Adakah Dalil Sahih Tentang Doa Sebelum Azan?

10
26132

BincangSyariah.Com- Sebagian muazin di negeri kita ada yang membiasakan untuk bersalawat sebelum mengumandangkan azan. Bahkan ada juga yang mengawalinya dengan membaca Surah al-Ahzab ayat ke-56 terlebih dahulu, kemudian mengiringinya dengan salawat kepada Nabi Muhammad Saw. 

Hal ini mengundang pertanyaan dari sebagian umat Islam tentang ada tidaknya dalil yang sahih terkait dengan doa ataupun amalan tersebut. Kami mengira kalau maksud dari pertanyaan tersebut sepertinya diarahkan kepada ada atau tidaknya hadis sahih yang menjelaskan persoalan tersebut. Insyaallah tulisan ini akan mencoba untuk menguraikannya.

Pertama, hal yang perlu diluruskan terlebih dahulu adalah istilah dalil sahih dengan hadis sahih. Kedua istilah tersebut mempunyai konotasi yang berbeda, khususnya dalam proses istimbath al-ahkam (penggalian hukum Islam). Dalil menurut ahli Ushul Fikih tidak hanya melulu mengarah kepada teks-teks al-Quran dan Hadis, namun sebagian mereka ada yang memperluas cakupannya kepada beberapa hal lain seperti ijma (kesepakatan ulama dalam suatu masa tertentu terkait sebuah hukum agama), qiyas (penganalogian sebuah persoalan yang belum ada dalil teksnya kepada kasus lain yang sudah ada teksnya) dan lain sebagainya.

Bahkan tidak jarang juga sebagian mazhab-mazhab ulama dalam sejarah hukum Islam seperti mazhab Hanafi misalnya menggunakan sebuah perangkat dalil yang mereka sebut dengan istilah istihsan (yaitu proses mendahulukan sebuah ijtihad hukum yang tidak lazim terhadap suatu kasus yang serupa dengannya karena adanya alasan dan faktor-faktor tertentu yang menghendakinya). Begitu juga dengan mazhab Maliki yang menggunakan amalan penduduk Madinah sebagai dalil dan pertimbangan hukum karena menganggap apa yang mereka amalkan merupakan representasi dari apa yang dicontohkan Nabi terhadap mereka.

Begitu juga dengan mazhab Syafii dan Hambali, masing-masing mempunyai perangkat ijtihad yang berbeda-beda sesuai dengan metodologi ijtihad yang mereka rumuskan, karena mereka memang mempunyai kapasitas untuk itu dan kapasitas mereka diakui oleh umat Islam setelahnya. Sehingga oleh karena itu, mengkhususkan istilah dalil hanya kepada teks al-Quran dan Hadis (apalagi hanya kepada hadis yang sahih saja) merupakan sebuah kekeliruan, karena dalil adalah setiap perkara yang bisa mengantarkan seseorang kepada apa yang dia tuju dari hukum-hukum agama, baik berupa al-Quran, Hadis, Ijmak, Qiyas, dan lain sebagainya.

Kedua, seandainya yang dimaksud oleh penanya di atas adalah ada tidaknya hadis yang sahih tentang landasan dari tradisi bersalawat kepada Nabi sebelum azan, maka jawabannya adalah tidak ada. Karena sebagian besar ahli hadis menilai hadis yang digunakan sebagian ulama sebagai landasan atas tradisi tersebut adalah bermasalah secara sanad. Hadis yang mereka gunakan adalah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Thabarani dalam Mujam al-Ausath-nya sebagai berikut :

Baca Juga :  Membiarkan Najis di Masjid, Apakah Berdosa?

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ : كَانَ بِلَالٌ إِذَا أَرَادَ أَنْ يُقِيمَ الصَّلَاةَ قَالَ : السَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ، الصَّلَاةَ رَحِمَكَ اللَّه.

Dari Abi Hurairah, ia berkata : Sahabat Bilal biasanya ketika akan mengumandangkan iqamah salat (ada juga yang memahaminya sebagai azan) membaca salawat berupa, “Keselamatan untukmu wahai Nabi Muhammad Saw dan rahmat serta kasih sayang Allah. Kita akan salat, semoga Allah merahmatimu”.

Hadis ini menurut al-Haitsami termasuk hadis yang bermasalah, karena di dalam rangkaian sanadnya terdapat seorang perawi yang bernama Abdullah ibn Muhammad ibn al-Mughirah, seorang yang berasal dari Kufah dan pernah menetap di Mesir selama beberapa saat. Ia dianggap lemah oleh para kritikus hadis. Imam al-Daruquthni ditanya oleh al-Sulami terkait kepribadian Abdullah ibn Muhammad, beliau menjawab kalau ia adalah seorang perawi yang dhoif (lemah). Ibn Hajr al-Atsqalani dalam karyanya Lisan al-Mizan juga menyebutkan bahwa ia pernah meriwayatkan beberapa hadis yang tidak diketahui sumbernya.

