Agar Debat Publik Sehat, Perhatikan Tips Al-Ghazali Ini

0
965

BincangSyariah.Com – Dalam situasi perpolitikan Indonesia yang perlahan mencapai titik kulminasinya, banyak sekali debat yang tersaji di media online, televisi, atau di banyak ruang publik lainnya. Ada beragam cara yang dilakukan oleh masyarakat untuk memenangkan argumentasi mereka. Mulai dari yang sangat santun sampai yang sangat ekstrem. Namun yang patut dihindari dalam hal ini adalah logika ngawur atau yang dalam ilmu logika biasa dikenal dengan logika falasi. Logika falasi sendiri memiliki banyak varian, dua di antaranya adalah argumentum ad hominem, yakni menyerang kepribadian lawan tanpa melihat esensi pembicaraan. Adapula fallacy of dramatic instance, kecenderungan untuk memberikan analisis hanya dengan satu atau dua kasus guna mendukung argumentasi, dan ada beberapa lagi falasi logika lainnya.

Di samping logika, ada kecenderungan masyarakat yang mendahulukan emosinya sebelum nalar logisnya. Hal ini yang biasa memicu debat kusir dan pertentangan yang tak kunjung usai. Dalam ilmu perilaku atau kepribadian manusia misalnya, emosional memainkan peran yang sangat penting dalam seseorang memutuskan memilih produk yang dipilihnya. Itu mengapa banyak yang memainkan emosi calon pemilih agar mereka mendapatkan banyak simpati dari masyarakat. Hal ini tentu saja sah dan dibenarkan, namun akan menjadi sangat tidak manusiawi jika semuanya didesain tanpa pandang bulu dengan menghalalkan segala cara.
Debat di ruang publik bukanlah suatu hal baru yang hanya ada di Indonesia, di seluruh dunia, atau bahkan di zaman dahulu sejak manusia bermula, perdebatan memang sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari manusia. Allah Swt. menggambarkan manusia dalam Alquran sebagai aladd al-khishaam yang diartikan oleh Ibn ‘Abbas sebagai orang yang sangat keras dalam berdebat. Berbicara soal perdebatan ada baiknya kita belajar dari Abu Hamid al-Ghazali (w. 505 H), sosok multi-dimensi yang tidak hanya memahami persoalan akal atau logika namun juga seorang yang sangat mengerti tentang emosi manusia dengan banyak karyanya di bidang tasawuf.

Baca Juga :  COVID-19 Membuat Cemas, Ini Cara Menangani Gangguan Kecemasan Ala Imam al-Ghazali

Salah satu yang paling banyak dirujuk dari Abu Hamid adalah karyanya, Ihya’ Ulum al-Din. Di sana ia menjelaskan panjang lebar tentang etika dalam berdebat. Ada beberapa alasan mengapa perdebatan memicu hal-hal negatif, seperti pertengkaran dan permusuhan.

Pertama, ketika perdebatan itu diselenggarakan untuk menunjukkan superioritas antara satu orang dengan lainnya, memamerkan kelebihan, kemuliaan dan kesombongan. Hal semacam ini jelas-jelas sangat kontra-produktif di tengah-tengah masyarakat yang membutuhkan perdebatan yang sehat. Kedua, perdebatan yang timbul karena sikap hasud. Sikap ini adalah wujud dari kedengkian karena ketidaksukaan dengan kelebihan yang dimiliki oleh orang lain, ada memang hasud yang diperbolehkan dalam Islam, namun bukan itu yang kami maksud. Hasud, mengharuskan seseorang memiliki pre-judging sebelum perdebatan sehat itu dimulai. Orang yang sejak awal tidak menyukai lawan bicara, atau pilihan lawan bicara akan dengan mudah menyalahkan dan cenderung emosional. Inilah kemudian salah satu hal yang menimbulkan perdebatan tidak lagi sehat. Maka tepat kiranya Al-Ghazali mengutip sebuah hadis riwayat Abu Hurairah dari Rasulullah saw., berikut:

الْحَسَدَ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ

Hasud akan memakan segala kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar. (H.R. Abu Dawud).

