Akhlak terhadap Allah dan Rasul Menurut Ibnu Taimiyah

0
460

BincangSyariah.Com – Ketaatan kepada Allah Swt. dan Rasul-Nya akan mendatangkan kebaikan dunia dan akhirat bagi pelakunya. Kita pun dituntut untuk memiliki akhlak terhadap Allah dan Rasul. Namun, sebagai manusia biasa, orang-orang yang beriman kepada Allah Swt. dan Rasul-Nya dihadapkan pada musibah. (Baca: Saat Ditimpa Musibah, Baca Doa Ini Agar Diganti Nikmat yang Lebih Baik)

Hal tersebut adalah akibat dari dosa, bukan karena ketaatan mereka, seperti apa yang terjadi saat Perang Uhud. Bencana yang menimpa para pejuang di Perang Uhud adalah akibat dari dosa mereka, bukan akibat dari ketaatan mereka kepada Allah dan Rasulullah Saw.

Seorang mukmin sejati akan menyadari bahwa perbuatannya adalah untuk Allah Swt. sebab Dia yang disembah, dan terwujud dengan bantuan Allah Swt. lantaran Dia yang dimintai tolong. Saat berbuat baik kepada seseorang, ia tidak berharap upah atau balasan darinya sebab semua itu dilakukan semata-mata untuk Allah Swt.

Kita sering menemukan, ada sebagian orang yang apabila berbuat baik kepada orang lain, ia lalu mengungkit-ungkitnya dalam rangka mengharap balasan dalam bentuk kepatuhan, penghormatan, dan lain sebagainya.

Sebagai misal, ada yang mengatakan, “Aku kan telah melakukannya untukmu.” Orang yang berkata semacam itu sebenarnya tidak menyembah Allah Swt, dan tidak meminta pertolongan kepada-Nya. Sesungguhnya, ia tidak beramal untuk-Nya dan tidak dengan pertolongannya, maka ia adalah orang yang riya’.

Menurut Ibnu Taimiyah dalam Al-Hasanah wa al-Sayyi’ah (Serambi Ilmu Semesta, 2005), apabila si pemberi mengharap ganjaran dari Allah Swt. dengan meyakini janji-Nya, pasti ia akan meminta dari-Nya, bukan dari orang yang diberi. Apalagi jika ia menyadari bahwa Allah-lah yang telah menganugerahinya kemampuan untuk memberi dan berbuat baik pada orang lain.

Baca Juga :  Ilmu Itu di Dalam Hati, Tapi Hari Ini?

Ibnu Taimiyah menyatakan, tidak berbeda dengan akhlak kita kepada Rasul-Nya, siapapun Rasul dan Nabi itu, sesungguhnya Allah Swt. Maha Adil lagi Maha Bijaksana. Allah Swt. memerintahkan para Rasul agar ajaran dan agama mereka satu, tanpa ada perbedaan di dalamnya.

Dalam Shahih Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa Nabi Saw. bersabda, “Wahai para nabi, agama kita adalah satu.” Maka dari itu, sebagian Nabi dan Rasul membenarkan sebagian lainnya. Mereka tidak berselisih, meskipun syariatnya berbeda-beda.

Orang yang termasuk menjadi panutan yakni ulama, guru, menteri, atau penguasa yang baik, kita hendaknya mengikuti apa yang mereka suruh, mengajak kepada apa yang mereka ajak, dan mencintai orang yang mengajak sepertinya. Tentu saja untuk hal-hal yang diridhai oleh Allah Swt.

Sebab, Allah Swt. mencintai hal tersebut. Hendaknya seorang Muslim mencintai apa yang Allah Swt. cintai dan menjadikan hal ini sebagai tujuannya, menjadikan ibadahnya untuk Allah Swt. semata dan hanya tunduk kepada-Nya.

Orang mukmin yang mengikuti Rasul akan memerintahkan manusia seperti yang diperintah para rasul yakni agar manusia taat hanya kepada-Nya. Apabila ada orang lain berbuat sepertinya, ia akan mencintai dan membantunya, serta merasa senang dengan terwujudnya sesuatu menjadi keinginannya.

Berbuat baik kepada manusia mestinya semata-mata hanya untuk mencari ridha Allah Swt. Seorang Muslim harus menyadari bahwa Allah Swt. telah mengaruniakannya bisa berbuat baik dan tidak menjadikannya jahat. Sehingga, ia meyakini bahwa amalnya adalah untuk Allah Swt. dan terwujud karena bantuan Allah Swt.

Taat kepada Rasul serta berjihad di dalamnya adalah bagian dari wujud mengikuti tauhid dan ajaran Ibrahim As. Demikian juga dengan para Nabi yang lain. Hal ini berarti tunduk secara ikhlas kepada Allah Swt. dan menyembah-Nya sesuai dengan perintah berbuat baik yang Dia gariskan lewat lisan para Rasul.[]

Baca Juga :  Apakah Penerapan Jizyah Masih Relevan?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here