Adakah Penjelasan tentang Marital Rape dalam Islam?

0
38

BincangSyariah.Com – Dalam kehidupan manusia, ketidakadilan dan penindasan merupakan fenomena umum yang terjadi dimana-mana, dapat dilakukan dan menimpa siapa saja, baik laki-laki maupun perempuan. Tetapi, dalam realita sosial, kaum perempuanlah biasanya yang menjadi korban ketidakadilan dan penindasan tersebut. Hal ini disebabkan karena ketimpangan struktur sosial budaya yang tumbuh dan berkembang dalam kehidupan masyarakat.

Belum lama ini, muncul istilah pemerkosaan dalam perkawinan atau yang disebut dengan Marital Rape dan merupakan diantara materi yang terdapat dalam RUU Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU PKS). RUU ini menimbulkan diskusi di ruang publik. Diantara yang mempertanyakan adalah istilah pemerkosaan biasanya digunakan bagi pelaku pemerkosaan di luar pernikahan. Namun mengapa bisa ada istilah pemerkosaan dalam perkawinan atau kehidupan rumah tangga?

Istilah Marital Rape terdiri dari dua suku kata berbahasa inggris, yaitu ‘Marital’ yang bermakna ‘segala hal yang terkait perkawinan’ dan ‘Rape’ yang berarti ‘Pemerkosaan’. Maksud dari pemerkosaan tersebut adalah pemaksaan untuk melakukan aktivitas seksual oleh suami terhadap istri atau sebaliknya, walaupun pada umumnya pemerkosaan ini seringkali dilakukan oleh suami terhadap istri. Mengenai fenomena marital rape di Indonesia dapat disimak lebih lanjut dalam Catatan Tahunan Kekerasan Terhadap Perempuan 2020.

Menurut Muhammad Endriyo Susilo dalam Jurnal Media Hukum berjudul Islamic Perspective on Marital Rape (h. 320), sebetulnya istilah marital rape tidak hanya berupa satu bentuk, namun setidaknya ada bentuk lain sebagai berikut:

  1. Battering rape: istri mengalami kekerasan fisik dan seksual sekaligus saat suami memaksa istri untuk melakukan hubungan seksual.
  2. Force-only rape: suami menggunakan kekuatan dan kekuasaannya untuk memaksa atau mengancam istri agar mau melakukan hubungan suami istri. Hal ini dilakukan manakala istri sebelumnya menolak.
  3. Obsessive rape: istri atau pasangan mendapat kekerasan seksual dalam bentuk perlakuan sadis dalam melakukan hubungan seksual, seperti suami melakukan kekerasan fisik dengan memukul, menarik rambut, mencekik atau bahkan menggunakan alat tajam yang melukai istri untuk mendapatkan kepuasan seksual.

Dalam literatur lain disebutkan pula bentuk-bentuk marital rape adalah,

  1. Hubungan seks yang dipaksakan

Beberapa pasangan berpikir bahwa pernikahan menjadi jalan legal untuk selalu berhubungan seks. Padahal, hal tersebut tentu tidak benar. Penting untuk diingat bahwa hubungan senggama harus mendapatkan kesepakatan dari kedua belah pihak, yakni suami dan istri.Apabila pasangan memaksa hubungan seks, menyakiti pasangannya, hingga melukai orang yang harusnya ia lindungi, hubungan seks tersebut tentu masuk ke pemerkosaan dalam pernikahan atau marital rape.

  1. Hubungan seks namun pasangan merasa terancam

Seks seharusnya memberi kesenangan untuk masing-masing pasangan. Apabila hubungan seks disertai ancaman penyerangan, esensi seks yang bersifat konsensual akan hilang dan menjelma menjadi bentuk pemerkosaan.

  1. Hubungan seks dengan manipulasi

Manipulasi dapat berarti tuduhan bahwa pasangannya tidak setia, tidak baik, dan tidak memahami kebutuhan pasangan pemerkosa. Manipulasi tersebut juga termasuk mengancam secara verbal untuk meninggalkan pasangan jika hasrat seksualnya tak dipenuhi. Apabila manipulasi ini membuat pasangan merasa tak ada pilihan, hubungan seks yang dilakukan tergolong pemerkosaan karena sebenarnya ada pihak yang tidak setuju.

  1. Hubungan seks saat pasangan tak sadar

Consent atau persetujuan berarti kedua pihak memiliki kesadaran penuh untuk menyetujui segala aktivitas yang dilakukan, termasuk seks. Apabila pasangan berhubungan seks dengan istri atau suaminya yang tak sadarkan diri (dicekoki obat tidur dan perangsang, alkohol, racun, pingsan, atau tidur), jelas bahwa hubungan seks tersebut merupakan bentuk marital rape. Bahkan, walau suami atau istri mengatakan “Ya” saat ia tak sepenuhnya sadar, hal itu tetaplah bukan bentuk persetujuan. Sebab, kembali lagi, pasangannya tidak sadar secara penuh.

