Akikah dan Akomodasi Islam Terhadap Budaya

1
2052

BincangSyariah.com – Sebelum kedatangan Islam, bangsa Arab telah memiliki peradaban dan kebudayaan dengan berbagai sistem kepercayaan dan adat istiadat. ketika Islam datang, masyarakat Arab dihadapkan dengan agama yang memperkenalkan sistem yang berbeda dengan yang mereka kenal sebelumnya. Islam hadir menawarkan pandangan dan konsep keimanan baru serta merevisi tiga kepercayaan yang di anut bangsa Arab saat itu, yaitu Paganisme, Yahudi, dan Kristen.

Konteks dan kondisi sosial waktu itu masih sangat patriarkhal, dimana hegemoni lak-laki atas perempuan sangat kuat. Sistem nilai yang berlaku waktu itu juga masih sangat minor dalam memandang perempuan bahkan kehadiran bayi perempuan kurang disukai. Pertanyaan yang menarik untuk kita ajukan adalah Apakah Islam bisa mengakomodasi berbagai sistem yang telah ada, termasuk tradisi yang hidup di tengah masyarakat Arab saat itu ? Apakah ajaran Islam merubah sama sekali tradisi yang telah ada dan menggantinya dengan tradisi baru ? atau Islam bisa merangkul tradisi lama selama tidak bertentangan dengannya, kemudian dimodifikasi dalam bentuk yang baru?

Salah satu hadis yang menarik untuk kita perhatikan adalah hadis-hadis tentang akikah, salah satunya adalah:

عن أَبِي بُرَيْدَةَ يَقُولُ كُنَّا فِي الْجَاهِلِيَّةِ إِذَا وُلِدَ لِأَحَدِنَا غُلَامٌ ذَبَحَ شَاةً وَلَطَخَ رَأْسَهُ بِدَمِهَا فَلَمَّا جَاءَ اللَّهُ بِالْإِسْلَامِ كُنَّا نَذْبَحُ شَاةً وَنَحْلِقُ رَأْسَهُ وَنُلَطِّخُهُ بِزَعْفَرَانٍ

Dari Buraidah ia berkata, “Pada zaman Jahiliyah, ketika di antara kami ada yang melahirkan anak, kami akan menyembelih satu ekor kambing, lalu kepala si bayi dioleskan dengan darah kambing tersebut. Namun ketika Islam datang kami menyembelih satu kambing, mencukur rambut bayi, dan mengoleskan minyak za’faran pada kepala bayi.” (HR. Abu Daud)

Informasi yang disampaikan hadis ini menunjukan bahwa pada zaman jahiliyah sebenarnya sudah ada tradisi menyembelih hewan untuk menyambut kedatangan bayi. Hanya saja prakteknya berbeda, yaitu bahwa ketika kambing itu di sembelih, maka darahnya kemudian dilumurkan di kepala bayi yang baru lahir. Ini adalah tradisi lama.

Baca Juga :  KOMUJI: Dakwah Sambil Bernyanyi

Islam juga mengadopsi tradisi ini, namun dalam bentuk yang berbeda. Nabi Muhammad memerintahkan agar rambut bayi yang baru lahir dicukur ketika penyembelihan aqiqah. Tradisi menyembelih kambingnya tetap dipelihara, sedangkan tradisi melumuri rambut kepala dengan darah diganti dengan mencukurnya. Hal ini menunjukan bahwa Islam bersifat Akomodatif sekaligus reformatif terhadap tradisi atau budaya.

Islam memiliki karakter yang lentur dan terbuka ketika berhadapan dengan tradisi lain di luar Islam. Hal ini berpengaruh terhadap cara dan pola berfikir para Ulama dalam memahami dan mengekspresikan ajaran Islam. Kita mengenal adanya kaedah al-‘Aadah Muhakkamah, adat istiadat bisa dijadikan pijakan hukum. Kaidah ini merupakan manifestasi dari ajaran Islam yang selalu terbuka dengan hal-hal yang baru.

Tradisi dan budaya bisa dijadikan sarana untuk menerapkan ajaran Islam yang tidak punya pola baku dalam pelaksaannya. Misalnya, Islam mengajarkan untuk menghormati orang tua. Yang diperintahkan adalah “hormat”nya, namun bagaimana cara hormatnya tidak ada ketentuan bakunya dalam Islam. Di sinilah tradisi bisa masuk. Akibatnya, kita melihat ekspresi menghormati orang tua di berbagai wilayah berbeda. Di Barat misalnya, seseorang dikatakan hormat apabila ia menatap mata orang tuanya saat berbicara, namun di Timur, menatap mata kedua orang tua dianggap tidak sopan.

Ketika Islam masuk ke Nusantara, para Ulama kita melakukan pendekatan dakwah yang bersifat akomodatif terhadap tradisi dan adat-istiadat setempat. Masyarakat Nusantara suka memelihara kebersamaan (kolektifitas), menghargai leluhur, ramah dan terbuka. Karakter inilah yang terlihat dalam tradisi keagamaan di Nusantara. Dari sinilah muncul tradisi tahlilan, ziarah kubur, acara selamatan, dst.

Secara substansi, tidak ada praktek-praktek tersebut yang bertentangan dengan ajaran Islam. Semuanya berlandaskan ajaran islam. Yang berbeda hanyalah ekspresi masyarakat Nusantara dalam mengamalkannya.

Baca Juga :  Anjuran Dan Keutamaan Berbagi Takjil

1 KOMENTAR

  1. Hadis itu hanya menunjukan dijaman jahiliyah ada aqiqoh…tidak menunjkkan ajaran jahiliyah….sebab bisa jadi aqiqoh bagian dari ajaran nabi Ibrahim….sebagaimana ibadah haji yang diselewengakan oleh jahiliyah dengan thowaf telanjang.tiak sama sekali islam mengadopsi ajaran jahiliyah ..tapi islam mengembaikan ajaran ibrahim yang dibelokkan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here