Adab Bertamu Menurut Alquran

2
752

BincangSyariah.Com – Bertamu adalah kegiatan yang lumrah dilakukan oleh banyak orang. Apalagi sebagai orang Indonesia yang karakternya hobi ngumpul dan ngobrol-ngobrol. Tidak heran jika ada peribahasa Jawa “mangan orang mangan asal ngumpul”, artinya tetap bersama meskipun susah.

Tetapi, bagaimana Islam mengajarkan adab bertamu, khususnya yang diajarkan dalam Alquran? Tulisan ini akan mengangkat satu ayat Alquran yang membahas tentang adab bertamu, yakni ketika para sahabat bertamu pada Rasulullah saw.

Diriwayatkan dari Anas bin Malik dalam kitab Sahih Bukhari dan Muslim, bahwa ketika Rasulullah saw menikahi Zainab binti Jahsy, beliau mengundang para sahabat untuk menghadiri jamuan makan di rumahnya. Para sahabat kemudian datang dalam rangka tahniah (ikut gembira/mengucapkan selamat) kepada Rasulullah saw. Seluruh tamu yang datang dipersilakan makan dan minum sambil berbincang-bincang.

Ketika makanan yang terhidang sudah habis, sebagian sahabat masih asyik berbincang. Lama sekali mereka tidak beranjak, hingga Rasulullah nampak seakan bersiap ingin beranjak. Gerak-gerik Rasulullah ini agaknya tidak disadari, sehingga mereka tidak bergeming dan terus melanjutkan obrolan. Melihat hal ini, Rasul pun beranjak. Beberapa sahabat akhirnya juga ikut beranjak seraya pamit pulang, dan menyisakan tiga orang sahabat. Tidak diriwayatkan siapa saja sahabat yang dimaksud.

Akhirnya Rasul pun keluar hingga akhirnya kembali duduk bersama tiga sahabat tadi. Beberapa saat kemudian, Rasul masuk kembali ke kamar, namun ternyata mereka masih saja duduk dan berbincang. Akhirnya ketiga sahabat ini pun berpamitan dan Anas bin Malik, saksi yang meriwayatkan hadis ini, memberitahu Rasulullah bahwa semua sahabat telah pergi.

Atas kejadian ini, turunlah Q.S Al-Ahzab: 53,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَدْخُلُوا بُيُوتَ النَّبِيِّ إِلَّا أَنْ يُؤْذَنَ لَكُمْ إِلَى طَعَامٍ غَيْرَ نَاظِرِينَ إِنَاهُ وَلَكِنْ إِذَا دُعِيتُمْ فَادْخُلُوا فَإِذَا طَعِمْتُمْ فَانْتَشِرُوا وَلَا مُسْتَأْنِسِينَ لِحَدِيثٍ إِنَّ ذَلِكُمْ كَانَ يُؤْذِي النَّبِيَّ فَيَسْتَحْيِي مِنْكُمْ وَاللَّهُ لَا يَسْتَحْيِي مِنَ الْحَقِّ وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعًا فَاسْأَلُوهُنَّ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ ذَلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ وَمَا كَانَ لَكُمْ أَنْ تُؤْذُوا رَسُولَ اللَّهِ وَلَا أَنْ تَنْكِحُوا أَزْوَاجَهُ مِنْ بَعْدِهِ أَبَدًا إِنَّ ذَلِكُمْ كَانَ عِنْدَ اللَّهِ عَظِيمًا

Baca Juga :  Ternyata Ada Habib yang Tak Dikasihi Rasulullah, Siapa Mereka?

Wahai orang-orang beriman, janganlah kalian memasuki rumah Nabi kecuali jika kalian diizinkan untuk makan tanpa menunggu waktu masak (makanannya), tetapi jika kamu dipanggil maka masuklah dan apabila kalian telah selesai makan, keluarlah kalian tanpa memperpanjang percakapan. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mengganggu Nabi sehingga dia (Nabi) malu kepada kalian (untuk menyuruh keluar), dan Allah tidak malu (menerangkan) atas yang benar. Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. (Cara) yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka. Dan tidak boleh kamu menyakiti (hati) Rasulullah dan tidak boleh menikahi istri-istrinya selama-lamanya setelah (Nabi wafat). Sungguh, yang demikian itu sangat besar (dosanya) di sisi Allah.

Meskipun ayat di atas memiliki banyak dimensi yang dapat dijelaskan, akan tetapi penulis ingin menekankan pada aspek pertama, yang dibahas dalam tulisan ini, adab bertamu. Menurut Syekh al-Jazairi dalam kitab Aysar al-Tafasir, salah satu hikmah dari ayat di atas adalah adab bertamu, memohon izin ketika masuk dan sesuai dengan kadar keperluannya.

Melihat dari redaksi ayat, tampak bahwa Rasul sebagai tuan rumah merasa sungkan untuk mempersilahkan para tamunya agar segera pulang. Oleh karena itu, si tamulah yang seharusnya  sadar dan tidak berlama-lama di rumah orang lain, khawatir mengganggu yang punya rumah. Wallahu A’lam.    



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

2 KOMENTAR

  1. Pa ustat saya mau tanya di kalau kita bertamu dan bertamu pun dh orang” non muslim . Namunn dh stu mereka mnyediakn maknn halal akn tetapi mereka masak makn yang harm dh alat peraltn yng sma apahkah maknn yng kita makn haram atau ka tdk

  2. Pa ustad saya mau tanya di kalau kita bertamu dan bertamu pun dh orang” non muslim . Namunn dh stu mereka mnyediakn maknn halal akn tetapi mereka masak makn yang harm dh alat peraltn yng sma apahkah maknn yng kita makn haram atau ka tdk

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here