Air Tercampur Antiseptik, Bolehkah Buat Wudhu atau Mandi Junub?

0
34

BincangSyariah.Com – Menjaga kebersihan di masa pandemi sekarang ini merupakan suatu keharusan. Banyak cara yang dilakukan masyarakat untuk selalu menjaga kebersihan, mulai dari rajin mencuci tangan, mengganti masker yang telah digunakan, membekali diri dengan hand sanitizer. Selain itu, upaya menjaga kebersihan juga dapat kita lakukan dengan cara mencampurkan antiseptik pada wadah air di kamar mandi. Air yang dicampur antiseptik ini digunakan untuk keperluan sehari-hari begitupun untuk wudhu atau mandi junub. Terkait air tercampur antiseptik ini, apakah boleh buat wudhu, mandi junub, atau bersuci lainnya?

Mazhab Safi’i dan Maliki berpendapat mengenai air yang tercampur dengan benda suci ketika dapat mengubah sifat-sifat air, seperti rasa, warna, dan baunya maka dihukumi suci namun tidak menyucikan. Air tersebut bisa digunakan untuk dikomsumsi, tetapi tidak bisa digunakan untuk menghilangkan hadas dan najis. Tidak bisa kita gunakan untuk wudhu atau mandi junub.

Imam Abu Hanifah memiliki pendapat yang berbeda mengenai air tersebut. Beliau berpendapat air tersebut tetap suci dan menyucikan. Hal ini dengan syarat perubahannya tidak dilakukan dengan cara memasak air dan benda suci itu. Sebagaimana dalam kitab Bidayatul mujtahid juz 1 halaman  25 berikut,

الماء الذي خالطه زعفران، أو غيره من الاشياء الطاهرة التي تنفك منه غالبا متى غيرت أحد أوصافه، فإنه طاهر عند جميع العلماء غير مطهر عند مالك والشافعي ومطهر عند أبي حنيفة ما لم يكن التغير عن طبخ

Artinya:

Air yang dicampur dengan kunyit atau benda suci lainnya yang bisa merusak label air tersebut ketika mengubah salah satu sifatnya maka dihukumi suci dan tidak menyucikan menurut mazhab Maliki dan Syaafi’i. Imam Abu hanifah menghukumi suci selama perubahannya tidak dilakukan dengan cara dimasak

Dari penjelasan di atas dapat kita ketahui bahwa apabila benda suci tersebut tidak sampai mengubah air secara keseluruhan atau mengubahnya hanya sedikit saja maka air tersebut masih dalam status suci menyucikan.

Syekh Ismail berpendapat apabila memasukkan benda suci dengan tujuan membersihkan air, asalkan tidak dalam rangka menyucikan air, maka diperbolehkan. Hal ini sebagaimana pendapat beliau dalam kitab Qurratul Ain bi Fatawa Isma’il Az-Zain halaman 47,

 أَنَّ تَغَيُّرَ اْلمَاءِ بِالْكَدُوْرَاتِ وَنَحْوِهَا مِنَ اْلأَشْيَاءِ الطَّاهِرَةِ لاَ يَسْلُبُ طَهُوْرِيَّتَهُ وَإِنْ تَغَيَّرَ رِيْحُهُ فَيَبْقَى طَاهِرًا مُطَهِّرًا عَلَى اْلأَصْلِ وَإِذَا عُوْلِجَ بِمَا ذُكِرَ فِي السُؤَالِ مِنَ اْلأَدْوِيَّةِ لِتَصْفِيَّتِهِ كَانَ ذَلِكَ نَوْعَ تَرَفُّهٍ ِلأجْلِ التَنْظِيْفِ لاَ ِلأَجْلِ التَّطْهِيْرِ بِشَرْطِ أَنْ تَكُوْنَ تِلْكَ اْلأَدْوِيَةُ غَيْرَ نَجِسَةٍ وَحِيْنَئِذٍ فَيَصِحُّ الْوُضُوْءُ وَسَائِرُ أَنْوَاعِ الطَّهَارَةِ بِالْمَاءِ الْمَذْكُوْرِ قَبْلَ الْمُعَالَجَةِ أَوْ بَعَدَهَا اه

Artinya: “Sesungguhnya perubahan air dengan benda keruh dan benda suci lainnya tidak dapat merusak kesucian air meskipun baunya berubah. Air tersebut masih dalam status suci mensucikan. Jika barang yang dicampur ke air tersebut dengan tujuan menyeterilkan bukan untuk menyucikan air maka hal itu diperbolehkan dengan syarat benda yang dipakai untuk hal tersebut tidak najis. Maka air tersebut dapat digunakan untuk wudhu dan bersesuci lainnya baik sebelum disterilkan atau pun sesudahnya.”

Dari penjelasan di atas dapat kita pahami bahwa air tercampur antiseptik tetap dihukumi suci menyucikan selama antiseptik tersebut tidak sampai mengubah air secara keseluruhan atau mengubah dengan perubahan yang sedikit. Apabila antiseptik yang digunakan sampai mengubah secara keseluruhan maka air tersebut dihukumi suci namun tidak menyucikan.

Demikian. Wallahu a’lam

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here