Air untuk Mandi Junub Tak Ada, Bolehkah Istri Menolak Berhubungan Intim dengan Suami?

0
1182

BincangSyariah.Com – Air adalah hal penting yang dibutuhkan oleh umat di seluruh dunia. Apakah itu untuk minum, memasak, mandi hingga mencuci. Tanpa air, maka manusia akan sulit bertahan hidup. Indonesia sendiri adalah salah satu negara yang juga mengalami masalah air bersih (di sejumlah daerah).

Ketersediaan air bersih di beberapa daerah dari waktu ke waktu menjadi permasalahan yang belum terpecahkan. Bagi masyarakat perkotaan misalnya, mereka dipaksa untuk menentukan pilihan dalam memenuhi kebutuhan air bersihnya. Pilihan tersebut, yaitu dengan membuat sumur air tanah atau membeli dari perusahaan daerah air minum (PDAM).

Masalahnya bukan hanya sampai di situ, bagi masyarakat perkotaan dengan ekonomi ke bawah pilihan seperti itu bukanlah pilihan yang mudah. Mengingat, jika menggali sumur air tanah, warga harus mengeluarkan biaya yang tinggi. Sementara, jika membeli dari PDAM, biaya berlangganan setiap bulan juga bisa dibilang tidak murah.

Berhubung air ini salah satu hal yang akan digunakan dalam beribadah. Misal mandi junub, maka perlu air. Tetapi Islam memberikan  keringanan kepada umatnya untuk beribadah jika ibadah yang akan dijalankan itu membutuhkan air. Karena Islam adalah agama yang rahmatan lil’alamin. Sebagaimana firman Allah:

وَما أَرْسَلْناكَ إِلاَّ رَحْمَةً لِلْعالَمِينَ

“Kami tidak mengutus engkau Wahai Muhammad, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh manusia.” (QS. al-Anbiya: 107)

Tersebab itu, tidak ada air bukan penghalang bagi seseorang untuk menghindari hadas, baik besar maupun kecil. Karena Allah telah memberikan pengganti cara bersuci bagi mereka yang tidak memiliki air atau tidak mampu menggunakan air, yaitu dengan tayamum.

Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ مِنْهُ

Baca Juga :  Banyak Puasa, Diantara Cara Nabi Menyambut Bulan Sya'ban

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan salat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu…” (QS. al-Maidah: 6)

Pada ayat di atas, Allah menjelaskan 3 bentuk bersuci; wudu sebagai alat bersuci untuk hadas kecil, mandi besar sebagai alat bersuci untuk hadas besar dan tayamum sebagai cara bersuci pengganti wudu dan mandi bagi mereka yang tidak memiliki air, bisa karena safar (perjalanan) atau tidak mampu menggunakan air, seperti sakit.

Islam tidak pernah mengajarkan bahwa seseorang diminta untuk menahan kentut gara-gara tidak memiliki air untuk berwudu. Karena ketika tidak ada air, orang yang mengalami hadas kecil bisa tayamum. Demikian pula, tidak ada anjuran untuk menghindari hadas besar (hubungan badan), disebabkan tidak ada air. Karena ketika tidak ada air, mandi besar bisa digantikan dengan tayamum.

Seperti halnya di Indonesia, ada di sebagian wilayah yang masih kesulitan air. Sehingga mereka tidak bisa mandi. Pergi ke tempat pemandian pun perlu biaya. Jika, hanya untuk mandi semata.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah pernah mendapatkan pertanyaan tentang wanita yang diajak berhubungan badan suaminya, sementara tidak memungkinkan baginya untuk masuk ke pemandian, karena tidak memiliki uang untuk bayar biaya masuk atau karena sebab yang lain. apakah dimakruhkan bagi suaminya melakukan berhubungan intim dengannya dalam kondisi semacam ini?

Baca Juga :  Hukum Berwudlu Ketika Hendak Bersetubuh

Beliau menjawab:

الحمد لله ، الجنب سواء كان رجلا أو امرأة فإنه إذا عدم الماء أو خاف الضرر باستعماله فإن كان لا يمكنه دخول الحمام لعدم الأجرة أو لغير ذلك فإنه يصلي بالتيمم؛ ولا يكره للرجل وطء امرأته كذلك بل له أن يطأها كما له أن يطأها في السفر ويصليا بالتيمم

Alhamdulillah, orang yang junub, baik lelaki maupun wanita, ketika tidak ada air, atau dikhawatirkan membahayakan dirinya ketika menggunakan air, atau tidak bisa masuk pemandian karena tidak memiliki biaya atau karena sebab lainnya, maka dia bisa salat dengan tayamum. Demikian pula, tidak dimakruhkan bagi suami untuk mengajak hubungan badan istrinya. Dia boleh melakukan hubungan badan dengan istrinya, sebagaimana boleh bagi suami untuk melakukan hubungan badan ketika safar, dan salat dengan tayamum. (Majmu’ Fatawa 21/446)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here