Selain mereka, Abu Hatim, Ibn Yunus, dan al-Nasai juga menganggapnya sebagai rawi yang tidak kredibel. Ali al-Madini mengatakan bahwa ada beberapa hadis yang ia riwayatkan secara tunggal dari Sufyan al-Tsauri dan Malik ibn Mighwal (artinya riwayatnya tidak didukung oleh riwayat lain yang serupa). Namun Ibn Adi, seorang kritikus hadis yang juga tidak kalah populernya dalam dunia penelitian hadis, berpendapat bahwa hadis-hadis Abdullah ibn Muhammad ibn al-Mughirah seringkali tidak diperkuat oleh jalur-jalur yang lain, namun sekalipun lemah hadis-hadisnya tetap bisa ditulis (dirujuk).

Selain hadis di atas, ada lagi hadis lain yang mempunyai redaksi yang hampir mirip dan identik. Hadis ini pernah dikutip oleh Imam al-Suyuthi dalam karyanya Jami al-Ahadits sebagai berikut :

كان بلال إذا أذن يأتى النبى صلى الله عليه وسلم فيقول السلام عليك يا رسول الله الصلاة يا رسول الله حى على الصلاة حى على الفلاح يا رسول الله.

Adalah Bilal ketika azan, ia mendatangi Nabi Muhammad Saw sembari mengucapkan salam kepadanya. Lalu Bilal berkata : Salat akan didirikan wahai Rasul, marilah salat dan menuju kebahagian wahai utusan Allah.

Hadis ini juga tergolong bermasalah, namun tidak separah hadis yang sebelumnya. Salah seorang perawinya yang bernama Kamil Abu al-Ala didhoifkan oleh Ibn Hibban dan al-Nasai, namun Ibn Main menganggapnya sebagai rawi yang tsiqah (terpercaya/kredibel). Begitu juga dengan Ibn Adi mengatakan bahwa beliau lebih cenderung menganggapnya sebagai rawi yang kredibel, sekalipun ada sebagian dari riwayatnya yang dianggap bermasalah. Ibn Hajar memilih pendapat yang menyebutkan bahwa ia adalah seorang perawi yang shaduq (jujur) sekalipun kadang sering keliru dalam meriwayatkan hadis.

Baca Juga :  Apakah Hidupkan Malam Nisfu Sya’ban Bid’ah?

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa secara kualitas hadis yang kedua ini memiliki kualitas yang lebih baik dari hadis yang pertama dan bahkan cenderung dapat memperkuat makna hadis yang pertama. Sekalipun hadisnya dhoif karena ada perawi yang bermasalah, yaitu Kamil Abu al-Ala, namun kedhoifannya tidak terlalu parah dan bahkan dianggap kredibel oleh beberapa kritikus handal yang lain seperti Ibnu Main, Ibn Adi dan Ibn Hajr al-Astqalani dalam karyanya Lisan al-Mizan. Sekalipun hadis pertama tidak bisa digunakan karena tingkat kedhoifannya yang terlalu parah, maka hadis kedua ini dapat dijadikan landasan.

Ketiga, ketika sudah diketahui bahwa dalil tradisi bersalawat sebelum azan tersebut bersumber dari hadis dhoif, namun tidak terlalu parah, lantas bolehkan kita menggunakannya sebagai referensi hukum. Jawabannya adalah boleh-boleh saja selama hadis itu tidak berbicara tentang masalah akidah ataupun putusan halal dan haram atau yang sering disebut dengan fadhoilul amal (hadis tentang fadilah dan keutamaan-keutamaan). Ibn Hajar al-Haitami dalam kitab al-Durr al-Mandhud pernah mengutip pendapat sebagai berikut :

وقد اتفق الأئمة من المحدثين والفقهاء وغيرهم كما ذكره النووي وغيره على جواز العمل بالحديث الضعيف في الفضائل والترغيب والترهيب، لا في الأحكام ونحوها ما لم يكن شديد الضعف.

Artinya : Para imam dari kalangan ahli hadis dan ahli fikih telah sepakat, sebagaimana yang disebutkan juga oleh Imam al-Nawawi dan lainnya, tentang bolehnya beramal dengan hadis dhoif dalam hal fadhail (keutamaan-keutamaan), anjuran kebaikan dan ancaman keburukan. Tidak dalam perkara yang berkaitan dengan hukum halal dan haram, selama tingkat kedhoifannya tidak terlalu parah.

Hadis dhoif pada hakikatnya bukanlah hadis maudhu (palsu) yang harus ditolak atau dibuang sama sekali. Maka sangat naif kiranya kalau ada seseorang yang begitu entengnya membuang hadis dhoif seolah-olah ia bukan (tidak tergolong) sebagai hadis Nabi sama sekali. Sementara itu di sisi lain, tidak terhitung banyaknya ulama yang mengamalkan hadis-hadis dhoif selama kedhoifannya tidak terlalu parah dan tidak mempunyai hadis pendukung dari jalur atau sanad yang lain. Berikut penulis kutipkan beberapa pendapat ulama terkait hal tersebut :

Pertama, Imam Nawawi dalam Fatawa-nya menyebutkan bahwa adanya kesepakatan di kalangan ulama terkait bolehnya mengamalkan hadis dhoif untuk hal-hal yang tidak berkaitan dengan akidah dan hukum halal dan haram. Kedua, boleh mengamalkannya secara mutlak dalam persoalan hukum ketika tidak ditemukan lagi hadis sahih yang bisa dijadikan sebagai sandaran. Pendapat ini dinisbatkan kepada Imam Ahmad ibn Hambal dan Abu Daud. Selain itu, Imam Abu Hanifah dan Ibn Qayyim al-Jauziyyah juga mengutip pendapat yang sama.