Nalar yang logis dengan data-data yang akurat tidak lagi dibutuhkan ketika sikap hasud sudah mendarah daging dalam relung hati manusia. Segala macam kebaikan yang dilontarkan lawan bicara akan terasa mentah dan garing tidak membekas jika hatinya sudah dikuasai oleh sikap hasud. ‘Abdul Muhsin dalam syarah Sunan Abi Dawud menjelaskan tentang dua macam hasud, pertama adalah hasud yang terpuji, atau dalam bahasa lain disebut dengan ghabthah. Yakni rasa ingin memiliki sebagaimana apa yang dimiliki orang lain tanpa berharap lenyapnya apa yang sedang dimiliki oleh seseorang.

Baca Juga :  Benarkah Hadis dalam Ihya Karya Imam Al-Ghazali Daif dan Palsu? Ini Kata Prof Said Agil Husin Al Munawar

Hasud yang pertama jelas sekali sehat, dan cenderung memunculkan perdebatan dan persaingan yang sehat. Adapun hasud yang dimaksud dalam hadis di atas adalah hasud yang tercela, yakni hasud yang bertujuan untuk menghilangkan kebaikan yang tengah dimiliki oleh orang lain. Dari sini akan muncul perdebatan dan persaingan yang secara tidak sadar akan menghalalkan segala cara, pelan tapi pasti jika ini terjadi maka dampak-dampak negatif akan bermunculan dan masukan-masukan yang baik dari orang lain tidak akan lagi nyaring terdengar. Logika falasi yang telah kami sebutkan di atas, sudah pasti juga akan menjadi senjata ampuh guna memenangkan perdebatan, bukan?

Hal-hal lain yang juga disebutkan oleh Imam al-Ghazali terkait yang menimbulkan efek-efek negatif selanjutnya adalah sikap sombong, al-haqd (dengki) – ini berbeda dengan hasud, di mana dengki muncul di tengah-tengah perdebatan, bisa jadi karena kalah dalam berargumentasi, ghibah (menggosip), tazkiyah al-nafs (menganggap diri paling benar atau suci), mencari-cari kesalahan, kesengajaan untuk membuat orang lain tertimpa keburukan, nifaq, istikbar dan riya’. Jika dirangkum, maka semua yang disebutkan oleh al-Ghazali adalah macam-macam penyakit hati yang bersarang dalam hati manusia. Penyakit-penyakit inilah yang memicu perdebatan dan persaingan yang tidak baik dan menimbulkan efek-efek negatif lainnya.

Oleh sebab itu benarlah jika Rasulullah saw. mengatakan dalam sabdanya,

وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلاَ وَهِىَ الْقَلْبُ …

…. dan apabila ia rusak maka rusaklah seluruh jasad manusia, tidak lain yang dimaksud adalah hati. (H.R. Bukhari dan Muslim).

Terdapat satu bagian dari manusia yang akan merusak seluruh jasad manusia yakni hati manusia. Ketika ia tidak dijaga dengan baik, maka akan menimbulkan hal-hal yang tidak baik pula bagi seluruh anggota tubuh lainnya yang berimplikasi terhadap seluruh aktivitas manusia.

Baca Juga :  Pengajian Ihya Gus Ulil: Ulama Pihak yang Paling Banyak Dikritik

Jika disederhanakan, maka yang ingin dikatakan oleh Imam al-Ghazali dalam karyanya tersebut adalah apabila masyarakat ingin menciptakan suasana perdebatan yang sehat maka terlebih dahulu seseorang harus menghilangkan penyakit hatinya, baik itu hasud, sombong, merasa paling benar, dan lain sebagainya. Selanjutnya berikanlah data-data yang tepat dan akurat tanpa adanya tipu daya, rekayasa, ataupun hoaks yang tidak ada gunanya. Wallahu a’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here