Adab Bercerai Menurut Imam al-Ghazali

0
31

BincangSyariah.Com – Perceraian memang hal yang diperbolehkan dalam agama. Akan tetapi tak sedikit ulama yang menyatakan bahwasanya percerian merupakan salah satu dari sekian kebolehan yang dibenci oleh Allah Swt. Adapun alasan dibencinya hal tersebut, menurut Imam Abu Hamid al-Ghazali ialah karena dari perceraian terdapat perilaku yang berpeluang besar menyakiti hati orang lain. Oleh karena itu, Imam al-Ghazali menjelaskan adab bercerai agar tidak menyakiti hati pasangan.

Islam memberikan aturan bahwasanya yang dapat menjatuhkan talak cerai hanyalah suami. Akan tetapi meski istri tidak diberikan kesempatan untuk menjatuhkan talak kepada suami, Islam tetap memberi kesempatan baginya untuk mengajukan cerai (khulu’). (Baca: Enam Keadaan Istri Boleh Meminta Cerai Kepada Suami)

Adab Bercerai bagi Suami

Mengingat talak hanya bisa dijatuhkan oleh suami, maka suami harus menjaga adab bercerai supaya jangan sampai ia melukai sang istri. Berikut adalah beberapa adab yang perlu untuk dijaga oleh mereka yang hendak menjatuhkan talak kepada istrinya, sebagaimana disebutkan oleh Imam al-Ghazali dalam kitab Ihya ‘Ulumiddin.

Pertama, menjatuhkan talak ketika sang istri pada masa suci, yang pada masa suci itu belum terjadi persetubuhan di antara keduanya. Karena apabila talak dijatuhkan pada masa haid atau pada masa suci yang telah terjadi hubungan badan, maka akan membuat masa ‘iddah perempuan berlangsung lebih lama, sehingga dapat semakin memberatkan bagi perempuan.

Diceritakan bahwa Ibnu Umar pernah menjatuhkan talak kepada istrinya yang masih berada pada masa haid. Ketika mendengar berita tersebut, Rasulullah Muhammad Saw. memberikan instruksi kepada Sayyidina Umar supaya memberitahu anaknya untuk merujuk kembali istrinya, lantas menunggu beberapa saat jika besikeras tetap ingin mentalaknya.

مُرْهُ فَلْيُرَاجِعْهَا ثُمَّ يُمْسِكُهَا حَتَّى تَطْهُرَ ثُمَّ تَحِيْضُ، ثُمَّ إِنْ شَاءَ أَمْسَكَهَا وَإِنْ شَاءَ طَلَّقَهَا قَبْلَ أَنْ يَمَسَّ، فَتِلْكَ العِدَّةُ الَّتِي أَمَرَ اللهُ أَنْ يُطَلَّقَ لَهَا النِّسَاءُ

 “Perintahlah ia supaya merujuk istrinya, kemudian menahannya hingga masa suci, lalu haid lagi. Kemudian bila jika ia menghendaki, ia boleh menahannya. Bila ia menghendaki, ia boleh mentalaknya sebelum ia menyetubuhinya. Itulah masa yang diperintahkan Allah untuk menceraikan istri.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Adapun faidah dari perintah Nabi untuk bersabar menanti selama dua kali masa suci setelah merujuk istri ialah supaya tujuan dari rujuk itu bukan hanya untuk mentalak kembali semata. Juga memberikan kesempatan ketika ingin mengurungkan niatnya untuk bercerai. 

Kedua, mencukupkan dengan talak satu saja, serta tidak mengumpulkan tiga talak dalam satu ucapan. Karena sebenarnya dengan talak satu saja sudah bisa menyampaikan apa yang dimaksud, yakni bercerai.

Selain itu juga dapat diambil faidah untuk merujuknya setelah selesainya masa ‘iddah, jikalau seorang suami tadi merasa menyesal atas talak yang telah dijatuhkannya, dan istri bersedia menerimanya.

Berbeda halnya apabila langsung dijatuhkan tiga talak sekaligus, selain dapat lebih menyakiti hati perempuan, juga akan membutuhkan proses yang lebih panjang untuk dapat merujuknya. 

Ketiga, lemah lembut dalam menjatuhkan talak maupun menyampaikan alasan. Bukan dengan cara kasar dan bengis, sehingga dapat melukai perasaan seorang istri. Lebih lanjut Imam al-Ghazali menambahkan bahwa, hendaknya suami memberikan hadiah perpisahan kepada istrinya, sebagai pelipur lara dan penghibur atas rasa sakit yang diderita oleh istri akibat perceraian.

Kita semua paham, bahwa perpisahan dengan seorang yang dikasihi merupakan hal yang sangat menusuk perasaan. Sehingga sudah selayaknya, seorang lelaki yang baik, memberi pelipur lara kepada orang yang telah berjasa kepadanya dan menemani hari-harinya.

Keempat, tidak membuka rahasia istri setelah keduanya berpisah. Hal ini juga berlaku ketika keduanya masih berada dalam ikatan pernikahan. Kita tentu dapat memahami bahwasanya menceritakan rahasia pasangan–terlebih menceritakan aibnya–, merupakan sebuah penghianatan di antara dua insan yang sudah saling berjanji. Adab ini sejalan dengan yang sabda Nabi Muhammad Saw. (Baca: 6 Kondisi Dibolehkan Membuka Aib Orang Lain)

إِنَّ أَعْظَمَ الخِيَانَةِ عِنْدَ اللهِ يَوْمَ القِيَامَةِ الرَّجُلُ يُفْضِي إِلَى امْرَأَتِهِ وَتُفْضِي إِلَيْهِ ثُمَّ يُفْشِي سِرَّهَا.

“Sesungguhnya penghianatan terbesar di hadapan Allah pada hari kiamat kelak ialah seorang lelaki yang.” (H.R. Muslim)

Oleh karenanya, pantas saja apabila orang-orang saleh pada zaman dahulu hendak bercerai dengan istrinya, lantas ada orang yang bertanya terkait hal yang membuatnya ragu hingga menceraikan istrinya, maka mereka menjawab, “Orang berakal tidak mungkin membuka rahasia pasangannya!”

Selain itu, jika ditanya menyangkut alasan perceraian, Imam al-Ghazali menegaskan bahwa orang saleh tak mungkin menyebarkan alasan itu. Wallahu a’lam bish shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here