendera tauhid yg dilakukan oleh bbrp anggauta BANSER itu tdak melanggar konstitusi di Republik ini, ya gak apa apa kan !

    • Ngga apa2, tapi dilihat bung banyak manfaat atau mudharat nya?? Apalagi sedang masa akan pemilu, sehingga bentuk demo sangat mudah ditunggangi.. alangkah baiknya jika kita berpikiran lebih dingin.

  2. Selama DEMO unjuk rasa kpd pemerintah thd pelecehan dg pembakaran bendera tauhid yg dilakukan oleh bbrp anggauta BANSER itu tdak melanggar konstitusi di Republik ini, ya gak apa apa kan !

  3. Anda redaksi juga tidak tepat menuliskan la illaha illallah… kalau anda menulis aa berarti Allah itu sedikit panjang berarokat artinya jamak / banyak Allah (Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, Maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (An Nisa: 48).. Kalau tidak mau Indonesia mirip Suriah jangan diperdebatkan dipandang sebelah mata, sebelah kuping… hargai juga tidak akan merugikan Saudara… Kalau selembar kain berwarna putih tergeletak ditanah hal biasa, tapi kalai berada dalam acar keramaian, maka muncul pertanyaan siapa yang meninggal. Kalau kain putih dikibar kibarkan saat perang dan terkepung, itu juga simbol menyerah minta dikasihani.. Kalau kain putih itu diganung dengan ukuran sama panjang dan lebar disatukan dan dikibarkan dalam suatu acara, jatuh kelantai.. tidak akan dibiarkan tergolek dilantai, manusia waras respek terhadap panji NKRI pasti akan membetulkan letaknya. Kain yang semula tidak bernilai dan berharga telah berubah nilai dan hakekatnya. Begitu juga kain hitam bertuliskan kalimah Tauhid agama Islam, hakekatnya juga sudah berubah, sesuatu nilai telah melekat pada kain itu untuk dihargai, dihormati. Membakar itu juga simbol memusnahkan, menghamcurkan, menghilangkan, maka oleh sebab itu maknanya jauh sebagai simbol bahwa membakar kalimah Tauhid di Hari Santtri bermakna panjang menghilangkan kalimat Tauhid pada jiwa anak anak Santri.. Mereka yang membakar itu sekelompok orang suruhan yang tahu untuk apa dia membakar di hari itu, bukan di hari yang lain. Kalau saja tidak ada hari santri, tidak akan ada aksi heroik semacam itu…. siapa orang yang membuat scenario.

    • Kamu juga salah menulis transliterasinya, masa Ilaaha ditulis Illaha…. itu artinya sudah gak Tuhan lagi. Ya sekali lagi mas, ada salah satu yang mendasar tidak terungkap dari narasi yang menyatakan kalau kemarin Banser bersalah karena membakar bendera itu, yaitu pelanggaran kesepakatan. Karena sebelumnya sudah ada kesepakatan untuk tidak membakar bendera apapun kecuali bendera merah putih. Alquran itu memerintahkan kita untuk menunaikan janji loh mas, kok malah dilanggar. Ini harusnya diinsyafi oleh teman-teman yang demo juga.

    • Anda sengaja menulis Tidak ada lagi Tuhan ya?? Astagfirullahaladzim.. anda ini sebenar2nya kafir!!

      Jadi bagaimana pendapat anda kalau reaksi saya demikian?? Anda tau bacaan harakat2nya,masa tidak tau arti yg anda tuliskan?? Saya bisa berpikiran sedemikian, tapi saya memilih khusnudzon, saya percaya anda typo. Jadi tidak ada yg perlu dibesar2kan lagi.. anda salah,mengoreksi diri, dan berubah lebih baik sudah cukup. Saya tidak perlu membuat tuntutan ke kepolisian perihal tulisan anda. Terimakasih.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here