Ajaran Tasawuf dan Kenapa Generasi Milenial Penting Mempelajarinya

1
1314

BincangSyariah.Com –  Dalam kehidupan yang dilingkupi perkembangan teknologi dan informasi, ajaran tasawuf justru semakin relevan diketengahkan. Problematika kehidupan manusia lahir dari diabaikannya aspek agama yang berupa ihsan. Muslim modern hanya berhenti di level keyakinan dan ritual Islam. Aspek ihsan yang direpresentasikan oleh tasawuf seringkali dipinggirkan. Sehingga misi kemanusiaan tidak menjadi spirit dalam beragama.

Gelombang arus digitalisasi di setiap sektor kehidupan menjadikan generasi milenial memainkan perananan yang signifikan. Akses mereka terhadap dunia digital memudahkan mereka dalam mempelajari apapun, termasuk di dalamnya tentang Islam. Sayangnya motivasi belajar agama melalui dunia maya lebih berorientasi pada persoalan fikih semata. Generasi milenial lebih fokus pada pencariannya tentang mana yang benar dan mana yang salah, mana yang boleh dan tidak, dan mana yang halal dan mana yang haram.

Simplifikasi ajaran agama sebatas benar-salah dan halal-haram membawa mereka masuk ke dalam cara beragama yang hitam-putih. Mereka memahami ajaran agama sebagai bentuk yang tunggal. Sedangkan sebenarnya, bagi kita orang awam, apa yang kita anggap sebagai ajaran agama tidak ubahnya merupakan pemahaman terhadapa agama, bukan agama itu sendiri. Maka terjadi apa yang di dalam bahasa Arkoun disebut dengan Taqdis al-Afkar al-diniyyah (sakralisasi pemikiran keagamaan) yang menjadi penghambat kemajuan peradaban.

Menghadirkan tasawuf di tengah kondisi demikian setidaknya membuka kesadaran bahwa perilaku toleran terhadap yang berbeda adalah keniscayaan. Asumsi kebenaran agama itu tunggal dengan sendirinya terpatahkan dengan beragamnya pemahaman keagamaan. Tanpa sikap atau akhlak dalam beragama, agama akan kehilangan elan vitalnya sebagai pembawa kasih sayang bagi semesta alam.

Konsep-konsep dalam tasawuf perlu diperkenalkan kepada generasi milenial agar wajah agama nampak penuh kasih sayang. Konsep mahabbah-nya para sufi misalnya bisa dipakai untuk menjelaskan bagaimana Tuhan mengajarkan hambanya yang sekaligus khalifahnya di bumi sebagai makhluk yang dilingkupi cinta. Bahkan, terciptanya alam semesta ini, menurut Ibnu Arabi berasal dari kasih sayang (rahmat) Allah. Maka aneh jika dalam mengelola semesta, manusia justru memunggungi spirit kasih sayang.

Baca Juga :  Apa Tujuan Allah Memberikan Nikmat pada Hamba-Nya?

Kisah nabi Muhammad yang tidak marah dan mengedepankan mahabbah kepada umatnya saat diremehkan, diejek, dikucilkan, bahkan dilempari batu dan kotoran adalah teladan yang gamblang. Misi kerasulan nabi sebagai penyempurna akhlak harus kembali digaungkan di tengah sunyi dan nihilnya persoalan moralitas di kehidupan kita.

Dengan tasawuf, manusia tidak dipandang dari aspek lahiriyahnya saja. Ada sisi rohani yang justru harus diperhatikan. Kegagalan Barat dalam memajukan peradaban dunia dengan laju perkembangan teknologinya menafikan peran agama, terutama dari sisi rohaninya. Aspek ‘materi’ bagi Barat adalah hakikat dan inti dalam memajukan peradaban dunia. Dampaknya sebagaimana kita lihat, modernitas membawa problem kemanusiaan yang cukup serius.

Pengabaian ini wajar jika terjadi di Barat. Mereka  memiliki perasaan traumatik secara historis terhadap agama. Tapi dalam konteks peradaban Timur, Indonesia khususnya, agama adalah penggerak dan motivasi paling mendasar dalam mengatur perilaku manusia. Oleh karena itu, jika agama diposisikan sebagai driver, maka ia harusnya menyetir dan mengarahkan manusia menuju kebaikan-kebaikan (ihsan).

Kebalikannya, jika agama dijadikan manusia sebagai motivasi untuk menyakiti, melukai bahkan membunuh, maka ada persoalan serius dalam posisi agama sebagai sumber kebaikan. Sehingga, sudah saatnya manusia meletakkan agama sebagai inspirasi atas kebaikan (ihsan) dan pancaran ihsan dimanifestasikan oleh tasawuf. Maka, sudah saatnya generasi milenial mengenal ilmu tasawuf.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here