BincangSyariah.Com – Wahabisme itu doktrin Kerajaan Arab Saudi yang hampir sulit untuk dimusnahkan dari tanah kelahirannya. Coba saja lihat, Raja Faisal, raja ketiga Arab Saudi yang reformis itu akhirnya mati terbunuh di tangan keponakannya sendiri, Faisal bin Musaid bin Abdul Aziz.

Raja Arab Saudi yang pernah mengunjungi Indonesia pada tahun 70-an ini, mempunyai gagasan pro-Palestina dan anti-Barat. Raja yang lahir pada 1906 ini juga berupaya mengakomodir ideologi dan gagasan di luar Wahabisme. Sementara itu, Wahabisme garis keras diyakini beberapa pengamat sebagai akar dari terorisme.

Mohon maaf, beberapa jebolan LIPIA (Lembaga Pendidikan milik Arab Saudi) di Indonesia terlibat dalam aksi terorisme, sebut saja Aman Abdurrahman, Abdullah Sonata. Walaupun hal ini tidak bisa digeneralisir. Tapi faktanya, LIPIA memang menyumbang melahirkan kelompok radikal.

Datanglah Raja Arab Saudi keenam, Raja Abdullah bin Abdul Aziz yang ingin meniru Raja Faisal yang reformis itu. Namun, pemikiran reformasi Raja Abdullah ditolak keras oleh Ulama Wahabi Arab Saudi waktu itu, Saleh bin Muhammad Al-Haidan.

Saleh Al-Haidan ini orang dekatnya Menteri Dalam Negeri Saudi pada masa Raja Abdullah bin Abdul Aziz, Pangeran Nayef bin Abdul Aziz yang menentang keras kebijakan Raja Abdullah untuk mengakomodasi “pihak luar” yang tidak sejalan dengan ideologi nenek moyang Kerajaan Arab Saudi. Selain itu, Pangeran Sultan bin Abdul Aziz yang merupakan saudara kandung Nayef juga menolak mentah-mentah ide reformasi Raja Abdullah.

Perlu diketahui, saat itu Pangeran Nayef dan Pangeran Sultan sebagai keturunan Raja Abdul Aziz yang masih satu ibu, Hassa binti Ahmed Al-Sudairi. Sementara itu, Raja Abdullah keturunan Raja Abdul Aziz dari istri yang bernama Fahda binti Asi Al-Shuraim. Nah, dominasi klan Al-Sudairi semasa pemerintahan Raja Abdullah masih sangat kuat sekali. Satu nama yang berpengaruh pada masa Raja Abdullah menjabat itu Pangeran Salman yang kini menjadi Raja Arab Saudi sejak 2015.

Baca Juga :  Hukum Mengucapkan Selamat Natal

Raja Salman termasuk dari klan ibu Al-Sudairi. Saat Raja Abdullah menjabat, Salman masih menjabat sebagai Gubernur Riyadh, Ibukota Arab Saudi. Dia belum menjadi raja, masih pangeran. Tiga ‘Sudairi’ bersaudara, Nayef, Sultan, Salman (Raja Arab Saudi saat ini), orang yang paling berpengaruh mempertahankan Wahabisme di Tanah Suci. Nayef meninggal pada 2012 silam di Swiss karena menderita sakit jantung. Sementara itu, Sultan bin Abdul Aziz lebih dulu wafat pada 2011 karena mengidap penyakit kanker.

Kini tinggal Raja Salman di antara Tiga ‘Sudairi’ yang berpengaruh dalam mempertahankan ideologi wahabi di Arab Saudi. Hal ini bertolak belakang dengan pidato-pidato Raja Salman saat mengunjungi Indonesia. Raja Salman sangat mengapresiasi Pemerintah Indonesia yang dapat menanggulangi terorisme dengan baik. Bahkan Raja Salman memberikan hadiah haji bagi keluarga Densus 88 yang menjadi korban saat memerangi teroris.

Apakah ini pertanda Raja Salman telah merubah kebijakan Kerajaan Arab Saudi terkait doktrin wahabisme yang sulit dimusnahkan sejak berabad-abad? Hal ini mengingat beberapa tahun silam, Tanah Suci Madinah sempat diserang teroris. Raja Salman akhirnya menyadari bahaya terorisme yang lahir dari doktrin Wahabisme. Atau apakah Raja Salman sedang melakukan diplomasi semu atau taqiyyah terkait ideologi Wahabi yang dianut Arab Saudi? Mari kita berdoa, mudah-mudahan saja Raja Salman memang benar-benar mampu mereformasi pemahaman Wahabi garis keras dari Tanah Suci.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here