Mengapa Ahli Ilmu Lebih Utama Dibanding Ahli Ibadah Tanpa Ilmu?

0
28

BincangSyariah.Com – Ilmu dalam Islam menempati posisi yang penting. Sebagaimana diketahui, mencari ilmu berada pada tingkatan wajib. Barangkali kalau dikumpulkan, ada puluhan ayat dan hadis Nabi yang menjelaskan tentang keutamaan ilmu dan kewajiban mencarinya. Bahkan, dalam sebuah hadis disebutkan bahwa ahli ilmu lebih utama dibanding ahli ibadah.

Dalam kitab Minhaj al-‘Abidin dijelaskan ada dua hal penting dalam agama, yaitu ilmu dan ibadah. Bahkan lebih lanjut al-Ghazali mempertegas selain ilmu dan ibadah hanya ada kebatilan yang nihil kebaikan dan kesia-siaan belaka. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam Al-Quran surat At-Thalaq ayat 12 dan surat Adz-Dzariyat ayat 56 yang berbunyi:

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَمِنَ الأرْضِ مِثْلَهُنَّ يَتَنزلُ الأمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا

Artinya:

“Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu.”

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Artinya:

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.

Al-Ghazali menyebut bahwa ilmu menempati posisi pohon dan ibadah adalah buahnya. Dalam menempati posisi pohon, ilmu lebih didahulukan dibanding buah. Keutamaan ilmu karena ia menjadi pohon, tempat asal atau sumber buah. Akan tetapi ilmu tidak berguna jika tidak berbuah. Sehingga seorang muslim harus berilmu dan beribadah. Ahli ilmu lebih utama dibanding ahli ibadah itu disebabkan ilmu sebagai asal dan petunjuk. Al-Ghazali menyitir sabda rasulullah SAW yang berbunyi:

العِلْمُ إِمَامُ العَمَلِ وَالعَمَلُ تَابِعُهُ

Artinya:

“Ilmu merupakan pemimpin amal dan amal adalah pengikutnya.”

Lebih diutamakannya ilmu dibanding ibadah dikarenakan ilmu sebagai asal atau sumber. Sedangkan ilmu diposisikan sebagai asal karena dua hal. Pertama, dengan memiliki ilmu, ibadah akan terlaksana secara benar. Bagaimana mungkin seseorang beribadah tanpa memiliki pengetahuan tentang Dzat yang Disembah, apa yang Ia perintah dan Ia larang. Maka ilmu lebih didahulukan agar umat Islam tidak keliru dalam beribadah sehingga membuat ibadahnya sia-sia.

Kedua, ilmu yang bermanfaat menjadikan takut kepada Allah (khosyatillah) dan mendapat derajat kemuliaan di sisi-Nya. Orang yang tidak memiliki ilmu tentang Allah dan segala perintah dan larangan-Nya tidak akan mendapatkan derajat kemuliaan dari-Nya. Karena dengan ilmu, orang akan menjadi taat dan terjauhkan dari maksiat berkat anugrah Allah. Sedangkan anugrah-Nya tidak akan diberikan bagi mereka yang tidak berilmu.

Selain itu, sejarah Islam telah membuktikan bahwa pengangungan dan perhatian terhadap ilmu telah berhasil membawa Islam sebagai peradaban yang gemilang. Pemerintahan Islam yang berjaya di masa lalu ialah mereka yang menempatkan ilmu pengetahuan sebagai pondasinya. Ilmu memiliki urgensi yang signifikan dalam lingkup individual dan sosial.

Philip K. Hitti mencatat dalam bukunya, The History of Arabs, perkembangan ilmu yang pesat mulai dari kajian kedokteran, astronomi, arsitektur, matematika, geografi, sejarah, sastra, seni hingga filsafat membuat dinasti Abbasiyah mencapai puncak kejayaannya. Spirit keilmuan ini ditangkap oleh dunia Barat melalui gerakan Averoisme (para murid Ibnu Rusyd) yang menjadi faktor lahirnya kebangkitan (renaissanse) dan pencerahan (Aufklarung) Eropa. Dampaknya, dunia menjadi lebih cerah dan maju karena perkembangan ilmu pengetahuan.

Wallahu a’lam bis shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here