  1. Hubungan seks saat pasangan korban tak ada pilihan

Mengatakan “Ya” karena terpaksa dan seolah ia tak ada pilihan, berbeda dengan memberikan persetujuan untuk sama-sama mau berhubungan seks. Misalnya, korban tak ada pilihan karena mempertahankan pernikahan setelah diancam untuk bercerai, sehingga mengiyakan permintaan pasangannya.

Dari berbagai contoh atau penjelasan tentang fenomena marital rape, pertanyaan apakah marital rape tersebut diperkenankan dalam Islam? Atau, Islam membahas status hukum boleh tidaknya perilaku marital rape tersebut terjadi dalam kehidupan rumah tangga?

Diantara landasan dalil tentang suami menyebutuhi istri adalah hadis riwayat Abu Hurairah Ra. seperti dikutip dari Riyadhu as-Shalihin (j. 3 h. 138),

وعن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((إذا دعا الرجل امرأته إلى فراشه فلم تأته فبات غضبان عليها؛ لعنتها الملائكة حتى تصبح)) متفق عليه.

“Diriwayatkan dari Abi Hurairah Ra., beliau berkata: Rasulullah Saw. bersabda: ketika suami mengajak istri untuk berhubungan intim, lalu istri enggan untuk melakukannya, sebab itu suami marah, maka istri tersebut akan dilaknat oleh malaikat hingga pagi hari.” (H.R. al-Bukhari dan Muslim)

Dari hadis tersebut bisa disimpulkan bahwa seorang istri wajib melakukan apa saja yang dikehendaki suami dalam hal hubungan intim. Senada dengan hadist di atas yang diriwayatkan oleh Talq bin ‘Ali seperti dikutip dari Mirqatu al-Mafaatih Syarh Misykaat al-Mashoobih (j. 5 h. 2126),

وَعَنْ طَلْقِ بْنِ عَلِيٍّ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِذَا الرَّجُلُ دَعَا زَوْجَتَهُ لِحَاجَتِهِ فَلْتَأْتِهِ وَإِنْ كَانَتْ عَلَى التَّنور» . رَوَاهُ التِّرْمِذِيّ

“Diriwayatkan dari Talq bin Ali, beliau berkata: Rasulullah bersabda: ketika suami mengajak istrinya untuk berhubungan intim, maka lakukanlah sekali pun pada waktu masak.” (H.R. At-Tirmidzi)

Dari kedua hadis di atas seakan-akan seorang perempuan tidak bisa menolak ketika suami mengajak untuk berhubungan intim. Namun ketika ditelisik kembali hadis-hadis tersebut, tidak semerta-semerta perempuan tidak boleh menolak suaminya ketika ingin berhubungan intim.

Ada beberapa hal yang dibenarkan syariat kebolehan perempuan menolak ajakan berhubungan intim suaminya, sepeti sakit atau sedang dalam masa haid, mau melaksanakan kewajiban yang lain (misal shalat fardhu), atau ada hal lain yang mencegah untuk menerima ajakan suami tersebut. Ini seperti dijelaskan An-Nawawi dalam Riyadh as-Shalihin (j. 6 h. 500); dan Syaikh Wahbah Az-Zuhaili dalam al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu (j. 9 h. 6851),

قال إذا دعا الرجل امرأته إلى فراشه فأبت أن تجيء لعنتها الملائكة حتى تصبح أو قال حتى ترجع وذلك أن الواجب عليها إذا دعاها الرجل إلى حاجته أن تجيبه إلا إذا كان هناك عذر شرعي كما لو كانت مريضة لا تستطيع معاشرته إياها أو كان عليها عذر يمنعها من الحضور إلى فراشه فهذا لا بأس

“(Rasulullah Saw.) bersabda: ketika seorang suami mengajak istrinya untuk berhubungan intim kemudian perempuan tersebut enggan untuk melakukannya, maka dia akan dilaksanat oleh malaikat hingga pagi hari atau beliau bersabda: hingga perempuan tersebut kembali, dari ini disimpulkan bahwa istri wajib menunaikan hajat suami kecuali terdapat udzur syar’i, tatkala istri dalam keadaan sakit sehingganya tidak bisa untuk berhubungan intim atau ada udzur yang mencegah istri untuk mendatangi suaminya di tempat tidur.”

