Perbedaan Akad di Pasar Tradisional, Pasar Online dan Pasar Bursa

0
19

BincangSyariah.Com – Hari ini, sedikitnya ada tiga kategori pasar yang dikenal oleh masyarat, yaitu: 1) Pasar Tradisional, 2) Pasar Online, dan 3) Pasar Bursa. Dari ketiga pasar ini, dalam realitasnya memiliki ciri dan watak tersendiri dalam transaksinya.

Kali ini, artiikel ini akan membahas ketiganya. Pentingnya melakukan identifikasi terhadap ketiganya merupakan yang sangat berfaedah untuk dijadikan landaasan berfikir pada kajian-kajian akad yang berbasis pasar.

Pasar Tradisional

Pasar tradisional, memiliki ciri utama sebagai majelis tempat bertemunya penjual dan pembeli secara langsung. Di dalamnya terdapat harga dan barang yang disampaikan secara langsung oleh penjual dan pembeli. Atau setidaknya, salah satu harga atau barang, merupakan yang bisa secara langsung diserahterimakan di majelis akad.

Penyerahan barang dan harga secara langsung, dikenal dengan istilah jual beli. Pihak pembeli menyerahkan uang, sementara pihak penjual menyerahkan barang.

Penyerahan baarang dengan barang dikenal dengan istilah barter (mu’awadlah). Bila hal itu terjadi pada barang ribawi (emas dan perak), maka dikenal dengan istilah akad sharf.

Penyerahan yang terjadi pada harga terlebih dulu untuk suatu barang yang belum ada, dikenal dengan istilah akad pesan barang (bai’ salam). Syarat kebolehannya, adalah barang harus bersifat diketahui karakteristiknya dan harganya sudah ditentukan.

Penyerahan yang terjadi pada barang terlebih dulu, sementara harga diserahkan mendatang, maka akad semacam ini dikenal dengan istilah bai’ bi al-ajal (jual beli tempo). Syarat kebolehannya, adalah harga sudah ditentukan saat di majelis akad. Harga tidak boleh berubah seiring terjadi penundaan pelunasan. Bertambahnya harga karena terjadi penundaan saat ditagih, menyebabkan jatuhnya kedua pihak dalam transaksi riba al-yad (riba akibat jual beli tempo).

Cabang dari penyerahan barang dulu dengan harga diserahkan kemudian, namun ditetapkan batas waktu jatuh tempo angsurannya, dikenal dengan istilah akad kredit (nasiah). Syarat kebolehannya, adalah harga harus sudah ditentukan terlebih dulu saat di majelis akad, dengan jatuh tempo yang sudah diketahui.

Ketentuan lain di dalam akad kredit ini, adalah pada saat tiba waktu jatuh temponya pelunasan (waqtu al-hulul), namun pihak pembeli belum bisa menunaikan pelunasan, maka tidak boleh terjadi perubahan pada harga yang sudah disepakati duluan. Bila terjadi perubahan, maka seolah telah terjadi bai’ al-dain bi al-dain, yaitu jual beli “harga terutang lama” dengan “harga terutang baru”.

Misalnya, harga lama 100 ribu, dibeli dengan harga baru sebesar 110 ribu, sebagai konsekuensi penundaan. Akad semacam ini dilarang disebabkan karena masuk rumpun riba nasiah (riba kredit), yaitu adanya skema harga baru disebabkan tidak terlunasinya skema harga lama.

Pasar Online

Pasar online, pada dasarnya merupakan cabang dari pasar tradisional, dengan mengambil rumpun modifikasi pada penyerahan antara harga dan barang, serta tidak dapat bertemunya antara penjual dan pembeli secara langsung. Harga diserahkan dalam bentuk transfer antar rekening, sehingga masuk dalam rumpun akad hiwalah, sebab ada pihak ketiga yang turut serta terlibat di dalamnya, yaitu perbankan. Harga yang diserahkan secara nilai ini, dikenal juga sebagai akad mal maushuf fi al-dzimmah (harta terutang yang bersifat terjamin).

Mengapa disebut harta maushuf fi al–dzimmah? Jawabnya adalah karena pihak yang mendapatkan transfer masuk ke rekeningnya, belum menerima uang secara fisik melainkan hanya dalam bentuk notifikasi (pemberitahuan) saja, yaitu pemberitahuan bahwa telah ada transfer masuk.

Adapun barang, juga ada dalam bentuk maushuf fi al-dzimmah, sampai kemudian diterima secara fisik oleh pembelinya. Ketiadaan salah satu harga atau barang maushuf fi al-dzimmah bisa diterima secara fisik dan tanpa adanya jaminan, menandakan  telah terjadi praktik bai’ ma’dum (jual beli fiktif). Hukum jual beli barang fiktif adalah haram secara syara’.

Pasar Bursa

Di dalam pasar bursa, kedua harga dan barang sama-sama ada dalam bentuk maaushuf fi al-dzimmah. Masing-masing pihak penjual dan pembeli, diwakili transaksinya oleh pihak lain yang berperan selaku broker.

Karena baik harga dan barang sama-sama ada dalam bentuk bentuk sesuatu yang bisa disifati saja, maka akad yang diperankan adalah akad hiwalah. Adapun pihak broker, menduduki peran wakil, atau peran yang diupah atas jasanya memperantarai perdagangaan.

Jika broker berperan selaku wakil yang diupah, maka akad yang berlaku antara penjual dan broker adalah akad wakalah bi al-ujrah (akad mewakilkan yang disertai upah membayar wakil).

Jika broker berperan selaku orang yang diupah saja untuk menempati peran menunjukkan barang, maka akad yang berlaku antara pembeli dan broker adalah akad ijarah dilal (sewa jasa penunjuk barang).

Secara umum, akad jual beli antara trader dan pedagang berjangka, adalah akad hiwalah (oper tanggungan). Syarat kebolehannya, adalah jumlah tanggungan yang ditanggung oleh broker harus sama besar dengan harga barang yang disepakati di majelis akad. Akad ini umumnya kita kenal dengan istilah spot. Di dalam Spot, meniscayakan  wajibnya harga dan barang disampaikan secara “tunai”, cabang dari “kontan”.

Apabila bila barang disammpaikan dengan adanya penundaan, maka akad yang berlangsng dikenal dengan istilah swap, feature dan forward.

“Swap” menduduki maqam jual beli tempo. Features menduduki maqam jual beli kredit. Adapun forward menduduki maqam jual beli .salam. Wallahu a’lam bi al-shawab

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here