Adab Memenuhi Undangan Menurut Ulama

0
93

BincangSyariah.Com – Artikel kisah cucu Nabi Saw. makan bersama orang miskin di pinggir jalan adalah bagian dari kisah keteladanan yang dicontohkan oleh Imam al-Ghazali terkait adab memenuhi undangan, yaitu tidak memilih berdasarkan strata ekonominya. Selain tidak memisahkan antara undangan yang diberikan oleh yang kaya dengan yang miskin, ada sekian adab-adab menerima undangan lainnya yang disampaikan oleh al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulumuddin (j. 2 h. 20-21).

Pertama, tidak mempersoalkan jarak, sebagaimana tidak mempersoalkan kefakiran dan kedudukan yang mengundangnya.Walaupun jaraknya jauh, kata al-Ghazali, mesti ditempuh selama yang secara kebiasaan masih wajar untuk ditempuh. Sebenarnya al-Ghazali dalam Ihya’ melandaskan pandangannya pada hadis. Tapi saya mau mengutip kutipan – yang tak kalah bagus pesannya – yang menurut al-Ghazali usut punya usut bersumber dari kitab Taurat,

سر ميلا عد مريضا، سر ميلين شيع جنازة، سر ثلاثة أميال أجب دعوة، سر أربعة أميال زر أخا في الله

berjalanlah satu mil untuk menjenguk orang sakit, jalanlah dua mil untuk mengantarkan jenazah ke peristirahatan terakhir, jalanlah tiga mil untuk memenuhi undangan, dan jalanlah empat mil untuk mengunjungi saudara sesama makhluk Allah.

Kedua, tidak menolak undangan dengan alasan sedang berpuasa. Dengan catatan, puasanya adalah puasa sunnah. Bahkan, jika yang mengundang bisa merasa senang ketika kita menikmati hidangannya, maka niatkanlah memberikan kebahagiaan kepada hati saudara kita dengan membatalkan puasa tersebut dan memakan hidangannya. Bahkan, dalam satu riwayat Rasulullah sendiri menasihati orang yang malah menyatakan « saya puasa » ketika diundang seseorang dengan sabdanya,

تكلف لك أخوك وتقول: “إني صائم”

saudaramu sudah bersusah payah untukmu dan kamu (malah) berkata “saya puasa” !? (H.R. al-Baihaqi).

Baca Juga :  Allah Mengecam yang Mengolok-Olok Rasulullah, Tapi…?

Ketiga, boleh menolak undangan jika mengetahui kalau makanan atau tempat atau fasilitas yang digunakan itu status halal haramnya masih dipertanyakan. Atau misalnya, diadakan di tempat-tempat yang penuh kemunkaran. Atau misalnya, yang mengundang adalah orang fasik, orang zalim, atau orang yang mengundang tapi niatnya ingin mendapatkan popularitas atau kebanggaan.

Keempat, memenuhi undangan murni karena ingin memenuhi syahwat duniawi belaka, misalnya tergoda dengan makanan yang enak. Menurut al-Ghazali, agar bisa mendapatkan keutamaan kesunahan bertamu, yaitu : 1) murni niatkan mengikuti sunnah Rasulullah dalam bertamu ; 2) niatkan agar tidak jatuh dalam kondisi bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya karena tidak memenuhi undangan ; 3) niatkan memuliakan saudara sesama muslim ; 4) niatkan memberikan kebahagiaan ke hati tuan rumah yang mengundah ; 5) dan niatkan dengan mengunjungi tuan rumah bisa terjalin hubungan yang baik lillahi ta’ala.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here