Agar Tidak Jadi Penyebar Hoaks, Perhatikan Tiga Hal Ini

0
258

BincangSyariah.Com – Seiring dengan berkembangnya media sosial serta besarnya tingkat respon masyarakat terhadap berita, seringkali masyarakat menyebar (Men-Share) berbagai berita tanpa adanya klarifikasi dari pihak yang bersangkutan.

Ironisnya, standar berita apakah dikategorikan sebagai hoaks atau bukan sudah tidak bergantung pada kevalidan berita itu sendiri, tapi lebih berdasarkan keyakinan seseorang pada materi itu. Jika berita melibatkan orang yang dicintai dan dihormati olehnya, maka standar hoaks dinaikkan secara maksimal, namun jika menyasar pada orang yang kita benci maka standar itu diturunkan bahkan dihilangkan.

Fenomena demikian sangatlah meresahkan, terlebih tahun ini adalah tahun politik, sehingga semangat sebuah kelompok untuk mencela kelompok yang berseberangan dengan cara menyelipkan berbagai berita yang belum jelas kebenarannya akan semakin masif. Hal ini diperparah lagi dengan banyaknya masyarakat yang mudah percaya dengan berita yang palsu karena lebih dapat dicerna oleh otak mereka dari pada memilih untuk bersikap kritis pada setiap berita yang mereka terima.

Lalu pertanyaannya, bagaimanakah hukum menyebarkan berita hoaks tanpa menganalisis kevalidan berita terlebih dahulu?

Dalam kitab Faidh al-Qadir dijelaskan:

 فعليه أن يبحث ولا يتحدث  إلا بما ظن صدقه فإن ظن كذبه حرم وإن شك وقد أسنده لقائله وبين حاله برئ من عهدته وإلا امتنع أيضا

“Hendaknya bagi seseorang untuk meneliti (sebuah kabar) dan tidak memberitakannya kecuali telah ada dugaan kuat kebenarannya, jika ada dugaan bahwa berita itu adalah bohong maka haram memberitakannya. Jika masih ragu (apakah berita tersebut bohong atau tidak) dan ia menisbatkan berita pada sumber ia mendapatkan berita lalu ia jelaskan profil dari penyampai berita, maka ia terbebas dari tanggungan (dosa). Namun ia jika tidak melakukan hal tersebut, maka ia tercegah untuk menyampaikan berita yang diragukan kebenarannya” (Al-Munawi, Faid Al-Qadir, juz 4, Hal. 551)

Baca Juga :  Hari Baik Memulai Belajar-Mengajar Menurut Ulama Hadis

Berdasar referensi diatas serta dikuatkan dengan referensi-referensi yang lain, hukum menyebarkan berita yang masih belum jelas kebenarannya (termasuk berita hoaks) adalah perbuatan yang haram kecuali terpenuhi beberapa syarat:

  • Punya dugaan bahwa berita yang dishare adalah berita yang benar, misalkan berita didapatkan dari sumber terpercaya.
  • Tidak mengandung konten yang diharamkan seperti ghibah (menggunjing orang lain), namimah (mengadu domba), ifsyaau al-sirr (membeberkan rahasia orang lain) dan kkeharaman yang lainnya.
  • Tidak berdampak pada keharaman seperti meresahkan masyarakat. (Hasil Keputusan Bahtsul Masail Kubro Pon. Pes. Lirboyo Tahun 2017)

Dengan begitu, baiknya mari kita mulai tradisi tabayyun, yaitu mencari kejelasan dari sebuah berita sebelum kita membagikan (menshare) berita itu kepada publik, selain karena hal ini adalah sebuah larangan, juga dikarenakan hal ini akan meresahkan masyarakat secara umum. Wallahu a’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here