Ahli Kaligrafi Indonesia Angkat Bicara Soal “Bendera Tauhid adalah Bendera Rasulullah”

4
3686

BincangSyariah.com – Meski keributan soal pembakaran bendera bertuliskan kalimat tauhid di Garut hari minggu lalu sudah mulai mereda, sebagian muslim masih sulit menerima dan tetap meradang. Mereka yang meradang tetap bersikukuh bahwa yang dibakar menurut mereka adalah bendera tauhid, bukan bendera Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Lebih jauh, bendera tauhid tersebut diyakini mereka sebagai bendera Rasulullah Saw.

Drs. Didin Sirojuddin AR, Dosen Fakultas Adab dan Humaniora UIN Jakarta ini merupakan maestro pembuat kaligrafi arab di Indonesia. Beliau mencoba mengulas persoalan ini dari yang paling dasar, sejarah khat itu sendiri. Pandangan-pandangannya ini beliau sampaikan melalui akun pribadi facebook-nya.

Ia memulai penjelasannya dengan perspektif sejarah penggunaan bendera dulu. Ia menyampaikan bahwa di masa Rasulullah, tauhid itu dijadikan slogan saat berperang bukan dituliskan di atas bendera. Betul jikalau dalam peperangan Rasulullah Saw. biasa membawa bendera, namun dimasa itu bendera Rasulullah Saw. masih polos. Tidak ada dalam catatan sejarah tertulis kalimat, simbol, atau yel diatasnya. Kalimat tauhid digunakan sebagai “penggertak” saat peperangan. Bahkan, fakta lain menunjukkan kalau bendera yang digunakan saat perang – hingga zaman ‘Umar bin Khattab – juga beragam warnanya, mulai dari merah, putih, hijau, hingga biru.

Perspektif kedua adalah dari segi khat Arab sendiri. Jika klaim-nya bendera tauhid adalah bendera Rasulullah SAW., kita harus mengetahui kalau di zaman Nabi tulisan Arab itu masih sangat sederhana dan digunakan untuk mencatat Alquran. Tulisan arab untuk menulis Alquran menggunakan gaya khat kufi lama yang tersebar di berbagai medium penulisan seperti kulit, pelepah kurma, batu atau kayu. Artinya khat baru bersifat fungsional, belum ada peran estetis. Apalagi, ada riwayat Nabi untuk menghapus informasi apapun selain Alquran, seperti dalam hadis,

Baca Juga :  Merayakan HAM dengan Belajar dari Gus Dur

(لا تكتبوا عنى ومن كتب عنى غير القرآن فليمحه. حدثوا عنى ولا حرج ومن كذب على متعمدا فليتبوأ مقعده من النار. (رواه مسلم

“Jangan tulis tentang diriku. Siapa menulis dariku selain Al-Qur’an, hendaknya dia menghapusnya kembali. Bicarakanlah tentang aku dan itu tidak mengapa. Tapi siapa berdusta atas namaku, maka silakan menduduki tempatnya di neraka.” (HR Muslim).

Sikap Nabi Saw. diatas segera menutup kemungkinan adanya tulisan atau kaligrafi di medium selan untuk lembaran Alquran. Yang khusus untuk lembaran Alquran itu pun baru berhasil dikumpulkan di masa Abu Bakar. Kalaupun ada dokumen yang tersisa dari zaman Nabi, itu hanya surat-surat Nabi Saw. kepada raja-raja (Heraklius, Kisra, Muqauqis, Harits al-Ghassani, Najasyi). Surat-surat ini dicap stempel Muhammadun Rasulullah (seperti yang terdapat di bendera ISIS). Dengan urutan lafaz Allah di bagian atas, Rasul di bagian tengah, dan Muhammad di bagian bawah.

Karena itu, menasabkan bendera berkaligrafi khat Tsulus sempurna seperti bendera Arab Saudi dan bendera Hizb al-Tahrir sebagai bendera Rasulullah lebih tidak tepat lagi. Karena khat tsuluts belum lahir di masa Rasulullah. Khat tsuluts lahir atas inisiatif Khalifah Mu’awiyah. Khat ini lahir bersama sekian khat lain seperti thumar, jalil,nishf, muhaqqaq, raihani, dan tauqi sebagai pengganti khat kufi yang dianggap kurang praktis baik untuk penyalinan Alquran atau transaksi-transaksi bisnis administrasi. Lebih jauh, khat yang tertulis di bendera itu sudah khat Tsuluts Jali yang puncaknya jauh setelah Bani Umayah dan Bani Abbasiyah, yaitu di masa Turki ‘Utsmani.

Yang sedikit mendekati pola Kufi zaman Nabi justru bendera kalimat tauhid milik ISIS. Namun sekali lagi, tulisan Arab di zaman Nabi hanya untuk menulis Alquran. Klaim bendera Rasulullah pada bendera ISIS menjadi tidak berdasar karena ISIS hanya menjiplak model khat stempel Nabi pada surat-suratnya untuk menuliskan kalimat Tauhid. Dengan demikian baik bendera HTI, ISIS, atau Arab Saudi tidak bisa disebut “bendera Rasulullah”.

Baca Juga :  Keutaman Membaca Surah Al-Dukhan Pada Malam Jumat

Terakhir, Kyai Sirojuddin AR menyatakan bahwa kalimat tauhid yang ditulis dengan kaligrafi itu indah dan sangat bagus sekali. Tapi jangan sekali-kali diklaim itu sebagai bendera Rasulullah. Karena, Rasulullah tidak pernah menggunakan benera seperti itu. Tulisan ini tidak bertujuan apapun selain menjelaskan informasi dan sejarah agar kita tidak berlarut-larut dalam cerita yang sebenarnya hanya dibuat-buat.

Untuk melihat penjelasan beliau di akun pribadi facebook-nya lihat disini

4 KOMENTAR

  1. Mohon maaf, kenapa masih saja menggunakan ungkapan bendera HTI padahal sudah dibantah oleh mantan jubir mereka bahwa HTI tidak punya bendera … Terimakasih

    • Itu juga sebaliknya istilah bendera tauhid dibantah di tulisan, Mas Apip. Yang punya data bahwa bendera hitam itu bendera HTI sudah banyak sekali yang ngomong dan bisa dicari di internet. Bahkan di buku resmi keorganisasian HTI dan bisa diajses terbuka, juga disebutkan soal bendera itu.

      Begitu juga anggapan bahwa bendera hitam itu bendera tauhid, banyak sekali yang sudah bantah. Baik dari segi dalil maupun historis.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here