al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu

وعلى الزوجة طاعة زوجها إذا دعاها إلى الفراش، ولو كانت على التنور أو على ظهر قتَب، كما رواه أحمد وغيره، ما لم يشغلها عن الفرائض، أو يضرها؛ لأن الضرر ونحوه ليس من المعاشرة بالمعروف. ووجوب طاعتها له لقوله تعالى: {ولهن مثل الذي عليهن بالمعروف} [البقرة:228/ 2]

“Bagi istri wajib taat kepada suami ketika suami mengajak untuk berhubungan intim sekalipun istri dalam keadaan masak atau berada di atas pelana kuda. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh imam Ahmad dan ulama lainnya, wajib taatnya tersebut selama istri tidak dalam kewajiban yang lain atau akan menimbulkan bahaya, karena kondisi membahayakan tidak termasuk dalam kategori hubungan intim suami-istri yang baik. Dan kewajiban istri taat kepada suami berlandaskan firman Allah: “dan para wanita memiliki hak yang seimbang dengan kewajibannya, dengan cara yang benar.””

Dalam mu’asyaroh (Jima’) dengan istri ada tata yang ditetapkan oleh syariat seperti, tidak membahayakan bagi seorang istri, istri tidak senang dengan cara suami dalam melakukan hubungan badan. Karena, seperti dikatakan Ibn ‘Asyur dalam tafsirnya at-Tahriw wa at-Tanwir ketika menjelaskan wa ‘Aasyiruuhunna bi al-ma’ruuf, seyogyanya kedua belah pihak bisa merasakan kesenangan yang sama bukan malah kesenangan sebelah pihak. Ibn al-Jauzi dalam Kasyfu al-Musykil ‘ala Hadits as-Shahihayn

وَلَا يَنْبَغِي أَن يجتمعا إِلَّا على أحسن حَال لتدوم الْمحبَّة؛ فَإِن ظُهُور الْعُيُوب تسلي عَن المحبوب، وَيَنْبَغِي أَن يكون الْفراش قَرِيبا من الآخر ليجتمعا إِذا أَرَادَا وينفصلا إِذا شاءا. – إلى أن قال – قَالَ ابْن عَبَّاس: إِنِّي لأحب أَن أتزين للْمَرْأَة كَمَا تتزين لي، وَقَالَت بدوية لابنتها حِين أَرَادَت زفافها: لَا يطلعن مِنْك على قَبِيح، وَلَا يشمن إِلَّا طيب ريح.

“tidak selayaknya suami dan istri berhubungan intim kecuali dengan kondisi terbaik agar rasa kasih sayang menjadi kekal. Terlihatnya beberapa aib akan menghilangkan rasa kasih sayang. Dan hendaknya keduanya tidur berdekatan agar mudah jika ingin berhubungan dan mudah berpisah (ketika sudah selesai). Ibn ‘Abbas berkata: “saya sangat senang berhias untuk istri selayaknya istri berhias untuk saya.” Seorang perempuan badui berkata kepada putrinya tatkala melangsung resepsi perkawinan: “orang-orang tidak melihat sedikitpun kejelekan darimu dan tidak mencium bau kecuali harum.””

Penulis dapat menyimpulkan bahwa memang tidak ada penjelasan spesifik dalam ayat Al-Quran, hadis, atau pendapat ulama tentang konsep marital rape tersebut. Namun, dari berbagai penjelasan diatas, para ulama menekankan dua hal sekaligus yang tidak terpisahkan, pertama pentingnya ketaatan istri terhadap suami di satu sisi, dan kedua relasi suami-istri termasuk dalam persoalan hubungan seksual tidak boleh sampai membahayakan salah satu pihak atau mengganggu kewajiban yang sedang dilakukan.

Selain itu, istilah pemerkosaan (rape) dalam literatur keislaman biasanya digunakan tatkala hubungan intim dilakukan di luar pernikahan (zina). Sementara marital rape yang dibicarakan ini justru terjadi dalam lembaga pernikahan.

Ada beberapa hal yang selayaknya diperhatikan bagi seorang suami ketika mengajak istrinya dalam berhubungan intim, melakukannya dengan cara yang benar dan tidak ada unsur pemaksaan yang menyebabkan bahaya kepada perempuan. Ini agar tercipta hubungan yang menyenangkan kedua belah pihak dan tidak dalam keadaan udzur yang syar’i dan alasan-alasan yang sudah dipaparkan di atas.

Maka tanpa alasan di atas seorang istri wajib menunaikan hajat suami, bahkan selayaknya seorang istri bersolek secantik mungkin sebagaimana yang dilakukan istri Ibn ‘Abbas kepadanya dan sebaliknya. Wallahu A’lamu Bis Showab…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here