Baca Juga :  Hukum Merangkap Menjadi Muadzin dan Imam

Ketiga, hadis dhoif boleh diamalkan jika ia tersebar secara luas dan masyarakat menerimanya secara umum tanpa adanya tolakan yang berarti (talaqqathu al-ummah bi al-qabul). Keempat, boleh mengamalkannya ketika hadis dhoif tersebut didukung oleh jalur periwayatan lain yang sama atau lebih kuat secara kualitas darinya, sebagaimana yang ditampilkan oleh Imam al-Tirmidzi pada banyak hadis dalam karyanya Sunan al-Tirmidzi dan juga seperti apa yang sudah penulis munculkan pada bahasan terkait kedua hadis di atas.

Keempat, bagaimana pendapat ulama fikih tentang tradisi bersalawat sebelum azan tersebut? Ternyata mereka juga berbeda pendapat, ada yang membolehkan, ada yang menyunahkan, dan ada juga yang tidak menganjurkannya sama sekali. Barangkali perbedaan pendapat itu muncul dari perbedaan mereka dalam menilai hadis-hadis di atas. Ada yang hanya berpegang kepada hadis yang pertama sehingga mereka tidak menganjurkannya karena landasannya tidak kuat disebabkan derajat hadisnya yang sangat lemah. Kemudian ada yang berpegang kepada hadis yang kedua, sekalipun dhoif tapi tidak terlalu parah serta masih bisa diterapkan karena tidak berkaitan dengan masalah akidah dan hukum halal dan haram.

Di antara ulama yang membolehkan adalah para ahli fikih dari kalangan Syafiiyyah belakangan seperti Zainuddin al-Malibari dalam karyanya Fath al-Muin dan menisbatkan pendapat tersebut kepada Imam al-Nawawi dalam karyanya Syarh al-Wasith (sekalipun Syekh al-Syibramilisi, sebagian ulama syafiiyah yang lain membantah penisbatan itu dalam karyanya Hasyiyah Nihayah al-Muhtaj). Begitu juga Sayyid Abu Bakr ibn Muhammad Syatha dalam karyanya Ianah al-Thalibin, bahkan beliau menganggapnya sebagai sebuah kesunahan. Namun Ibn Hajr al-Haitami dalam karyanya al-Fatawa al-Fiqhiyyah al-Kubra mengakui belum menemukan pendapat ulama terkait dengan masalah itu.

Sehingga dengan demikian, dapat dipahami bahwa persoalan ini tergolong sebagai salah satu persoalan khilafiyah (perbedaan pendapat) di kalangan ulama. Setidaknya dengan memahami dalil dan perbedaan pemahaman mereka bisa membuat kita untuk bersikap lebih bijak dan arif dalam menilai perbedaan sehingga tidak tergesa-gesa dalam menilai salah atau benarnya sebuah perbuatan sebelum merujuk dalil dan landasan yang mereka gunakan terlebih dahulu. Satu hal yang perlu kita ingat selalu adalah bahwa tidak ada istilah bidah dalam persoalan yang masuk dalam ranah perbedaan pendapat (khilafiyah ulama). Allahu Alam.

10 KOMENTAR

  1. dari judulnya saja sudah bermasalah..adakah DALIL SHOHIH tentang doa sebelum azan.?
    jawabnya JELAS TIDAK ADA…maka sebaiknya jangan menguatkan pendapat dengan membolehkan nya memakai hadits dhoif..walaupun

  2. emang berdoa perlu dalil ya, saya kira kapan dan dimana saja boleh berdoa pada YME ? sebelum itu berapa menit atau berapa jam sebelumnya? atau adakah larangannya?

  3. Karena tuntunan yg Shahih tiada alangkah baiknya langsung Adzan saja bila waktunya telah tiba, daripada hanya mengerjakan yg kosong tanpa tuntunan dari Beliau SAW yang Shahih mendingan mengerjakan yg jelas & pasti saja sesuai Dalilnya, memang mrk kelompok Syafi’iyah Indonesia cenderung dng Ijma & tradisi Ulama daripada Keshahihan Hadits, sehingga ALLAH SWT dan Rasulullah SAW seolah-olah dikesampingkan/dinomor-duakan.

  4. Assalamualaikum..
    Bukankah Allah telah mengajarkan kita..mana yg baik..mana yg buruk..
    Apakah salah kita berdoa sejenak sblum adzan..bukan kah itu prbuatan baik…
    Wassalam..

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here