Akhlak Menghadapi Kesenangan dan Kesulitan Menurut Ibnu Taimiyah

0
104

BincangSyariah.Com – Ada cara tersendiri dalam menghadapi kesenangan dan kesulitan hidup. Manusia diberikan sifat baik dan buruk, juga kesenangan dan kemudahan dalam hidup. Pada dasranya, keburukan datang dari diri manusia sendiri.

Tak bisa dipungkiri, manusia adalah makhluk yang keji dan tercela. Diri manusia yang tersifati dengan sifat keji Allah Swt. gambarkan dalam QS. An-Nur: 26.

ٱلْخَبِيثَٰتُ لِلْخَبِيثِينَ وَٱلْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَٰتِ ۖ وَٱلطَّيِّبَٰتُ لِلطَّيِّبِينَ وَٱلطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَٰتِ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ مُبَرَّءُونَ مِمَّا يَقُولُونَ ۖ لَهُم مَّغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ

Al-khabīṡātu lil-khabīṡīna wal-khabīṡụna lil-khabīṡāt, waṭ-ṭayyibātu liṭ-ṭayyibīna waṭ-ṭayyibụna liṭ-ṭayyibāt, ulā`ika mubarra`ụna mimmā yaqụlụn, lahum magfiratuw wa rizqung karīm

Artinya: “Perempuan-perempuan yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat perempuan-perempuan yang keji (pula), dan perempuan-perempuan yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk perempuan-perempuan yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia (surga).”

Sebagian besar ulama generasi salaf berpendapat bahwa maksud dari ayat tersebut adalah kata-kata yang buruk merupakan milik orang-orang yang buruk. Ada pula yang berpendapat bahwa maksud ayat di atas adalah perkataan dan perbuatan yang buruk adalah milik orang yang buruk. Apabila seorang manusia memiliki watak jelek dan buruk, maka posisi yang tepat adalah yang sesuai dengannya.

Lantas bagaimana akhlak menghadapi dan kesenangan dan kesulitan di dunia?

Menurut Ibnu Taimiyah, selain bersyukur, seorang manusia juga perlu menjaga kesabarannya dalam artian bersabar saat menghadapi nikmat kesulitan. Sementara itu, maksud dari bersabar dalam menghadapi nikmat kesenangan adalah tetap sabar untuk taat di dalamnya.

Baca Juga :  Hukum Ikut Jual Beli Barang Lelang di Pegadaian

Ujian kesenangan dalam hidup lebih berat ketimbang ujian kesulitan. Sebagian ulama salaf berkata, “Saat diuji dengan kesulitan, kami bisa bersabar. Tapi apabila diuji dengan kesenangan, kami tidak bisa bersabar.” Dalam sebuah hadits bahkan disebutkan, “Aku berlindung kepada-Mu dari ujian kemiskinan dan jahatnya ujian kekayaan.”

Banyak orang yang berlaku baik saat dalam kondisi miskin. Tapi, kita tentu melihat jarang sekali ada orang baik saat dilimpahi nikmat kekayaan. Maka dari itu, sebagian besar yang masuk ke dalam surga adalah orang miskin, sebab ujian kemiskinan lebih ringan.

Kedua nikmat tersebut memang memerlukan sikap sabar dan syukur sebab dalam kesenangan ada kenikmatan dan dalam kesulitan ada penderitaan. Maka, sikap syukur diperlukan dalam kondisi senang dan sikap sabar dibutuhkan dalam kondisi sulit.

Dalam buku Al-Hasanah wa al-Sayyi’ah (Serambi Ilmu Semesta, 2005), Ibnu Taimiyah menyatakan bahwa orang yang berada dalam kesenangan lebih perlu bersyukur, sedangkan orang yang berada dalam kesulitan lebih perlu bersabar.

Dari ungkapan Ibnu Tiamiyah ini kita bisa menyimpulkan bahwa bersabar dalam kondisi sulit dan bersyukur dalam kondisi senang adalah sebuah kewajiban. Sementara itu, jika seseorang tidak berbuat demikian, maka ia berhak mendapatkan hukuman.

Kita tahu, dosa yang diperbuat manusia adalah dosa yang berasal dari dirinya sendiri. Maka, menghindarkan diri dari berbagai perilaku yang menyimpang, hanya bisa dilakukan dengan kembali kepada dua sumber utama Islam. Siapa pun yang mengambil petunjuk dari keduanya, niscaya ia tidak akan tersesat. Kedua sumber tersebut adalah Al-Qur’an dan Sunnah.

Lalu, bagaimana cara terbaik untuk mengikuti Al-Qur’an dan Sunnah?

Cara yang terbaik untuk mengikuti keduanya adalah cara yang telah dipergunakan oleh generasi terbaik umat Islam yakni para sahabat dan yang mengikuti mereka dalam memahami petunjuk-petunjuk yang ada di dalam keduanya.

Baca Juga :  Hadis-Hadis tentang Doa Saat Kesulitan atau Membutuhkan Sesuatu

Ibnu Taimiyah juga mengatakan bahwa agar manusia tidak tergelincir dan terhindar dari hal-hal yang meragukan (al-musytabihat), sudah semestinya manusia selalu berpegangan dengan apa yang telah disunnahkan oleh Nabi Muhammad Saw. dan para sahabatnya, serta siapa pun yang mengikuti mereka dengan baik yakni dengan menolak setiap ajaran yang bertentangan dengan petunjuk yang diwariskan mereka secara mutawatir dan masyhur.[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here