Agar Tidak Malas, Kekanglah Nafsumu

0
1489

BincangSyariah.Com – Pernahkah kalian malas-malasan dalam beribadah? Atau terlanjur pada zona nyaman dalam melakukan kemaksiatan? Jika iya, maka berikut adalah solusinya yang dikemukakan oleh imam Al-Bushiri di dalam qashidah Burdahnya.

وَالنَّفْسُ كَالطِّفْلِ إِنْ تُهْمِلْهُ شَبَّ عَلَى * حُبِّ الرَّضَاعِ وَإِنْ تُفْطِمْهُ يَنْفَطِمِ

Nafsu itu bagaikan bayi jika kau biarkan, tumbulah ia dengan suka menetek, jika kau sapih maka tersapihlah ia.

Di dalam diri manusia memang ada nafsu yang baik dan buruk. Nafsu yang buruk adalah nafsu lawwamah yang selalu mengajak diri ini untuk bermaksiat kepada Allah swt. dan malas-malas dalam berbuat kebaikan.

Imam Al-Bushiri di dalam nadzam tersebut memberikan solusi agar kita tidak terus terjebak pada nafsu tersebut, yakni dengan cara melatihnya. Nafsu itu bagaikan anak kecil yang harus disapih untuk tidak menyusu kepada ibunya ketika sudah genap usia dua tahun. Ketika anak kecil itu tidak disapih, tetapi dibiarkan saja menyusu kepada ibunya, maka anak itu pasti akan terus meminta menyusu kepada ibunya sampai lebih dari dua tahun.

Tetapi ketika ia sudah disapih, dilatih untuk tidak menyusu kepada ibunya, maka pasti bayi itu akan terbiasa untuk tidak menyusu kepada ibunya. Bahkan tidak jarang sang ibu akan melakukan dengan segala cara agar anaknya tidak menyusu lagi. Bisa dengan cara memberikan lipstik berwarna merah agar anaknya takut dengan puting sang ibu, atau meminta air doa dari seorang ulama yang diminumkan kepada sang bayi.

Begitu pula dengan nafsu. Hendaknya ia tidak dituruti terus menerus. Tetapi latihlah nafsumu dengan tidak menurutinya. Tegaslah pada diri Anda seperti seorang ibu yang tegas dan tega walau dengan hati yang lara anaknya masih menangis minta disusui. Jika tidak, maka nafsu itu akan terus menerus meminta Anda untuk dituruti kehendaknya.

Baca Juga :  Bagaimana Status Anak yang Lahir di Luar Nikah?

Namun, jika Anda telah mampu melatih nafsu itu dengan tegas tidak menurutinya, maka Insya Allah Anda akan terbiasa, nafsu itu pun akan terbiasa.

Dalam hal ini, Syekh Ibn Athaillah dalam kitabnya Al-Hikam juga berkata:

اَصْلُ كُلِّ مَعْصِيَةٍ وَغَفْلَةٍ وَشَهْوَةٍ الرِّضَاءُ عَنِ النَّفْسِ وَاَصْلُ كُلِّ طَاعَةٍ وَيَقَظَةٍ وَعِفَّةٍ عَدَمُ الرِّضَا مِنْكَ عَنْهَا.

Pangkal segala maksiat, kelalaian, dan syahwat adalah pengumbaran nafsu. Dan pangkal dari segala ketaatan, kewaspadaan, dan kebajikan adalah pengekangan nafsu.

Dengan demikian, maka agar tidak malas, kekanglah nafsumu. Jangan kau turuti terus menerus. Jangan kau biarkan terus menerus. Tetapi sapihlah ia sebagaimana seorang ibu menyapih bayinya. Wa Allahu A’lam bis Shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here