Akad Menggunakan Bahasa Arab dan Saksi Tidak Memahami, Sahkah Pernikahannya?

0
1594

BincangSyariah.Com – Pernikahan adalah sesuatu yang sangat krusial. Ia harus dilakukan secara sangat hati-hati. Sebab jika tidak, akan banyak konsekuensi hukum syariat yang akan ditanggung. Pernikahan adalah sebuah akad yang akan menghalalkan hubungan kasih antara dua orang yang berlainan jenis. Juga akan menyambung hubungan keluarga di antara mereka.

Dalam Sulam al-Taufiq Syaikh Abdullah mengatakan bahwa seseorang haruslah benar-benar mempelajari hukum syariat utamanya dalam permasalahn akad-akad muamalah supaya ia tidak terjerumus dalam transaksi-transaksi yang dilarang oleh syariat seperti riba dan lannya. Dalam hal ini beliau lebih menekankan lagi dalam permasalahan akad nikah. Ia harus dilakukan dengan sangat hati-hati.

Seperti yang dikatakan oleh Syaikh Nawawi Al-Bantani, konsekuensi jika pernikahan tidak dilakukan dengan benar sangat berat, seperti hubungan yang dilakukan suami isteri distatuskan zina, putusnya tali nasab, hilangnya hak perwalian dari ayah, hilangnya hak warisan, dan seterusnya.

Dewasa ini sering kita menemui akad nikah baik yang dilakukan oleh seorang ulama atau penghulu dari KUA melakukan akad nikah dalam bahasa Arab. Namun saksi yang dihadirkan terkadang tidak mengerti makna dan tidak mampu berbahasa Arab. Padahal kita tahu bahwa keabsahan nikah salah satunya adalah bergantung pada saksi. Dalam kondisi seperti ini, sahkah pernikahan ketika saksi tidak memahami bahasa yang digunakan saat akad?

Dalam Fath al-Mu’in Al-Malibari menyatakan bahwa hukum pernikahan tersebut tetap sah apabila dua orang saksi tersebut meski tidak tahu persis arti dari kata-kata yang diucapkan oleh orang yang melakukan ijab kabul, namun ia mengerti bahwa kata-kata tersebut dibuat untuk akad nikah. Berikut statement lengkapnya,

وَلَوْ عَقَدَ الْقَاضِي النِّكَاحَ بِالصِّيْغَةِ الْعَرَبِيَّةِ لِعَجَمِيٍّ لَا يَعْرِفُ مَعْنَاهَا الْأَصْلِيَّ بَلْ يَعْرِفُ أَنَّهَا مَوْضُوْعَةٌ لِعَقْدِ النِّكَاحِ صَحَّ كَذَا أَفْتَى بِهِ شَيْخُنَا وَالشَّيْخُ عَطِيَّةُ

Baca Juga :  Telaah Kasus Tuti Tursilawati: Penerapan Pidana Islam yang Keliru

“Jika seorang penghulu mengakadi nikah dengan menggunakan bahasa Arab pada orang yang tidak mengerti bahasa Arab dan ia tidak tahu apa makna yang diucapkan oleh penghulu tersebut, namun ia tahu bahwa kata-kata itu merupakan kata-kata untuk akad nikah maka hal itu dihukumi sah. Begitulah yang difatwakan oleh guru kami (Syaikh Ibn hajar Al-Haitami) dan Syaikh Ibn ‘Athiyyah.”

Meski, demikian selayaknya kita memilih jalan ihthiyath (lebih berhati-hati) dalam permasalahan ini dengan tetap memilih saksi-saksi yang benar-benar berkompeten. Atau langsung saja melakukan akad nikah menggunakan bahasa Indonesia. Wallahu a’lam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here